Minggu, 27 Oktober 2013

"Aku nggak suka film Indonesia."

Jadi ceritanya kemarin malam gue yang baru selesai belajar (sebagian kecil) materi Psikologi Abnormal di kamar Uti punya buat nonton bareng. Ngg, berhubung ini akhir bulan maka definisi nonton disini bukannya pergi ke Jatos dan nonton di bioskop tapi nonton film berdua di laptop.

Waktu lagi diskusi soal 'nonton apa' gue mengajukan 'Ada Apa Dengan Cinta' untuk ditonton. Selain karena gue kangen sama Nicholas Saputra, kebetulan siang tadi gue dapet softcopy-nya dari Lidya.

"Aku nggak suka film Indonesia." ujar Uti.
"Tapi ini kan Ada Apa Dengan Cinta, udah pernah nonton belum?"
"Nggak mau. Kalau film Indonesia nggak mau."
"Padahal ini booming lho di jamannya." gue membalas, masih berusaha mempersuasi meskipun akhirnya tidak berhasil.

Entahlah kenapa gue ngerasa sedih. Padahal harusnya gue biasa aja, soalnya: (1) Gue juga nggak maniak amat sama film Indonesia, (2) Film Indonesia yang gue suka jumlahnya dikit banget, dan (3) Sikap Uti terhadap film Indonesia kurang lebih sama seperti sikap gue terhadap film India, "Gue ngga mau nonton kalo filmnya Bollywood."

Mungkin karena tetiba gue jadi inget kalau kami berdua orang Indonesia (yang punya keinginan hidup di negara lain kalau negara ini gini-gini aja nantinya) dan bukan nggak mungkin kalau ada (banyak) warga negara Indonesia lain yang berpikiran sama seperti Uti.

Pemikiran seperti itu pasti akan merugikan sineas-sineas muda (dan nggak muda) yang berusaha bikin industri film Indonesia semakin maju. Trus juga gue jadi kepikiran Mira Lesmana, Matias Muchus, dan Joko Anwar (maaf karena pengetahuan penulis soal dunia film terbatas maka nama-nama lainnya nggak disebutkan).
:'(

"Kalau bukan kamu, lantas siapa lagi yang kamu harapkan menghargai karya hasil jerih payah bangsamu?" 

SPG

Kami (gue dan Papa) waktu itu duduk di downtown walk salah satu Mall yang tidak jauh dari rumah. "Silahkan Oom, rokoknya. Dicoba dulu aja." ujar seorang SPG (Sales Promotion Girl) ke Papa.

Gue melirik, sinis.
Entahlah ini prejudice atau apa, tapi melihat perempuan yang umurnya cuma beda beberapa tahun dari gue (dengan rok super mini, heels super tinggi, dan make up yang... ah sudahlah) menyapa Papa entah kenapa membuat gue sebal.

"Makasih Mbak, Papa saya nggak ngerokok." jawab gue, tanpa merasa perlu beramah-tamah. Si SPG pergi setelah tidak lupa mengucapkan terimakasih yang lagi-lagi, membuat gue sebal.

...

'Jadi SPG itu nggak gampang ya. Jalan sepanjang shift kerjaan pake sepatu hak tinggi, muka full make up, belum kalau digoda sama mas-mas iseng. Atau disinisin istri-istri dan pacar-pacar yang cemburu.'

Pada dasarnya mbak SPG cuma mencari nafkah.
Pendek rok, tingginya heels, dan pembawaannya memang tuntutan dalam memasarkan produk. Kasihan kalau dia dimusuhi karena usahanya mencari rejeki halal di atas Bumi.

Ya Allah, mudahkanlah..

Sabtu, 26 Oktober 2013

Hening dan Lelaki Pohon Jeruk

Langit murka sejak pagi, kilatan-kilatan petir masih saja terlihat intens berkolaborasi dengan titik air yang turun lebih banyak dari biasanya. Tangan Hening menyingkirkan tirai jendela, mengintip ke luar. Ada seseorang yang datang.

Tak lama suara ketukan terdengar. Cukup keras sampai mengalahkan gelegar yang muncul bersamaan. Bukan, si pengetuk pintu pasti tidak bermaksud menakuti Hening yang sekarang menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri.

Melenyapkan sekerat ragu, Hening membuka pintu. Wajah si pengetuk pintu berubah cerah saat mendengar derit pintu yang menurutnya sangat merdu. Saat melihat Hening, senyumnya terulas. "Boleh aku masuk?" pintanya santun.

Sejenak Hening membiarkan saja si pengetuk pintu menunggu dan memanfaatkan kesempatan untuk mengamati sebaik-baiknya. Tingginya hampir sama dengan pohon jeruk yang ditanam ibu di belakang rumah dengan jas flanel bermotif kotak-kotak kecil. Sepatunya kotor berlumpur, sudah terbayang oleh Hening bahwa dia pasti harus mengepel lantai rumah seperginya lelaki pohon jeruk ini.

Hening mengangguk. Sebenarnya sudah dipikirkannya jawaban bahkan sebelum membukakan pintu untuk lelaki pohon jeruk. "Terimakasih," katanya langsung menuju ke perapian.

"Rumahmu hangat dan nyaman." ujar si lelaki pohon jeruk sambil menggosok-gosokkan dua telapak tangannya, sesekali ia juga meniupkan nafasnya ke celah antar telapaknya.

Hening mengambil kursi, lalu duduk di depannya. "Tidak, atap bagian belakang rumahku bocor. Apa kau mendengar bunyi tetes air? Aku tidak boleh lupa menadahi air dengan ember yang juga sudah berkarat."

Mendengar Hening yang mulai mengomel, lelaki pohon jeruk tertawa. "Lucu sekali. Aku pernah singgah di rumah seorang petani jerami yang tidak beratap. Ember yang kau gunakan untuk menadahi air itu dipakainya di kepala, untuk menghindari air hujan. Oh iya, ngomong-ngomong dinding rumahmu bagus. Lukisan-lukisan yang kau gantung ini pasti warisan keluarga."

"Iya, nenekku yang membuatnya." jawab Hening singkat, tiba-tiba bayangan nenek muncul sekilas di benaknya. "Aku tidak terlalu suka lukisan, tapi semuanya harus kugantung demi menutupi retak-retak yang mulai muncul karena usia rumah ini. Ah, kalau saja aku punya beberapa keping emas untuk memperbaiki semuanya."

Si lelaki pohon jeruk mendekatkan tangannya ke perapian, menikmati panasnya sisi-sisi kobaran api yang lambat laun semakin kecil. "Kamu mengingatkanku pada seorang Ibu pemerah susu kambing yang pernah memberiku segelas air. Rumahnya beratap, tapi dindingnya berlubang-lubang." sambil meneruskan cerita, lelaki pohon jeruk tergelak. "Anak-anaknya sering bermain melempar kerikil dari dalam rumah yang akan menembus sampai halaman. Sangat lucu. Fiuh, terimakasih banyak untuk perapianmu, aku menggigil parah tadi."

"Biasa saja, perapian ini sudah tua. Sekali ketuk pun pasti ada bagiannya yang runtuh. Aku tak tau berapa lama lagi perapian tua ini bertahan." Hening menukas seadanya, pertemuannya dengan lelaki pohon jeruk sudah hampir usai. Suara hujan di luar rumah mulai mereda.

Lelaki pohon jeruk menepuk-nepuk lututnya, siap berdiri. "Hujan mulai berhenti, aku akan meneruskan perjalanan. Oh iya, beberapa mil dari sini ada keluarga nelayan yang baik hati. Aku sempat bermalam beberapa hari di rumahnya, sayangnya pada hari keempat aku harus pergi. Rumah mereka runtuh karena sudah tak muat lagi diisi empat belas anggota keluarga, belum ditambah aku. Kasihan, seorang anaknya yang paling kecil meninggal tertimpa reruntuhan. Semoga Dewa melindungi sisa dari mereka."

Hati Hening mencelos, tak ditanggapinya cerita terakhir lelaki pohon jeruk. Membayangkan kematian mahluk tak berdosa membuat suasana tiba-tiba menjadi kelam, padahal cuaca sudah semakin cerah.

Tik tik tik..

Hening terbangun dari tidurnya, ada tetesan air yang jatuh di atas wajahnya. Atapnya pasti bocor lagi. Kali ini bukan cuma di belakang rumah, tapi kamarnya juga. Biasanya hening akan bermuka masam, mengutuk-ngutuk hujan yang datang. Tapi kali ini lain, diambilnya mangkuk sup di atas meja bekas makan malamnya. Diletakkan di atas tempat tidur, sambil ia pergi memeriksa titik bocor rumah bagian belakang yang belum ditadahi ember.

Tiba-tiba rumahnya terasa semakin hangat. Lukisan-lukisan neneknya yang dulu terlihat buruk rupa juga secara ajaib menjadi lebih enak dipandang. Hening tertawa.

"Beberapa orang datang hanya untuk singgah dan mengingatkan bahwa kita harusnya mensyukuri apapun yang sudah ada.."

Senin, 21 Oktober 2013

LSI

Ada yang tau logo di atas?
Buat yang belum tau, logo tersebut merupakan logo salah satu tempat perbelanjaan kebutuhan sehari-hari. Di Jatinangor cuma ada dua supermarket, Superindo dan Griya.

Dari kecil, gue mengenal Superindo dengan sebutan 'Lion' (karena memang supermarketnya ada di bawah PT. Lion Superindo) waktu pertama kenal sama Tata-Uti-Lidya mereka sering bingung pas gue bilang, "Eh entar belanja di Lion, yuk?"

Seiring dengan bertambahnya usia pertemanan kami, sekarang sudah saling ngerti soal istilah 'Lion' yang gue gunakan. LOL.

Btw kemarin malem gue mimpi..

...

*ada logo Superindo*
Gue     : "Eh, ternyata disini ada Lion ya?"
Mr. Idk : "Wah, ngga nyangka ada Leo disini."
Gue     : "Leo? Itu Lion. Lion Superindo."
Mr. Idk : "Tau darimana? Lambangnya singa kan? Jadi ya bisa aja Leo Superindo."
Gue     : "..."

Minggu, 20 Oktober 2013

HBD Siddhi!

Bikin ini lebih lama daripada bikin tugas Psikologi Organisasi
Happy Belated Birthday Siddhi!!

Untuk merayakan ulang tahun Siddhi, gue-Tata-Lidya-Uti dateng ke rumah Siddhi untuk memberi kejutan!! Meskipun sempat terhalang oleh hujan yang nggak berani kami terobos karena kadonya Siddhi terbuat dari karton, akhirnya sampai juga di rumah Siddhi meskipun telat beberapa jam dari rencana awal.

Beberapa hari sebelumnya juga, gue udah ngomong ke Ibu (ibunya Siddhi) soal rencana kejutannya jadi sesampainya di rumah Siddhi sudah ada nasi liwet menunggu..
:'D
#IbuSangatPengertian

Btw, rok yang gue pake itu namanya rok obnessel dari Batik Trusmi (@eBatikTrusmi),  dan biasanya dipake bareng kebaya. Tapi ternyata dipasangin sama kemeja The Executive yang biasanya jadi inner-nya blazer juga oke kok! Jadi, silahkan dicoba di rumah. LOL.
Cewek-cewek bertopeng~

Di halaman rumah Siddhi, sempet banget emang!

Happy Birthday Siddhi, may universe bless!

Nama: Aulia
Misi: Memotong kue biar bisa lekas dimakan

(masih) Cewek-cewek bertopeng

Jangan ada yang membandingkan ukuran gue sama Lidya, Jangan!!

Halaman belakang rumah Siddhi selalu ya spot favorit buat foto :')


Yasaaaaaa~

Jadi sebelum isi wish square nya wajib isi kissmark dulu :*

Semoga semoga semoga 

Kamis, 17 Oktober 2013

uncategorized




Because we both are weird to each other~

Henna Festival

Sesuai dengan satu poin resolusi yang sudah gue buat semester ini, yakni mengikuti kepanitiaan di luar fakultas, gue bersama Tata akhirnya mendaftarkan diri menjadi volunteer di acara Henna Festival yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Arab UNPAD.

Henna adalah seni lukis tubuh yang bahannya berasal dari tumbuhan Henna (Lawsonia inermis). Pada jaman dahulu, Henna biasanya digunakan oleh putri raja atau bangsawan sebagai simbol kemakmuran dan ganti perhiasan. Henna juga digunakan sebagai penunjang kecantikan di Masa Kerajaan Roma dan populer di kalangan wanita Eropa pada abad 19.

Pada beberapa kebudayaan, penggunaan Henna diwajibkan pada upacara pernikahan untuk mendoakan nasib baik pada pengantin wanita dan menghindari bala bencana yang akan terjadi. 

Tangannya akuuuuuuu :3
Pada acara Henna Festival, gue dan Tata (sebagai volunteer yang nggak mau rugi) mengajukan diri sebagai model (syukurlah ngga ada ketentuan tinggi dan berat badan LOL) untuk lomba lukis Henna kategori wedding.

Henna yang digunakan untuk wedding biasanya memiliki motif yang rumit dan lebih detail, selain itu juga bagian tangan yang dilukis untuk kategori ini cukup banyak yakni dari setengah lengan sampai jari-jari tangan.


Para model Henna Wedding dan hasil karya Henna Artist

Gue beneran nggak merasa rugi waktu tau bahwa syarat bagi peserta yang mengikuti lomba lukis Henna kategori wedding ini adalah harus memiliki pengalaman lebih dari dua tahun.

Trus satu lagi, untuk satu set lukis Henna yang biasanya digunakan untuk pernikahan kita minimal dikenai biaya 300rb rupiah.
*grinning*
*maklum anak kos*

volunteer pantang rugi
Sebagai teman-teman yang baik, Lidya-Uti-Siddhi juga datang dan meramaikan festivalnya! Uti dan Lidya juga mengajukan diri menjadi model dalam kategori lomba yang sama, sayangnya Siddhi nggak ikutan dilukis tangannya jadi kebagian tugas ambil foto kita, hahaha.


Rabu, 16 Oktober 2013

Two is better than one

Kamu, dengan pandangan mata setenang telaga yang tak pernah sanggup kutatap lama-lama. Senyummu menyejukkan, tapi aku tak pernah mau mengakuinya, terlebih di depanmu. Bandung malam hari memang tak sedingin dulu waktu aku masih duduk di sekolah dasar, tapi tetap saja menggangguku yang saat itu hanya mengenakan kaos berlengan pendek.

"Dingin?" ucapmu yang tak kugubris sama sekali. Aku tau, kamu pun tak mengharapkan jawaban. Dengan sigap kamu melepaskan jas abu-abu yang tadi kamu pakai untuk menghadiri pertemuan dengan jemaat gerejamu. Ada desir asing yang menyenangkan saat punggungku tertutupi oleh jasmu, ada wangimu yang tertinggal dan menggelitik saraf olfaktori di hidungku.

Aku benci sekali perasaan hangat seperti ini, makin mengingatkan aku kalau selamanya kita tak akan pernah menyatu. Membuat aku terhempas ke realita bahwa cepat atau lambat kamu harus pergi. "Kamu tau, Nel? Ada beberapa hal yang Tuhan ciptakan sendirian. Dan selamanya akan lebih baik begitu."

"Nisa, aku tau kemana arah pembicaraanmu." kamu bicara lembut, seperti biasa. Tak peduli dalam kondisi seperti apapun, nadamu tetap sama menenangkannya. Tentu saja kamu tau, kamu terlahir dengan kecerdasan di atas rata-rata, selain dengan kebaikan hati yang sama tingginya.

"Matahari, misalnya. Tak ada dua matahari, dua matahari terlalu panas. Dua matahari akan menyakiti banyak orang." aku meneruskan, tak peduli pada respon yang kamu berikan. Saat menyebutkan kalimat terakhir suaraku serak, ada yang luka entah dimana. Aku merasa egois luar biasa kalau harus menyakiti banyak orang demi kebahagiaanku sendiri.

Tanganmu memeluk pinggangku, tanpa berkata-kata. Lionel, rasanya aku ingin sekali lagi memelukmu, rasanya aku ingin sekali lagi merasakan hangat tubuh dan degup jantungmu. Tapi ada beberapa hal yang diciptakan Tuhan hanya untuk sendirian dan mungkin aku salah satunya.

"Tuhan kita satu, Nis. Kita cuma menyebutnya dengan nama berbeda, kita cuma memujinya dengan cara yang berbeda." tukasmu, dengan nada lembut namun tak mengurangi ketegasan kalimatnya. Kamu sangat menyakini hal itu. Dari awal pertemuan kita, kamu selalu bicara kalimat yang sama tiap kali aku menyinggung soal perbedaan yang kita punya.

Aku menarik nafas panjang, menahan agar air mata tak lebih banyak lagi menetes. "Itu menurutmu Nel. Tapi bukan itu yang diyakini oleh Ayahku, bukan itu yang diyakini oleh Ibumu."

"Bagus kalau begitu," kamu menanggapi ucapanku dengan nada ringan, minim keseriusan. "Semakin banyak jumlah Tuhan maka semakin banyak doa yang akan terkabul kan?"

Aku tak menjawab, membuat usahamu untuk menghiburku malam ini sia-sia. Kamu merangkul pinggangku, seperti mengetahui bahwa pembicaraan ini menyerap banyak energi, membuat kaki-kakiku makin lemas berdiri. "Aku tak peduli apa yang diyakini Ayahmu, bahkan Ibuku. Kalau menurutmu?"

"Menurutku kita lebih baik berpisah, agar tidak menyakiti lebih banyak orang." jawabku dengan nada diyakin-yakinkan, meskipun tetap saja ada sekerat ragu yang gagal kututupi. Jangan tanya aku soal pandanganku terhadap Tuhanku, Nel. Aku sudah cukup bertanya kenapa kita diciptakan berbeda dan kecewa karena tak pernah mendapatkan jawabannya.

Malam itu, kamu resmi pergi selamanya dari hidupku.
Aku berjanji tak akan mengubah keputusanku, aku berjanji tak akan datang padamu seperti apapun keadaannya nanti.

Sedangkan kamu, kamu tak berjanji tentang apapun. Alasanmu meninggalkanku hanya satu, karena aku yang memintanya.

...

Jangan, jangan pernah tanya apakah aku menyesal memutuskan semuanya, Lionel.

Saat aku terbangun karena mimpi-mimpi buruk dalam kamar flat-ku yang kecil tanpa seorangpun untuk diajak bicara..
Saat aku terlalu penat untuk membicarakan hari-hari yang kujalani penuh target yang nyaris irasional..
Saat aku terlalu lelah untuk sekedar menangis sendirian dan menumpahkan apapun yang menyesakkan dada..

Then maybe it's true that I can't live without you, and maybe two is better than one. But there's so much time to figure out the rest of my life..
And you've already got me coming undone, and I'm thinking two is better than one..'

Menikah bagi tiga perempuan

Ini memang bukan post pertama dengan topik menikah di blog gue.
Well, berhubung fungsi menulis bagi gue adalah menambah wawasan diri sendiri yang memang pelupa (selain mengabadikan momen) jadi nggak ada larangan untuk menulis sesuatu berulang-ulang, kan? #IyainAjaUdah

Tadi pagi, waktu menunggu tugas dari dosen kelas Rorschach (salah satu alat tes psikologi yang menurut gue seru!) yang berhalangan hadir gue kebetulan ngobrol dengan dua orang teman yang sama-sama perempuan.

Note: Percakapan ini 'berusaha' dibuat semirip mungkin dengan percakapan aslinya dengan modal verbatim memory yang sangat minim.

Udah kepikiran buat nikah belom?

N: "Belom. Gue bahkan nggak peduli kalo nanti umur 30 gue belom nikah. Gue mau ngelakuin apapun dulu sampe puas. Tapi gue nggak berani sih bilang ini ke keluarga gue."

F: "Iya, gue juga mikir gitu. Eh, gue kira selama ini gue sendirian."

R: "Udah. Bahkan udah kebayang punya pendamping pas S2."

Kenapa?

N: "Karena menurut gue semuanya bakal lebih rumit. Gue nggak hanya memikirkan diri gue sendiri, tapi mikirin orang lain juga. Lagipula dengan menikah maka akan banyak ketentuan tidak tertulis yang mau tidak mau harus gue penuhi dan akan membatasi gue. Belum lagi resiko pernikahan yang tidak bahagia, gue nggak mau ambil resiko."

F: "Komitmen sih. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa di-undo. Lagipula gue nggak yakin dengan bertambahnya orang lain di kehidupan gue, gue akan lebih bahagia. Gue cukup yakin bisa membahagiakan diri gue sendiri. Menikah kan beda sama living together, kapanpun nggak cocok salah satu bisa move out."

R: "Gue nggak mikir sih soal masalah-masalah gitu. Maksud gue, emang bakalan ada tapi yaudah dijalanin aja. Dan soal ketentuan tidak tertulis yang tadi lo bilang, mungkin bagi gue ya itu kebutuhan. Mungkin emang faith gue gede ya, menikah kan ibadah, menyempurnakan setengah agama. Dan gue yakin sesuatu yang dianjurkan pasti punya sisi baik."

...
Tiga perempuan muda, tiga kepala, dua keputusan, beragam alasan.
Dia Maha Tau yang paling baik hari ini dan nanti..
:)

Oiya ada bonus foto dua bidadari yang tadi ngobrol bareng gue,
soal siapa jawab yang mana tebak sendiri aja :p

Selasa, 15 Oktober 2013

Hi reflection!

"Poetry is a mirror which makes beautiful that which is distorted." -Percy Bysshe Shelley 

Kuliah ngapain aja?

"Kuliah bakal ngapain sih, mbak?" tanya adek gue waktu dia kelas 3 SMA, kira-kira setengah tahun lalu. Sebagai kakak teladan mulailah gue memberi ceramah soal tugas-tugas menggunung, pergaulan yang lebih longgar, jam belajar sampai dini hari, dan lain-lainnya. Tidak lupa dengan pesan sponsor supaya rajin belajar, pandai menjaga diri, dan lain-lainnya.

Lalu berlalulah waktu, dengan ajaib seperti biasa.

Gue yang masuk ke semester lima dan mulai 'berani' untuk mengambil kegiatan diluar akademik meskipun berujung pada memforsir diri habis-habisan dan masuk ke siklus sakit-baikan-sembuh-forsir-sakitlagi-danseterusnya-tapimasihhidup.

Adek gue masuk semester satu.
Bukan, bukan di universitas negeri yang masuk sepuluh besar se-Indonesia.
Bukan juga jurusan favorit yang didaftar sekian ribu orang dan hanya menyediakan sekian puluh kursi. Tapi sepak terjangnya di semester satu yang belum selesai harus gue apresiasi banyak-banyak.

Sambil kuliah, dia jadi daily-worker di hotel-hotel bintang lima di Jakarta. Ini bukan soal nambah uang jajan, sih. Soalnya payment yang didapet juga nggak bisa dibilang besar, tapi ini tentang pengalaman. Dia udah kenal chef-chef yang memang jadi bosnya waktu jadi daily-work. Gabung ke proyek acara lumayan bareng sama orang-orang hebat di bidangnya dia. Bikin minder ngga? Banget sih gue.

Melihat apa yang sudah dilakukannya, gue kayak mau ngaca dan nanya ke diri sendiri:
"Selama ini lo kuliah, ngapain aja sih, Ul?"

Jumat, 11 Oktober 2013

I'm afraid of the dark


"Come here, let me hold you along the night.."

Seperti apa, Tuan?

Tentang kemarahan-kemarahan yang kuluapkan karena kamu tak juga berhasil menyelipkan satu-dua kecupan di antara kesibukanmu.

Tentang rindu yang mengisi tiap pori-poriku setelah kamu melambaikan tangan siap pergi mengejar mimpi-mimpimu yang menjulang tinggi.

Tentang senyum yang lama bertahan saat kamu kembali.

Pernyataan cinta seperti apa yang dapat meyakinkanmu tentangku, Tuan?

Senin, 07 Oktober 2013

Kintsukuroi

Di tengah perkuliahan, Siddhi yang asik baca artikel di tabletnya menyodorkan sebuah gambar. Gue yang cuma baca awal kalimatnya cuma senyum sambil mengangguk. Trus Siddhi bilang, "Liat akhir kalimatnya, deh."

"....the piece is more beautiful for having been broken."

Bukan Pemilik TK

Ada salah seorang teman yang berkata bahwa,
Kadangkala kita bisa mengubah persepsi terhadap seseorang bahkan tanpa terjebak dalam pembicaraan panjang. Kemarin gue merasakan hal yang sama.

Beliau adalah seorang teman laki-laki dari Fakultas Ilmu Budaya yang baru gue kenal seminggu, itu pun tanpa pernah mengobrol intens.

Ceritanya, sehari sebelum acara kami membutuhkan meja yang jumlahnya tak sedikit dan beliau bisa dengan cepat mendapatkan pinjaman tanpa biaya dari sebuah TK (taman kanak-kanak) yang katanya milik beliau.

Gue: "Eh, katanya lo punya TK ya?"
Dia : "Oh, bukan punya gue kok."

Sampai di detik ini yang ada di kepala gue adalah, 'paling juga punya orangtuanya.' karena memang gue punya banyak sekali teman yang orang tuanya pemilik instansi ini itu sehingga mendapat kemudahan dalam banyak hal terutama pinjam meminjam properti, hehehe.

Gue: "Trus, punya orang tua lo?"
Dia : "Gini, dulu waktu kecil gue pernah ngaji. Nah, gue ngaji sampe besar di TK itu. Sekarang, saatnya gue membesarkan (aktif mengembangkan) TK itu, Ul."

Tanpa menunggu lebih lama lagi, gue salami tangannya.
"Hebat, sumpah lo hebat banget. Gue bangga sama lo. Lo laki-laki hebat!"

Semesta selalu saja menyelipkan kejutan, ya?
:)

Kamis, 03 Oktober 2013

Prioritas

Dira memandangi LCD ponselnya, satu pesan terakhir dari Azka sukses membuat airmatanya menggenang. Padahal cuma tiga kata, harusnya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kritik dosen-dosen galak di kampus.

'Maaf aku sibuk.'

Sudah, itu saja. Tiga kata yang menyisakan sakit menjalar di tubuh Dira.

Azka sudah menjanjikan waktu untuk kencan mereka. Hari ini bukan perayaan anniversary karena anniversary mereka sudah jauh terlewati berbulan lalu tanpa kehadiran Azka. Dira bukan tipe perempuan yang mudah menangis dan melulu menuntut perhatian besar dari pacarnya. Dira hanya mau mereka bertemu, cuma itu. Lagipula ini sudah bulan keempat yang dilewatkannya tanpa sekalipun bertemu Azka.

"Kenapa Dir?"

Dira menoleh, Theo datang dengan kemeja polos warna biru, seragam kerjanya sebagai quality control di satu pabrik sepatu. Baru sepuluh menit yang lalu jam bubar pabrik dan sekarang tau-tau Theo sudah ada di sampingnya, siap mendengar ceritanya.

Melihat ekspresi Dira yang muram, Theo langsung tau jawabnya. Padahal baru kemarin sahabatnya menelpon dengan nada riang. Hari ini kekhawatirannya terbukti, Azka mengecewakan seperti biasa.

Sebenarnya, kalau saja memungkinkan, Theo sudah gemas ingin mendaratkan tinju di wajah pacar Dira. Azka yang kuliah di kampus ternama se-Indonesia selalu saja menjadikan kesibukan sebagai alasan membuat sahabatnya sedih. Theo tak peduli kalau Azka memang benar-benar sibuk, dia hanya peduli pada Dira.

"Yaudahlah Dir, mungkin emang iya Azka sibuk." ucapnya sembari mencomot tahu goreng yang ada di atas meja warung makan. Theo benci berpura-pura memaklumi Azka, tapi dia tau mengonfrontasi Azka hanya akan membuat Dira makin sedih.

"Emangnya Theo ngga sibuk?" tanya Dira, tiba-tiba.

Theo menghentikan aktivitas mencari cabe rawit yang tadinya akan dimakan bersama tahu goreng. "Kalau kerja mulai jam delapan sampai jam lima masuk kategori sibuk, ya iya aku sibuk."

"Tapi selalu aja bisa dateng buat Dira kan?"

Theo tau kemana pembicaraan ini akan bermuara. Jangan sampai Dira membandingkan dia dengan Azka, akan seperti langit dan bumi. Azka yang membawa mobil keluaran terbaru, silsilah keluarga terhormat, dan wawasan luas luar biasa. Apalah arti seorang Theo dibandingkan Azka, cuma pekerja pabrik yang mati-matian mengumpulkan rupiah untuk meneruskan kuliah yang sekarang statusnya cuti. Membandingkan dirinya sendiri dengan Azka membuat Theo merasa serba tak pantas.

"Azka kan beda Dir, mungkin dia sibuk sama BEM nya. Mungkin juga dia..."

Dira menyela, "Tapi Theo bisa dateng buat Dira, kenapa?"

"Soalnya kamu memang prioritasku." jawab Theo, tanpa melakukan proses berpikir panjang. Dira memang prioritasnya, akan dilakukannya apapun yang dia bisa untuk Dira.

Seperti ada saklar lampu yang menyala.
Dira menemukan alasan ketidakhadiran Azka, janji-janji temu yang diewatkan Azka begitu saja. Bukan, sama sekali bukan kesibukan Azka yang jadi alasannya.

Selasa, 01 Oktober 2013

Aku rasa itu cukup,

Seorang teman dekat melontarkan pertanyaan ke gue sore tadi, "Kamu tau apa bedanya perilaku menolong yang dilakukan oleh psikolog (tenaga profesional) dan oleh teman?"

...

"Klien datang ke psikolog dengan kesadaran bahwa dia memiliki masalah dan membutuhkan pertolongan. Sedangkan dalam membantu teman, kita nggak selalu menolong setelah diminta kan? Inisiatif untuk menolong seringnya datang malah saat teman kita nggak menyadari kalau dia butuh pertolongan. Untuk beberapa hal yang ranahnya sangat pribadi dan mungkin membahayakan, kita bisa jadi dimusuhi. Tapi selama teman kita tertolong, aku rasa itu udah lebih dari cukup."

 

Template by Best Web Hosting