Senin, 30 September 2013

Lalu duniaku seperti runtuh...

Kamu, duduk diam dengan omelet sayur dan vanilla milkshake yang jadi kesukaanmu entah karena apa. Aku sering menertawakan kesukaanmu yang satu itu. Laki-laki lain akan memesan black coffee atau setidak-tidaknya coffee-latte saat makan di kafe, tapi kamu bersikukuh memesan milkshake vanilla tak peduli dimanapun kita memutuskan untuk kencan.

Aku, memesan creamy fettucini dan segelas besar iced chocolate. Bukan iced chocolate sembarangan, di atasnya diberi whipped cream yang ditaburi serutan coklat batang. Ah iya, dengan ceri merah utuh sebagai puncaknya. Bersamamu aku seperti tak peduli dengan program menjaga berat badanku, persetan juga dengan hitungan kalori yang seringnya masih membuatku lapar walau habis makan.

Kamu tertawa saat aku menyeruput fettucini yang kuahnya berkumpul di luar bibirku. Nyaris menetes ke baju yang kusiapkan sudah dua jam sebelum kamu menjemput kalau jarimu tidak sigap mengelapnya dengan tisu. "Laper banget ya?" tanyamu, masih tertawa.

Aku menggeleng. Aku sudah biasa menahan lapar demi mengecilkan ukuran jeans yang tidak lagi ada di kepala dua. Denganmu aku bisa lupa tentang tuntutan sosial yang melarang perempuan sepertiku untuk makan sesukanya, aku bisa lupa tentang tuntutan klien soal tampilan ideal tubuhku, dan aku bersyukur karenanya.

...
Lalu datang seorang perempuan yang mengaku memiliki sebagian hatimu. Memiliki sesuatu yang kupikir satu-satunya untukku. Aku tertawa konyol, perempuan ini pasti salah alamat. Dengan keyakinan yang utuh, aku bertanya tentang si perempuan salah alamat kepadamu.

Lalu duniaku seperti runtuh.
Aku bahkan tak mau membayangkan apapun, walau tetap saja imajiku memutarnya seperti film yang tak habis-habis dalam kepala. Bagaimana perempuan itu mengundangmu, baju seperti apa yang dipakainya, atau bagaimana tangannya bisa leluasa menyapu tiap inci kulitmu usai kalian menyatu. Dukaku menetes satu-satu. Kamu diam, seperti biasa menunggu aku menyelesaikan tangisku dulu.

Sayang, taukah kamu kata maaf tak bisa memperbaiki semuanya seperti sihir?
Hatiku luka, rentan hancur menjadi remah. Kamu tau aku tak akan memaafkanmu.

Namamu kugores di lenganku dalam-dalam, sakitnya tak seberapa kalau dibandingkan dengan yang kamu ciptakan. Tak akan ada yang akan dengan mudah kuijinkan masuk dan merajai hati.

Sabtu, 28 September 2013

Peringatan Hari Anti Korupsi

Pada 9 Desember 2012 diadakan peringatan hari anti korupsi di area Monumen Nasional oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Gue dan keluarga datang kesana atas undangan panitia karena post blog gue terpilih menjadi pemenang kompetisi menulis nasional yang diadakan sebagai rangkaian peringatan acara tersebut.
Acaranya rame dan seru, banyak artis ibukota yang dateng bareng keluarga mereka.
Disini juga banyak dikenalkan lembaga-lembaga independen yang konsisten dalam memerangi korupsi di Indonesia.


Mau ngomong apa ke para koruptor?

Ada booth yang jual souvenir juga!


Selasa, 24 September 2013

Kiss the door!

Kalau ada yang follow gue di twitter dan sering liat tweet lucu-baik-manis yang didasarkan pada pengalaman berteman gue dan Siddhi, mungkin post ini adalah bukti bahwa Siddhi nggak sebaik dan se-charming itu.

Teman macam apa yang upload foto beginian di facebook?! Hah?!!
:'))

The picture is taken by Siddhi Abhiyoga

MC-ing

I love words!
No matter write, tweet, or even speak! I just love words!
I love crowd!
No matter being part of it or just watching. I love crowd!

Bulan ini dapet beberapa kesempatan buat jadi MC (master of ceremony) di rangkaian acara bimbingan akademik untuk mahasiswa baru. Emang dasarnya gue bawel jadi ya senengnya banget banget dikasi kerjaan untuk ngomong berjam-jam, LOL!

Pada salah satu rangkaian acaranya gue merangkap peran juga jadi moderator talkshow yang narasumbernya adalah mahasiswa luar biasa. Berhubung acaranya tentang cara membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI) maka narasumber yang diundang juga ahli di pembuat KTI.

ps: The pictures are no filter and taken by Siddhi Abhiyoga.
Moderator yang nggak kalah antusias dengerin narasumber sama peserta
Talkshow yang dipercayakan pada gue mengundang mahasiswa berprestasi, mahasiswa yang biasa mengikuti PKM (Pekan Kreatifitas Mahasiswa), dan mahasiswa yang mengikuti konferensi psikologi internasional.

Meskipun CV nya tebel Subhanallah bikin minder dan pengalamannya luar biasa bikin iri, mereka super menyenangkan. Mereka nggak ragu buat menjawab pertanyaan peserta dan menceritakan perasaan mereka bukan cuma teknis pembuatan KTI nya aja.
Shindi Fadillah, ketua Presenting and Public Speaking (salah satu dari rangkaian acara)
Iya, berbicara sama orang-orang hebat emang bikin efek ganda. Di satu sisi tiba-tiba lo merasa sangat kecil tapi di sisi lain lo termotivasi untuk lebih banyak menggali potensi diri.
Sesi lecturing
Selain talkshow, ada sesi lecturing dari seorang dosen juga. Pada sesi satu arah begini biasanya kepekaan dan kreatifitas diuji. Selesai sesi lecturing, berhubung pesertanya mulai terlihat akan tidur siang berjamaah akhirnya kita ice breakiiiing!!

Ice breaking atau bernyanyi/bergerak bersama adalah salah satu hal yang penting dalam membuat peserta tetap fokus. Gue jadi bayangin kalau di tengah perkuliahan trus dosennya ngajakin kita ice breaking, Hahahaha.
Ini Uti, koordinator divisi acara Writing Session (salah satu dari rangkaian acara)
Di tengah sesi lecturing biasanya gue nggak ada kerjaan. Yasudahlah akhirnya nodongin panitia divisi dokumentasi untuk jepret sana-sini.
:))
Prala (Kepala Departemen Penalaran BEM FAPSI UNPAD)
Foto terakhir ini sebenarnya nggak ada hubungannya sama acaranya.
Bari, salah satu panitia dikenal selalu berekspresi datar jadi gue berinisiatif untuk tukeran peran di foto ini.
Percayalah, pasang ekspresi begini melelahkan ._.

Pertanda pagi

Senin, 23 September 2013

But I guess,


"Kalau liat kamu nangis mana bisa aku move on, Mas.."
*lap air mata Mas Zac*

Visit Belitong Part 1

Tanggal 17 Agustus kemarin gue menunjukkan semangat nasionalisme dengan mengunjungi bagian lain negeri sendiri.

Iya, gue berlibur ke Belitung atau Belitong (bahasa penduduk setempat), menemani Mam yang kebetulan ada urusan dinas disana. Secara kebetulan, Pap pun agenda kantornya lagi disana jadi yasudahlah kita ketemuan.

Oh iya, sekedar info bagi yang berniat kesana cuma dua maskapai yang melayani penerbangan ke Bandar Udara H. A. S. Hanandjoeddin (bandar udara di Tanjung Pandan) yakni Garuda Indonesia dan Sriwijaya. Ingat, Tanjung Pandan! Banyak turis salah menentukan destinasi penerbangan, jangan salah tujuan jadi Tanjung Pinang.

Harga tiketnya untuk normal season sekitar sejuta untuk perjalanan pulang-pergi, nggak terlalu mahal dibandingkan dengan pengalaman yang akan didapatkan kok. Saran aja, nanti pas di pesawat pilih tempat duduk yang dekat jendela karena pemandangan Belitong dari udara luar biasa cantiknya.

Pulau Belitung terbagi menjadi 2 kabupaten yaitu Kabupaten Belitung, beribukota di Tanjung Pandan, dan Belitung Timur, beribukota Manggar. Pulau ini diapit oleh Selat Gaspar dan Selat Karimata dan terkenal dengan lada putih serta bahan tambang seperti timah putih, pasir kuarsa, kaolin, dan granit. Keterangan lain soal demografis dan sejarah pulau bisa diihat disini

Pap sudah ada di Belitung beberapa hari sebelumnya, gue dan Mam baru tiba tanggal 17 Agustus siang. Sesampainya di bandara, kami langsung menuju ke Pantai Tanjung Tinggi untuk cuci mata dan makan siang.
Tanjung Tinggi Beach


Sampai di Pantai Tanjung Tinggi yang ada di kepala gue adalah: "ANJIR KEMANA AJA GUE! KENAPA GUE CUMA DIBUTAKAN OLEH PANGANDARAN, KUTA, DAN SANUR!"
Oke cukup.

Pantai Tanjung Tinggi ini obyek wisata yang terkenal di Belitong. Pada tahun 2008 sempat dijadikan lokasi syuting film Laskar Pelangi (The Rainbow Troops) yang kemudian mengenalkan keindahan Belitong ke nusantara dan dunia.

Pasirnya putih dan lembut, warna airnya juga biru kehijauan. Selain dua hal tersebut, yang istimewa dari Pantai Tanjung Tinggi adalah batu-batu granit berukuran raksasa yang tersebar di sepanjang garis pantainya. Subhanallah.

Dari Pantai Tanjung Tinggi kita bisa melihat Pulau Lengkuas yang memang jadi tujuan utama turis yang biasanya kesini. Pulau lengkuas sering jadi obyek wisata dan obyek foto karena keindahan pulau dengan mercusuar yang berdiri gagah. Sayangnya gue ngga sempat kesini waktu itu, yah semoga saja lain kali singgah kesini lagi. 
Di Pantai Tanjung Tinggi banyak tempat makan seafood. Ah jangan ditanya deh ya rasanya, makan ikan di pinggir pantai selalu menciptakan sensasi sendiri.

Makanan khas di Belitong adalah Gangan, semacam Sup Ikan kuah kuning. Bagian ikan yang bisa dibuat Gangan hanya kepalanya saja karena yang nikmat dari Gangan ini memang lemak dan pipi ikan yang gembil-gembil itu. 

Gangan dimasak dengan bumbu kunyit, cabe rawit, dan terasi khas Belitong. Dalam penyajiannya juga selalu diberikan potongan nanas muda. Rasanya panas, pedas, asam, mirip tomyam. Gangan biasanya memakai ikan karang (ikan yang hidup di karang) dan nggak semua orang bisa makan itu. Gue misalnya, abis makan Gangan selalu aja pusing tapi ya tetep makan lagi kalo ketemu. LOL.

Selain Gangan, makanan yang nggak kalah enak adalah Ikan Pari yang dibakar tanpa bumbu. Ikan Pari yang ukurannya kecil (anakan Pari) dibakar lalu dimakan dengan kecap manis. Dagingnya lembut dan wanginya khas. Enak, enak banget.

Setelah makan siang, kami menuju ke hotel dan ketemu Pap. Kami menginap di Grand Pelangi Resort berdasarkan rekomendasi temennya Pap yang pernah kesana. Untuk info hotelnya bisa dicek disini

Sinyal ponsel disini agak bikin sakit hati. Gue yang pengguna Indosat cuma dapet 3G pas lagi di pinggir pantai itu pun kalau pagi. Sisanya, dapet Edge pun udah bersyukur banget.
Setelah istirahat sebentar di hotel, Mam melanjutkan agenda dinasnya. Sedangkan gue dan Pap merencanakan main-main di pantai. Berhubung tadi gue belum puas di Tanjung Tinggi, jadilah kita berdua pergi kesana.

Jarak antara Pantai Tanjung Tinggi dan Tanjung Pandan sekitar 30 KM. Di Belitong memang nggak ada kendaraan umum. Jangan khawatir, penginapan biasanya menyediakan penyewaan kendaraan seperti mobil/motor. Di Grand Pelangi, untuk motor harganya 100rb untuk sewa 12 jam, sedangkan untuk mobil 300rb untuk sewa dengan jam yang sama.

Mengenai bensin, di Belitong sangat jarang ada pom bensin. Sekalinya ada, biasanya langsung habis dibeli oleh penduduk setempat yang sudah mengantri berjam-jam. Jadi saran gue, beli aja bensin eceran di pinggir jalan. Lumayan sih, untuk premium harganya 12rb/liter.
Kalau berniat panjat-panjat batu sambil main air, datanglah waktu sore saat air sedang pasang. Gue nggak bawa baju renang jadinya dengan modal polo shirt dan celana tidur tetep nekat main sana-sini meskipun akhirnya jadi pamer warna bra.
</3

Kalau mau norak lari-lari, ketawa, sambil naik-naik batu raksasa emang disini tempatnya. Selain pantainya sepi, jarang ada mas-mas iseng yang kampungan panggil-panggil cewek. Pantainya sangat tourist friendly meskipun ya tetap pengelolaan sampahnya kurang baik yang memang jadi penyakit banyak tempat wisata di Indonesia.
Kecil-kecil bikin sakit :(
Saking senengnya main-main, biasanya orang lupa kalau di atas batu-batu nempel mahluk-mahluk kecil bercangkang yang tajam ini. Telapak kaki gue juga lecet-lecet pulangnya, tapi tetap senang!! Jangan lupa bawa plester luka, in case lukanya dalam dan takut infeksi.
Oh iya, penduduk disini sangat ramah tapi belum terbiasa melihat turis ber-bikini atau ber-kostum renang minim bahan. Soalnya kebanyakan yang datang adalah turis domestik, turis asing yang datang pun nggak menghabiskan banyak waktu main di pantai. Saran gue, gunakan baju yang 'wajar' saat main di pantai. 
Keamanan di Belitong pun menurut gue cukup terjamin.
Penduduk lokal biasa meninggalkan motor/mobilnya dengan kunci menempel di depan rumah, rumah penduduk juga sangat jarang yang dipagari. Menurut salah satu sumber yang gue tanya, mereka sudah cukup makmur jadi memang kasus pencurian disini angkanya kecil. Meskipun begitu, tetap hati-hati ya..

Granit sebesar rumah, amazing!
Jangan khawatir soal harga makanan yang dijajakan penduduk lokal, gue selama disana belum pernah mendapatkan harga yang 'tidak wajar' dari mereka. Tapi kalau mau pasti memang sebaiknya ditanyakan dulu.

Hasil persilangan putri duyung dan Malin Kundang
Berfotolah sebanyak mungkin, semua spot disini bagusnya luar biasa.
Buat yang punya waterproof camera boleh banget dibawa kesini! Gue cuma bawa digital camera biasa yang pulangnya sempet korslet karena kena air. Untungnya setelah dikeringin sebentar bisa hidup lagi.
:')

Setelah bosan main di pantai, gue kembali ke hotel bersama Pap sambil basah-basahan dari ujung rambut sampe ujung kaki. Silahkan dibayangkan gimana serunya dan masuk anginnya, LOL!
Hasil nodong mas dan mbak yang lagi pacaran di atas granit pinggir pantai
Sampai disini dulu post Visit Belitong-nya..
Di Visit Belitong Part 2, gue akan menceritakan soal Manggar dan replika sekolah yang digunakan untuk syuting Laskar pelangi.
:)

Minggu, 22 September 2013

Bangku taman, lelaki dan perempuan

Sebuah bangku taman, lelaki dan perempuan duduk berkeliling sunyi dan angin dingin musim gugur yang menampar-nampar kulit muka seperti kepingan es. Tak ada suara, tak ada yang berani bicara.

Si lelaki berdehem pelan, menarik perhatian perempuan dengan syal abu-abu di sebelahnya. Mata mereka saling bertatapan sebentar. Si perempuan merasa bahwa pipinya menghangat, mulai mengalahkan dinginnya terpaan angin.

"Jadi, apa kita akan memulai lagi?" tanya si lelaki pelan, sangat pelan sampai-sampai butuh beberapa detik untuk si perempuan berhasil menangkap keseluruhan kalimatnya.

Si perempuan melipat tangan di depan dada, gemetar. "Aku pasti menjadi perempuan paling bodoh sedunia kalau sampai tersakiti lagi."

"Aku tak akan......" belum selesai kalimat si laki-laki, perempuan menangis. Sisa kalimat yang hendak keluar langsung ditelan kembali oleh si lelaki, masuk ke kerongkongan, namun anehnya malah menghambat kerja paru-paru. 

Tak peduli mereka sudah sekian tahun tak bertemu, melihat perempuannya menangis selalu menghasilkan sensasi tercekat yang sama.

"Aku takut." ujar si perempuan tanpa bergerak barang satu senti. Sebuah pelukan harusnya dapat menenangkan, sebuah kecupan seharusnya bisa menghentikan tangisnya sekarang ini. Tapi entah kenapa tubuhnya kaku, seperti sendi-sendi membeku.

Lelaki terdiam. Senggukan-senggukan kecil mulai terdengar, berirama. Kalau boleh lelaki memilih, dia ingin memeluk sekarang. Dia ingin menenggelamkan tubuh mungil perempuannya dan membiarkan degup-degup cepat yang tak teratur dalam dadanya terdengar di telinga perempuan.

"Aku tak akan memaksa. Tak akan pernah."

"Maafkan."

"Pergilah, sejauh yang kamu mau, setinggi sayapmu mampu. Kalau kamu luka lagi, aku tetap disini."

"Jangan menungguku."

"Aku bukannya menunggu. Aku hanya yakin, entah bagaimana tiap langkahmu menujuku."

**dibuat untuk seseorang yang hadir dari masa lalu.

Tempat-tempat

Aku, setahun lalu.

"Aku mau ke banyak tempat baru sama kamu. Biar kalo ntar nggak sama kamu lagi, pas kamu kangen, atau pas aku kangen, aku bisa pergi ke tempat-tempat itu.. Trus ngerasain lagi momennya.."

Dan sekarang, tempat-tempat itu jadi tempat pilihan terakhir yang akan kukunjungi.
Pergi kesana sama saja dengan mengulangi semua sakitnya, sayang.

Selasa, 17 September 2013

"Kayaknya dia cowok baik, deh."

Sepengalaman gue, perempuan sangat mudah terlibat dalam satu obrolan. Begitu mendengar beberapa kata kunci yang menarik, biasanya interaksi akan terbentuk begitu saja.

Dalam membaca suasana lingkungan, perempuan juga dipercaya lebih peka.

Kalau berada di sebuah tempat laki-laki lebih memperhatikan detil denah seperti dimana pintu masuk/keluar, dimana kamar mandinya, atau malah dimana mereka bisa ngerokok bebas (buat yang perokok).

Perempuan cenderung membaca situasi emosional, misalnya apakah orang-orang yang ada disana bersemangat, malas, seringnya sih apa ada pejantan yang bisa jadi vitamin mata pas acara mulai membosankan. LOL!
misalnya aja Mas Channing Tatum~
Informasi dari dua paragraf di atas tentu nggak bisa disamaratakan ke semua perempuan dan laki-laki karena kepribadian manusia yang berbeda satu dengan lainnya. Hell no! Kuliah tentang kepribadian harus berhenti di paragraf ini! *Plester Mulut Sendiri*

Sebelum berlanjut, perhatikan percakapan gue dan Lidya berikut ini:
Lid: "Ul, tadi gue liat Kak Fahtir (nama disamarkan)."
Aul: "Kenapa? Ganteng ya?"
Lid: *pokerface* "Baik banget Ul.."
Aul: "Eh?"
Lid: "Tadi gue liat kan, ada dosen yang lagi angkat telpon sambil kesusahan bawa tas dan barang-barang. Trus dia nawarin bantuin. Baik banget kan Ul?"

Iya, baik banget.
Di usia segini gue jarang melihat laki-laki yang menolong dengan tulus dan manis. Tulus maksudnya ya memang tanpa motif, bukannya niat jadiin gebetan atau pacar.

Gue menganggap Fathir tulus juga karena beliau nggak akan melakukan hal-hal seperti itu demi kelancaran mendapat nilai, secara beliau calon cum laude *keprokkeprok*.

Manis artinya menolong dengan pantas.
Datengin, senyum, tawarkan bantuan adalah tiga langkah sederhana yang menurut gue sangat mudah dan cukup manis, kok.
:)

Fathir kayaknya cowok baik deh..
Saat gue berujar ke salah seorang teman, gue mendapat jawaban: "Ah itu sih karena dia ganteng, dia ramah sama semua orang, rela membantu tanpa pamrih."

Berbekal rasa ingin tau dan sedikit sebel, gue nyari literatur soal hal ini.
Dan disini, tertulis bahwa perempuan rata-rata membaca kepribadian orang lain berdasarkan kesan pertama jauh lebih akurat dibandingkan dengan laki-laki.
SO MUCH WINS!!

Jumat, 13 September 2013

Dua kalimat soal lelaki

Kampus gue didominasi oleh mahluk-mahluk cantik warna-warni yang penuh empati.
Iya, gue kuliah di jurusan Psikologi.
Udah, cerita tentang guenya di skip aja karena bukan esensi dari post ini.

Dikelilingi oleh banyak psikolog yang juga dosen yang pengertian luar biasa, bisa jadi anugrah (atau malah musibah dalam beberapa konteks).

Seorang abang yang juga dosen lulusan psikologi sosial dan beraliran humanistik kemarin malam bicara soal lelaki, begini kira-kira potongan percakapannya:
"Adikku, kuberi beberapa kalimat soal lelaki. Jadilah seperti mangsa, maka lelaki akan mengejar dan mengunyahmu habis. Jadilah seperti ibu. Maka ia akan menghormatimu tinggi-tinggi. Mendengarkan dan duduk diam tak pergi lagi."

Minggu, 08 September 2013

#convo

"Semua orang akan memiliki rutinitas baru saat mereka menikah, kan?"

"Misalnya?"

"Entahlah. Tapi untukku yang perempuan mungkin mulai menerima lembar-lembar yang harus kuatur cermat agar bisa memenuhi kebutuhan hidup. Menanyakan makanan apa yang harus kumasak esok hari. Dan mulai sensitif dengan kebersihan pun kerapihan rumah. Ah, mengingatnya saja sudah membuatku lelah."

"Aku juga pasti akan punya."

"Laki-laki nggak terlalu banyak berubah rutinitasnya. Bahkan menurutku, mereka sebenarnya yang akan diuntungkan dengan pernikahan meskipun tidak secara finansial. Bayangin, mereka nggak usah repot mikir mau makan apa, nggak repot mikirin ngatur keuangan. Banyak tugas yang akan didelegasikan ke istrinya."

"Aku belum bilang apa-apa."

"Memangnya apa rutinitasmu setelah menikah nanti?"

"Meletakkan kepalamu di atas dadaku setiap malam, membiarkanmu mendengarkan degup-degup yang ritmenya berubah cepat kapanpun kamu ada di sekitarku. Merangkul pinggangmu, membuat kamu kian dekat dan dekat sampai rinduku hilang tak berbekas. Dan menghirup puas aroma rambutmu yang sebelumnya hanya dapat kulihat berayun bebas tiap kamu melangkah. Yang lain, mencintaimu dan tumbuh bersamamu. Sisanya belum terpikirkan. Malah mungkin sudah kamu sebutkan tadi."

"..."

Hubungan sesama manusia

Siang tadi mendapat insight dari seorang kakak.
Cuaca panas, kertas tisu sudah banyak berserakan di atas meja.
Gue masih berusaha mengendalikan diri supaya berhenti sesenggukan.

"Hubungan kita dengan sesama manusia itu dibagi tiga. Pertama, dengan orang-orang yang tidak peduli benar atau salahnya kita, mereka akan tetap menyayangi kita dengan tulus. Yang pertama ini adalah orang tua, saudara, dan sahabat. Kedua, dengan orang-orang yang bisa jadi menyukai atau membenci kita, tergantung keadaannya atau keuntungannya untuk mereka. Ketiga, mereka adalah orang-orang yang tidak peduli apapun yang kita lakukan akan tetap membenci kita. Nah, apa kamu akan terus membuang waktu memikirkan bagaimana cara menyenangkan golongan yang ketiga ini dan mengorbankan dua golongan pertama? Ingat, mereka nggak peduli mau kamu senyum atau berbuat sebaik apapun. Mereka akan tetap menemukan alasan untuk membenci kamu. Saranku, jangan mengorbankan dua golongan pertama untuk golongan terakhir, nggak akan sepadan."

Lalu, masih berusaha menghentikan sesenggukan, tepukan-tepukan pelan mendarat di atas kepala gue yang entah bagaimana bisa menguatkan. Semesta, terimakasih.
:)

#thoughts


Rabu, 04 September 2013

Cewek beringas

Percapakan ini dilakukan tengah malam.
Antara seorang perempuan dan laki-laki dari masa lalu.

P : "Gini deh, kayak gimanapun baiknya seorang cowok, dia bakal tetep jadi cowok, kan?"
L : "..."
P: "Maksud gue, kalo ada cewek yang nawarin diri untuk lo tiduri tanpa harus bertanggung jawab atas apapun setelahnya. Lo bakal nolak?"
L: "Gini, gue emang pertama kali ngeliat cewek dari penampilannya. Gimana bajunya, bentuk badannya.."
P: "Trus?"
L: "Kalo gue udah kenal deket trus tau kepribadiannya kayak apa...."
P: "....baru lo ajakin selingkuh?"
L: "Kalo gue udah tau kepribadiannya kayak apa dan gue ngerasa cocok...."
P: "Lo bakal ajakin dia selingkuh?"
L: "Gue nggak akan nyari yang lain lagi."
P: "Meskipun ada cewek lain yang nawarin ciumannya buat lo?"
L: "Anjir, cewek beringas mah bikin ilfil kali."
P: "Ahahahahahaha.."

Selasa, 03 September 2013

...

Kamu, mengecup hanya satu kali tiap pagi. Lalu memelukku hangat, "Yang kedua dan seterusnya akan kulunasi sore ini. Lekaslah pulang."

Senin, 02 September 2013

Cerita Gula-Gula

"Jangan suka membungkus sesuatu dengan cerita gula-gula. Kalau memang sulit ya katakanlah sulit, kalau memang mudah katakanlah mudah. Jangan menggampangkan hal yang sebenarnya sulit." -Bang Iqbal.

#tweets

*Peri Cintaku-Marcell*

Panggilanku yang sehari lima waktu. Lonceng ibadahmu setiap Minggu pagi. Ah, lukanya masih ada, sayang..

Caramu menunggu menit-menit ibadahku. Caraku bersabar menunda jam kencan demi waktumu dengan Tuhanmu. Indah, awalnya.

Banyaknya kesamaan yang kita punya, tetap saja harus menyerahkan tahta demi satu perbedaan yang menurutku sakral. Iya, menurutku.

Karena katamu, Tuhan akan membiarkan mahluknya mencinta tanpa luka. Katamu, setiap cara yang ada menyembah satu zat yang sama.
 

Template by Best Web Hosting