Kamis, 30 Mei 2013

Reality Show: 'Jomblo Lagi'

Di perjalanan pulang tadi lagi ngobrol soal 'Jadi Apa Kita Di Masa Depan' sama Uti. Begini kira-kira percakapannya:

"Kali aja lo jadi pemain sinetron Ul.." | "Mana ada.." | "Ya kan mungkin aja. Atau reality show. Judulnya, 'jomblo lagi'.." | "Di tiap akhir episodenya gue ngomong gitu ya? Yaah jomblo lagi deeh.." | *ketawa* *semangat* * minta ditimpuk sendal* "Iyaaa.." | "..."

Jatinightmare

Gue emang penakut..
Dan kalo nggak ada temennya mungkin gue nggak bakalan berani pergi ke acara 'ginian'.
"Kak, aku boleh minta foto bareng nggak?"
Kemarin gue, Siddhi, Tata, sama Uti dateng ke event yang diselenggarakan anak FIKOM (Fakultas Ilmu Komunikasi). Event yang diberi nama 'JATINIGHTMARE' ini bertema horror dan menyediakan rumah hantu yang boleh dimasuki gratis oleh pengunjung.
Di event ini banyak mahasiswa dengan kostum dan dandanan hantu berkeliaran, mungkin semacam minta diajakin foto bareng. Baiklah, demi menyenangkan para 'hantu' maka kami pun jeprat jepret sana sini. #BilangAjaEmangBanciKamera
Mbak yang nari itu gerakannya luwes banget loh. Trus Mas yang itu, tiba-tiba muncul di antara pengunjung.. -_-"
Selama acara berlangsung pengunjung diminta untuk memecahkan teka-teki dari kasus yang sudah disiapkan oleh panitia. Kasus ini ada petunjuknya tersebar dimana-mana. Bahkan di rumah hantu, tapi karena sibuk teriak-teriak ketakutan gue ga paham di bagian mana petunjuk di rumah hantunya.
-________-"
Tata, hantu-pun dimodusin.. Tetep yee..
Bahkan ada satu petunjuk yang mewajibkan kita buat foto dulu sama hantunya sebelum diperbolehkan buat ngeliat..
Om-om yang jadi hantu ini di foto doang sangar, aslinya baik kok :)
Sebenarnya tujuan gue dateng ke acara ini adalah nonton alias screening film-film yang udah gue intip teaser-nya di youtube. Entah karena apa, screening film-nya ngaret sejam. Sejam broh!

Yasudah, mari lanjut foto-foto saja..
Entah ide siapa ini~

Ini juga~
Masih menunggu screening film..
Siddhi lucu yaaa.. :3
Karena screeningnya luama sekali nunggunya..
Tata memiliki ide cemerlang..
LESEHAN sodara-sodaraaa~
Awalnya kita cuma berempat yang lesehan..
Trus nggak sampe sepuluh menit kemudian, lapangan tempat acaranya penuh dengan orang lesehan.. #TataTrendsetter #TrendsetterLesehan

Pas screening, filmnya seru banget ga pake bohong!
Ceritanya bagus dan endingnya nggak ketebak..
Sayangnya di tengah-tengah acara maag gue rewel.
Lalu pas gue ijin pulang, tiga manusia lain yang baik hati ini ngotot ikutan pulang juga.
:')

Di tengah jalan pulang,
Tata nyeletuk, "Mungkin tegangan di acara tadi terlalu besar buat lo Ul.. Mungkin emang secara nggak sadar lo ketakutan.."

ASSSYEEEEM~

Senin, 27 Mei 2013

The way to a man's heart

Seorang teman petang ini me-retweet tulisan sebuah akun twitter yang tidak akan gue sebutkan namanya.

"Ada gitu ya cewek yg bangga menyatakan dirinya nggak bisa masak. Kenapa? Biar keliatan hidupnya enak karena tinggal makan?"

Menanggapi tentang 'cewek yang nggak bisa masak' gue punya pendapat berbeda.

Setau gue, tuntutan untuk perempuan terbagi dua, nature dan nurture.
Nature itu maksudnya ya alami, sudah ditakdirkan sama Tuhan.
Perempuan memiliki rahim, bisa mengandung dan melahirkan termasuk dalam tuntutan nature.
Nurture artinya bukan sesuatu yang ditakdirkan alias buatan manusia, bisa jadi karena tuntutan kultur atau norma yang berlaku di masyarakat.
Perempuan harus diam di rumah, ngurus dapur, masak, merawat anak termasuk dalam tuntutan nurture.

Perempuan harus bisa masak itu termasuk tuntutan budaya.
Nggak ada bagian fisik perempuan yang membuat mereka punya kelebihan dalam hal masak-memasak dibandingkan dengan laki-laki.

Nggak percaya? Liat acara masak yang chef-nya laki-laki. Secara objektif, mereka jauh lebih jago masak dibandingkan sama Mam. Meskipun gue pasti lebih suka masakan Mam sih, hehe.

Fakta lain juga menunjukkan bahwa nggak semua laki-laki menuntut perempuannya untuk bisa memasak.
Meskipun laki-laki dengan kriteria ini bisa dibilang jarang di Indonesia yang masih menganut ajaran, "Ayah pergi ke kantor, Ibu pergi ke pasar."

Tetangga gue, Ayahnya lulusan NHI dan jago banget masak. Macaroni Schotel buatannya makanan dari surgaaaaa~. Ibunya seorang jaksa yang kerja tiap hari dan termasuk dalam nominasi ibu paling sibuk versi on the spot. Dan sepenglihatan gue, mereka baik-baik aja kok.

Tapi memang, kalau lo seorang ibu dan bisa memasak maka lo bisa mengontrol makanan apa aja yang dimakan oleh suami dan anak-anak lo tersayang. Lo juga bisa menghitung asupan gizi dan nutrisi mereka. Pilihannya kembali ke lo, untuk meng-handle sendiri hal tersebut dengan memasak atau meng-hire orang lain yang memang ahli.

Terakhir, mengutip sebuah proverb lawas yang sering dijadikan Mam alasan untuk memaksa gue belajar masak: "The way to a man's heart is through his stomach.."

Minggu, 26 Mei 2013

Passer Baroe

Jum'at-Sabtu-Minggu kemarin Alhamdulillah diberikan kesempatan untuk memeluk orang-orang kesayangan di rumah. Rasanya berada di tengah orang-orang yang tulus mendukung kita memang refreshing yang nggak ada duanya.

Hari Sabtu kami sekeluarga menghabiskan waktu di Passer Baroe. Biasanya disebut Pasar Baru tapi entah kenapa gue lebih suka nulis Passer Baroe soalnya kesannya lebih vintage gimana gitu. #apasih

Menurut wikipedia Passer Baroe ini dibangun pada tahun 1820 waktu Jakarta masih bernama Batavia. Segala tentang Passer Baroe monggo di-googling aja ya..

Cuma dua hal, yang selalu bikin gue terus-terusan balik ke Passer Baroe.

1. Es Sari Salju 899
Ini gelas ketiga :')
 Katanya sih ini es krim tradisional. Jangan mikir kalo esnya bakalan keras atau masih bercampur sama bunga es yang bikin tekstur lembutnya jadi rusak.
HELL NO!

Es Sari Salju ini somehow esnya beneran lembut kinyis kinyis kayak salju. Ngg.. Gue belom pernah makan saljur beneran tapi ya maksudnya teksturnya cantik.

Isinya ada tape, pepaya (yang gue ga paham itu diolah gimana jadi enak!), dan kacang merah/ijo. Trus dikasi susu kental manis.


Terus gue juga gatau kenapa gabisa cuma beli segelas, semacam gelasnya bocor, atau emang ada narkoba yang bikin es ini jadi nagih! #PadahalEmangDoyan

Bayangin, tiap lima menit sekali lo balik ke penjualnya dan bilang, "Bang es nya satu ya.."
Gue rasa si Abangnya akan merasa seperti dejavu melihat gue beli beberapa kali.
Atau malah dia mikir gue semacem kuntilanak yang minum es trus keluar dari punggung.
Entahlah, oiya yang mau artikel tentang Es Sari Salju bisa klik disini 

2. Somay/Siomay Sepeda
Ngg.. Somaynya tetep somay ikan kok. Bahannya ikan sama tepung, bukan sepeda sama tepung. #GaringWoy

Di Passer Baroe dulu gue punya langganan somay dari balita, muka bapaknya gue hafal sampe sekarang.

Terakhir ketemu bapak itu kayaknya setaun lalu. Pas beliau cerita anak sulungnya udah kerja, anaknya yang lain masih kuliah, dan sekolah. Beliau membiayai anak-anaknya ya dari jualan somay ini.

Pas kemarin kesana yang jual mas-mas. Somaynya masih enak, gue bahkan sampe abis dua porsi. Kalo ngga enak ngga mungkin gue nambah, kan? #IyainAja

Pas lagi makan, Mam dengan polosnya nanya, "Mas ini somaynya dari ikan tenggiri kan? Bukan ikan sapu-sapu?"
And I was like, -__________________-"

Trus pas lagi makan Pap ngobrol sama masnya, beliau tinggal di daerah Mangga Dua. Setiap hari naik sepeda dari Mangga Dua ke Passer Baroe buat jual somay.
Pas gue tanya Mangga Dua - Passer Baroe itu sejauh apa,
dengan polosnya dia jawab: "Yaaa setengah jam naik sepeda lah kira-kira non.."

Pap senyum pas liat gue melongo denger jawaban Mas-nya. Iya, Pap emang biasanya paling jago baca pikiran gue. Baiklah, ini yang ada dalam kepala gue:

Beliau goes sepeda setengah jam tiap pagi, jualan panas-panas, pulang lagi dengan kemungkinan somaynya ngga abis dan masih harus keliling jual sisa somaynya.

Gue ke kampus naik angkot padahal deket, ruang kelas ber-AC, dan Alhamdulillah ngga mikirin soal dapet uang darimana. Rasanya kayak tercubit dan dapet booster buat lebih semangat kuliah lagi. 

Semangat semangat!!

Jumat, 24 Mei 2013

Just a guy from primary school

There was a guy, not a smart one, not a popular one.
But he's cute, the way he smiled, the way he drew Titanic ship with many rulers on his desk. Gosh, I simply admired his drawings!

His hair, his nose, his glasses.

I didn't know what secret admirer means before I got him taking my pictures using his camera one day. I was upset and happy in the same time.
I asked him to give every picture he took. Every single picture of it.

He didn't know that I kept all of it.
He didn't know that until now,
I can't resist not to smile every time I look at the picture and enjoy the past moment.

For you, H.
May universe bless you all the time.

*efek mimpi beberapa episode setelah tidur seharian*

Kamis, 23 Mei 2013

The shoe

Kamu dan Nominal

Jadi begini para lelaki, bkn banyak uang yg dimiliki tp banyak buku dan kisah yg bisa kamu kritisi yg terpenting. Setidaknya menurutku.. :)

Karena nanti aku lbh memilih berbicara ke anak kita, "Ayahmu adalah lelaki cerdas.." ketimbang "Ayahmu adalah lelaki kaya.." :)

Gue menulis dua kalimat di atas dalam akun twitter gue kemarin malam.
Oiya bagi yang belum follow boleh follow dulu @auliafairuz #PesanSponsor #SponsorApeu 

Paginya gue mendapati sudah ada tweet balasan from somebody I used to know. Grammar sangat penting karena past-tense di kalimat sebelumnya berarti, I feel like I don't know him anymore.

Katanya dunia nyata itu kejam, katanya semua butuh uang, katanya munafik kalau ada yang bilang nggak butuh uang.

*sampai disini tarik nafas dulu*
*bayangin rasanya bangun tidur trus udah nerima reply beginian*

Erich Fromm mengatakan bahwa manusia dikuasai oleh dua hal paling mendasar, 'having' alias memiliki (sesuatu) dan 'being' alias menjadi (seseorang).

Pada budaya komersil, kebanyakan manusianya akan lebih dikuasai oleh 'having' yang membuat manusia menjadi kosong dan selalu merasa tidak puas.
Perasaan tidak puas  ini akan membuat manusia ingin mendapatkan lebih banyak hal yang dia nggak punya sebelumnya, terus menerus, nggak berhenti.

Semua butuh uang, setuju. Mulai dari beli permen sampe beli mobil, lo pasti butuh uang. Mulai dari masuk kamar mandi umum sampai masuk dufan, lo pasti butuh uang.
But hey, that's not the point.

Uang penting.
Tapi apa karena alasan itu lo jadi menilai semua hal dan mengonversinya ke dalam nominal?
Uang penting.
Tapi apa karena itu tujuan hidup lo semata-mata lo serahkan pada lembar-lembar yang bahkan nggak bisa lo ajak ngobrol?

"Ah sepik lu Ul. Lo pasti lebih milih makan cake di Union kan ketimbang makan arem-arem Kartika Sari?" | "Gue sih mending makan arem-arem Kartika Sari bareng sama yang tersayang daripada makan red velvet nya Union sendirian.."

Paragraf terakhir ini ditulis khusus untukmu,
Kalau uang ada di dalam alasanku memilihmu dulu..
Aku tidak akan pernah menghabiskan jam-jam waktu kita di tengah teriknya Bandung.
Aku pun tidak akan pernah membiarkan kaki-kakiku luka di dalam flatshoes karena lamanya kita berjalan. Iya, kamu memang tak pernah tau.
:)

Rabu, 22 Mei 2013

What is love?

Tertawalah

Presentasi mata kuliah Psikologi Kepribadian kemarin membahas tentang aliran humanistik menurut pandangan Allport. Jangan tanya gue isi kuliahnya secara umum, gue cuma meng-highlight yang gue anggep penting. Kata 'anggep' berpengaruh sangat besar karena yang menurut gue penting biasanya sangat amat nggak penting buat orang lain.

Salah satu yang menarik perhatian adalah Allport melakukan penelitian dari tiga ratus sekian surat yang dikirimkan seorang perempuan yang namanya disamarkan menjadi 'Jenny' selama bertahun-tahun kepada sepasang suami istri. Allport menggunakan surat-surat ini untuk menganalisa kepribadian Jenny.

Setelah membacanya sendiri, Allport juga meminta orang-orang untuk membaca surat-surat Jenny. Dari hasil analisanya (dan pendapat orang-orang yang sudah membaca) Allport kemudian membuat delapan kategori sifat-sifat Jenny. Beberapa diantara delapan kategori tersebut adalah mudah bertengkar, sinis, dan self centered.

Sebenarnya, dibanding dengan mengritisi metode penelitian Allport gue lebih penasaran dan menebak-nebak siapa Jenny dan kenapa dari isi surat-suratnya sifat Jenny malah nggak bersahabat dan cenderung seperti hater

Apakah Jenny adalah mantan pacar si suami yang belum bisa move on?
Atau Jenny adalah ibu mertua yang nggak suka sama menantunya jadi terus-terusan ngirim surat yang intimidatif?

Selain ke-kepo-an gue soal Jenny, hal lain yang ter-highlight oleh gue adalah tanda kualitas kematangan kepribadian menurut Allport.

Dari beberapa poin seperti menjalin keabraban dengan orang lain, regulasi emosi, dan seterusnya. Kematangan kepribadian dapat dilihat dari tingkat humor individu. Bagaimana cara individu menertawakan hal-hal dalam hidupnya. Maksudnya cara individu take it slow terhadap banyak hal, termasuk hal-hal yang serius.

Menjadi dewasa nggak berarti lo harus mengerutkan dahi sepanjang waktu, kok.
Banyak tertawa bahkan di titik paling rendah dalam hidup lo justru bisa membantu kepala lo buat cari solusi.

Baiklah, lain kali gue liat soal UAS yang abstrak dan nggak bisa gue isi.. Ketawain aja..
:))

Lalu seorang kakak (@dwihastomo) yang pengetahuannya soal sejarah sangat gue kagumi memberikan quote dari Allport:
"Banyak kesulitan dalam hidup yg sepertinya tidak berujung, tidak ada senjata yg tepat untuk melawannya selain tertawa.."

Senin, 20 Mei 2013

Minggu, 19 Mei 2013

Masih

Pembicaraan dengan orang dari masa lalu..
Si orang pertama menanyakan beberapa kalimat yang menjadi pemicu nostalgia mereka.

"Lo apa kabar? Masi sering mimpi buruk?"

"Kalo sebel masi suka kirim sms titik tiga kali nggak?"

"Masih susah makan kalo bad mood?"

"Masih sering lupa kalo bete sama orang?"

Orang kedua menjawab semua pertanyaan dengan senyum dan kata yang sama. "Masih."
Lalu saat giliran orang kedua berbicara. "Lo, masih sayang sama gue?"

Pembicaraan berubah sunyi, "Apa bakal ada yang berubah kalo gue jawab masih?"

Doodle-ing

Gue tipe mahasiswi yang nggak bisa memfokuskan diri sama satu mata kuliah secara penuh. Biasanya setelah setengah jam, fokus yang gue punya udah mulai terbang kemana-mana. Mulai dari mikirin entar pas makan siang mau makan apa, pulangnya mau kemana dulu, atau enaknya malem tidur cepet atau nonton film.

Salah satu hal yang gue lakukan selain gentayangan di medsos ya doodle-ing. Ah, corat-coret jauh lebih menggambarkan kegiatan gue sih sebenernya..

You're cherry on the top of my cake

You're pretty for me no matter what

You can change your attitude but not your record

Theory and Practice


...and no one knows why.
LOL

Hugh Hefner

Gue memilih Playboy Enterprises Inc sebagai perusahaan yang gue analisis di mata kuliah Manajemen. And I found this!

AGREE!
A little respect will take you a long way.

Rumus porsi makanan nikahan

ciwi-ciwi psikologiiii 
Sebelumnya gue mau ngingetin dulu, jangan bosen baca post tentang jodoh dan pernikahan ya di blog gue. Mungkin isi kepala masih terpengaruh sama pesta pernikahan kemarin jadinya masih secara otomatis nulis-nulis soal begituan.

Melihat banyaknya manusia yang datang di pesta pernikahan, seorang teman kemarin menanyakan sebuah pertanyaan menarik:
"Gimana ya cara ngitung porsi makanannya supaya nggak kurang tapi juga nggak terbuang percuma?"

Kalau menggunakan rumus porsi makanan pernikahan lawas yang dulu dibilang Bude (kakak dari Pap. red) jadi satu lembar undangan yang kita kasi dihitung sebagai 3 orang tamu (di Indonesia kebanyakan orang kalo diundang bawa anaknya jadi 3 orang ditambah ibu dan bapaknya). Tapi kemarin setelah gue mengobservasi, rata-rata satu gerombolan rombongan (yang diasumsikan sebagai satu keluarga dengan satu undangan) membawa banyak orang mulai yang lansia sampe balita.
Kembali ke pertanyaan tadi, "Lalu berapa porsi?"

Mengadopsi rumus porsi makanan yang dipraktekkan di salah satu pernikahan anak pejabat di Jakarta yang gue kenal, "Satu undangan ya bikin lah sepuluh porsi. Sepuluh porsi appetizer, sepuluh porsi main course, sepuluh porsi dessert. Pasti nggak kurang."

Iya sih nggak kurang. Tapi kalo lebih dan nggak kemakan?
Ternyata yang bersangkutan punya jawaban untuk pertanyaan gue.
"Gampang. Bungkus, bagikan ke siapa saja yang berkenan untuk bawa pulang. Bisa dari panitia acara, keluarga dekat, atau malah orang yang berkekurangan."

Problem solved.
Eh salah, ada masalah baru. "Trus biaya nikahnya?"
Yasudah, mari mulai menabung!

Sabtu, 18 Mei 2013

Kalimatnya sih iya,

Seorang teman yang sangat gue kagumi pemikirannya hari ini menikah.
Iya, di usia 20 tahun. Usia yang sama seperti gue.

Di saat gue masih sering minta uang jajan tambahan ke Mam karena uang bulan ini defisit karena beli baju/sepatu/nonton/makan kebanyakan, temen gue memutuskan untuk menjadi seorang istri yang tugasnya pasti nggak jauh dari merencanakan keuangan rumah.

Di saat gue masih mengalami fase penasaran pas PDKT, senyam senyum pas baru jadian, dan nangis bombay pas putus. Temen gue udah harus menghadapi lika-liku rumah tangga. #apasihbahasague

Pada saat temen gue mengumumkan berita pernikahannya, dia menganalogikannya dengan ikatan kovalen, menggunakan bahasa-bahasa yang indah, beberapa temen gue yang lain (yang saat itu jadi pendengar) sampai berkaca-kaca.

Lalu gue teringat pembicaraan dengan salah seorang temen gue yang lain lagi (sok punya banyak temen) pas berangkat ke kampus bareng.

"Jujur gue nggak ngerti sih sama keputusannya menikah." | "Kenapa?" | "Ya, gue butuh lebih dari sekedar cukup aja buat mengenal calon suami gue. Gimana dia marahnya, gimana pas dia putus asa." | "Tapi kata lo alasan menikahnya sweet dan unyu." | "Kalimatnya sih iya, tapi kalo disuruh ngejalanin sih gue ngga bakal siap dan ngga bakal mau juga kayaknya." | "..."

Iya, yang mengagumi bisa jadi tak terhingga.
Tapi yang berani tetap langka.

#DibuatMurniUntukMenuliskanPemikiranSendiri

Kekuatan Mistis Experia Z


Foto spesial yang ini diambil pake hp barunya @bellamandam
Iya Experia Z emang ga ada yang ngalahin deh ya soal 'kekuatan mistis' nya mengubah objek foto jadi cantik cantik..

Buat yang mau cari jodoh, mending difoto pake Experia Z dulu baru dipasang jadi avatar twitter. Serius ajaib! Liat deh, guenya cantik kan? #Huek #Muntah #DilemparSendal

Lidya cantik!


Gatau kenapa sih pingin bikin post sendiri buat Lidya.
Tadi pagi Alhamdulillah bisa bantuin ciwi-ciwi dandan. Dan yang mengejutkan buat gue adalah Lidya.

Sebentar ya, diceritakan dulu tentang Lidya.
Di antara kita berempat (gue, Tata, Uti, Lidya) Lidya-lah yang paling cuek bebek sama aksesoris kecewek-cewekan. Lidya lebih suka pake baju yang gampang dipake gerak, sering pake sneakers, dan jarang nggak pernah dandan ke kampus.

Trus tadi pagi, melihat Lidya berubah jadi cantik Subhanallah..
:)

"Emang biasanya orang cantik tuh males dandan!" -Tata.

(not my) wedding

Today was wonderful!
@urfa_urfa is officially married, lalala~

Surrounding by many smiley faces made me ultra happy!!!

Lets goooo!

Ijab kabul

#MukaJelek #JelekBanget

clique

Icho - Me - Dinda - Tata - Lidya

Me - Dinda - Uti - Tata - Lidya

*kiss*



 The boys..
:)
Siddhi and me

Me and Dece

Tiar and Me

Tata - Akmal - Tiar - Me


We change this card into souvenir

Tata - Me - Icha - Manda

Idk why I posed like this

Jumat, 17 Mei 2013

...

"Iya sayaaang.." | "Ih aku dipanggil sayang." | "Kan emang sayang."

<3

#44

Ndak cuma buat cowok sih harusnya..

Live Up the Expectation

Ada satu istilah dalam Psikologi Sosial yang sekarang membuat gue sangat berhati-hati dalam men-cap seseorang.

LABELLING.
Labelling atau pemberian label biasanya akan mendorong si objek untuk menjadi seperti peran yang sudah diasosiasikan padanya.

Misalnya seorang anak yang sudah di-cap bandel oleh gurunya, maka ia cenderung untuk memenuhi cap/label tersebut dengan menjadi anak bandel.

Daripada memberikan tanggapan pada seseorang, "Kok lo sering telat sih?" lebih baik menonjolkan sisi positif yang ada di diri dia, "Eh kalo lo dateng rapatnya lebih hidup, coba aja lo datengnya lebih awal.."

Kemarin gue baru aja mengeluh soal sesuatu sama seseorang. #apasih
Tema keluhannya sederhana sih, gue merasa dituntut terlampau tinggi sama orang-orang sekitar. 

Lalu si orang tersayang itu berkata, "Live up the expectation."
Simpel. Tapi bermakna.

Gue rasa ini semacam konsep labelling yang dibalik.
Kalo udah dikasi label 'mampu' dan 'bisa' ya kenapa nggak sekalian aja dibikin beneran 'mampu' dan 'bisa' kan?

:)

Kamis, 16 Mei 2013

Pecel lele, jodoh, dan mencintai

Malam ini menghabiskan seporsi pecel lele bersama Tata dan Lidya sambil ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari pencarian jodoh, bagaimana mempersiapkan diri untuk bertemu jodoh, sampai jodoh seperti apa yang kira-kira pantas untuk diri kami masing-masing.

Iya emang semua topiknya bermuara ke jodoh.
Mungkin karena Sabtu ini teman seangkatan kami ada yang menikah.
Entahlah.

Twit tentang mencintai ini sedikit banyak mengulas senyum setelah sampai di kosan usai bicara panjang lebar soal jodoh. Oiya, semua tweetnya di-copas dari akun twitter dosen yang saya kagumi @bangjeki.

"Mencintai berarti melangkah bersama menuju impian masa depanku, masa depanmu, dan masa depan kita."

"Mencintai berarti tak lagi hanya berpikir soal mauku yg segala aku. Mencintai berarti memasukkan 'kamu' dan 'kita' dalam perhitunganku."

"Mencintai berarti menekan sebagian inginku dan mengakomodasi inginmu, merelakan sebagian diriku dan mengambil sebagian dirimu."

"Mencintai berarti membahagiakanmu, berarti menjagamu, berarti melayanimu, berarti menerima adamu. Mencintai adalah kamu."

"Jadi masihkah kamu berpikir kalau 'cinta tak harus memiliki'? Tanpa memiliki dia yang dicinta, bagaimana aku mencintai? Aku - kamu = kita."

"Sakitnya mencintai hanya satu sisi bukan karena tak berbalas, melainkan karna menumpuknya kasih dan asa di depan bendungan tanpa teralirkan."

"Sakitnya tetap mencintai ia yang telah meninggalkanmu terletak di segala ingatan yang memicu rasa juga asa, yang hanya ditekan dan ditahan."

Minggu, 12 Mei 2013

Lost & Found


A boy speaks. A gentleman acts.

Kalimat di atas mungkin benar adanya. Sering merasakan sumpek-panas-nggaknyaman nya transportasi umum di Jakarta bikin gue pingin ketawa tiap kali liat cowok yang sok bela hak perempuan.

Hal pertama yang ingin gue tanyakan mungkin adalah, "Mas, kalo liat ada perempuan berdiri di bis ngasi tempat duduknya nggak?" 

Gue pernah punya temen cowok yang nyebelinnya amit-amit. Udah deh kalo ngomong semenit aja sama dia, mood bisa berubah dan keselnya awet seharian. Sampai suatu hari kita satu bis di Bandung dan dia ngasi kursinya ke ibu-ibu yang lagi berdiri. Satu tindakan dan penilaian gue tentang dia berubah. Sampai hari ini.

Gue juga pernah naik bis di Grogol dan kebetulan nggak dapet kursi. Trus ada mas-mas yang berdiri ke arah gue, (awalnya udah pasang muka jutek sambil pegangin tas soalnya) gue kira dia copet tapi ternyata dia cuma mau kasi kursinya buat gue.

Nggak, mas-masnya nggak sekeren artis FTV, bahkan sama sekali nggak masuk hitungan keren kalo dibandingin sama mas-mas lain yang ada di bis (apasih). Tapi ya itu, gue baru menyadari bahwa nggak semua orang yang tampilannya gentle itu beneran gentle.

Membayangkan cowok-cowok yang cuek pas liat ada ibu-ibu gendong balita nggak kebagian tempat duduk lagi ngerayu pacarnya dengan berlagak sok melindungi pas nyebrang atau bukain pintu tiap kali masuk/keluar ruangan, gue kasian sama ceweknya.

Sabtu, 11 Mei 2013

Saat ayah tau rupa wajahnya

Tiba-tiba kangen Pap..
...

Seorang Ayah, mengusap punggung putrinya pelan. Menyusun kata-kata untuk diperdengarkan pada putri keras kepala. "Ini bukan tentang tidak menghargai pilihanmu."

"Dia lelaki baik." jawab si putri tanpa menoleh. Menurutnya ayah kelewatan kali ini. Teman kencannya bukan kriminal, apa alasan ayah menolak untuk sekedar berkenalan?

"Kuharap begitu. Tapi saat aku sudah tau seperti apa rupa wajahnya, saat dia menyakitimu kelak. Saat dia jadi alasan tangismu suatu hari nanti..." sampai di bagian ini si putri menatap ayahnya dengan rasa ingin tau yang tak ingin ditampakkan. "Kamu tau aku tak akan tinggal diam, kan?"

Putri tersenyum, memeluk sang ayah erat-erat.
"Kecuali lehernya kebal akan tebasan samurai-ku, sebaiknya dia menjaga baik-baik senyummu."

Jumat, 10 Mei 2013

Pap and meeeh

Menanggapi tulisan yang gue cantumkan di wall Mam:

"Konon katanya, cinta nyata itu dikirimkan lewat doa, disampaikan dengan nada yang tenang namun penuh keyakinan. Dan menyempil malu-malu pada sebungkus pai susu yang diberikan cuma-cuma. :) *colek Bambang Hk"

...

"Dek, yang namanya cowok.. Meskipun dahi-nya item bekas aduan sama sajadah. Kalo ditawarin cewek, selama dia nggak suka sama cowok.. Nggak bakalan nolak! Inget itu! Makanya perempuan musti jaga diri, soalnya nyuruh laki-laki jaga nafsu itu nggak mungkin!" -Kakak lelaki, 25 tahun.

Too many tabs

A Daddy’s Letter to His Little Girl (About Her Future Husband)

I read this letter on Dr. Kelly M Flanagan's blog. He wrote this by himself. He's a clinical psychologist, writer, and blogger also. And I adore him so much!
...
Dear Cutie-Pie,
Recently, your mother and I were searching for an answer on Google. Halfway through entering the question, Google returned a list of the most popular searches in the world. Perched at the top of the list was “How to keep him interested.”
It startled me. I scanned several of the countless articles about how to be sexy and sexual, when to bring him a beer versus a sandwich, and the ways to make him feel smart and superior.
And I got angry.
Little One, it is not, has never been, and never will be your job to “keep him interested.”
Little One, your only task is to know deeply in your soul—in that unshakeable place that isn’t rattled by rejection and loss and ego—that you are worthy of interest. (If you can remember that everyone else is worthy of interest also, the battle of your life will be mostly won. But that is a letter for another day.)
If you can trust your worth in this way, you will be attractive in the most important sense of the word: you will attract a boy who is both capable of interest and who wants to spend his one life investing all of his interest in you.
Little One, I want to tell you about the boy who doesn’t need to be keptinterested, because he knows you are interesting:
I don’t care if he puts his elbows on the dinner table—as long as he puts his eyes on the way your nose scrunches when you smile. And then can’t stop looking.
I don’t care if he can’t play a bit of golf with me—as long as he can play with the children you give him and revel in all the glorious and frustrating ways they are just like you.
I don’t care if he doesn’t follow his wallet—as long as he follows his heart and it always leads him back to you.
I don’t care if he is strong—as long as he gives you the space to exercise the strength that is in your heart.
I couldn’t care less how he votes—as long as he wakes up every morning and daily elects you to a place of honor in your home and a place of reverence in his heart.
I don’t care about the color of his skin—as long as he paints the canvas of your lives with brushstrokes of patience, and sacrifice, and vulnerability, and tenderness.
I don’t care if he was raised in this religion or that religion or no religion—as long as he was raised to value the sacred and to know every moment of life, and every moment of life with you, is deeply sacred.
In the end, Little One, if you stumble across a man like that and he and I have nothing else in common, we will have the most important thing in common:
You.
Because in the end, Little One, the only thing you should have to do to “keep him interested” is to be you.
Your eternally interested guy,
Daddy

Salad Diet

Selasa, 07 Mei 2013

Ini kuliah, bukan syuting!

Nggak semua cewek kuliahan bisa dateng ke kampus tiap hari pake baju warna warni yang modis mulai dari kepala sampe kaki.
Kali ini gue setuju sama perkataan seseorang tentang, "Ini hidup, bukan FTV!"

Iya, menurut gue daripada bangun lebih pagi dan mikir hari ini pake baju warna apa, pake jeans atau rok, pake flatshoes atau sneakers, pake bando atau dikuncir, mendingan gue tidur lagi! Catat! Tidur lagi demi membayar hutang tidur yang menumpuk karena mengerjakan ini itu.

Buat yang nanya realita tampilan mahasiswi yang sedang menjalani semester 4 itu gimana, semoga foto foto ini cukup mewakili..


 

Template by Best Web Hosting