Jumat, 27 Desember 2013

I'm nude

 
"Hey babe, I'm nude now."

"What?"

"My nails! You pervs!"

"Lols! I'd love that too, hon."

Kamis, 26 Desember 2013


Perempuan menyerahkan kekecewaan bukan pada kasar ucapan,
tapi pada diamnya tutur dan ucapan doa yang diucapkan dalam hati.

Selasa, 24 Desember 2013

Nggak bijak tapi efektif

Beberapa orang punya kemampuan buruk dalam mengingat.

Sebagiannya sama sekali tidak bisa memaafkan, atau mungkin hanya tidak pernah mencoba. Tidak pernah membiarkan sebagian jiwa merasa bebas.

Beberapa orang menyelesaikan masalah dengan tersenyum, sebagiannya lagi dengan menangis, sisanya berdoa pada sosok yang ada di atas langit.

Beberapa orang menghadapi masalah dengan membiarkan, sebagiannya mungkin tak bisa lega kalau belum membalaskan.


Minggu, 22 Desember 2013

Table Etiquette



The Cheater’s Guide to Table Etiquette – An infographic by the team at Appliance City

Tentang Sinta Pertiwi

Ya Tuhan, gue sayang banget sama orang ini..
Namanya Sinta, udah ya udah ngga usah diceritain entar orangnya kesenengan.

...
 
Gue:  "Gue laper nih,"
Sinta: "Ya, gue juga,"
Gue:  "Pingin makan (di rumah makan) padang yang banyaaaak!"
Sinta: "Jangan entar lu kayak sapi."

SAPI!!
:''''''' 

...

Gue:  "Bete ah."
Sinta: "Kenapa?"
Gue:  "Pak bos belum bangun juga, udah dua belas jam belum bangun juga."
Sinta: "Oh."
Gue:  "Gue ditinggal tidur dua belas jam Ta!! dua belas jam!"
Sinta: "Mending mana? Ditinggal tidur dua belas jam tapi dia tidur sendiri atau ditinggal bobok dua jam tapi bobok sama cewek lain?"
Gue:  "...."

MENURUT NGANA?

...

Sinta: "Sabar Ul, kita harus belajar sabar,"
Gue:  "Gue udah sabar dari semester satu! Udah sabar gue!"
Sinta: "Belajar sabar, kita harus terus belajar,"
Gue:  "Iyeeeee,"

...

Kenapa gue sayang Sinta? Let me think..

1. Sinta selalu sabar menghadapi gue PMS, meskipun kadang komentarnya nyebelin.
2. Sinta yang gue lihat pertama kali ikutan nangis waktu gue curhat pas putus,
padahal itu di tempat makan, dan kita diliatin orang.
3. Sinta nggak pernah melakukan konfrontasi ke gue pas gue marah dan malah ngomel-ngomel ke dia, tapi selalu mengingatkan di momen yang lain.
4. Sinta ngerti kejelekan-kejelekan gue dan tetep mau berteman sama gue (kamar berantakan, prokastinator, dan lain-lainnya)
5. Sinta membiarkan gue 'belajar' dengan cara gue. Tapi pas gue jatuh, kepleset, kesandung, dia bakal ada buat dengerin tanpa bilang 'I told you so,'
6. Lemari gue ya lemari sinta, lemari sinta juga lemari gue. Baju, tas, apapun bisa dituker dan dipinjem.
7. Sinta nggak pernah memaksa gue untuk 'memaafkan' which is I'm very bad on it but she always gives tons of example of it.
8. Sinta selalu bersedia nginep di kamar gue pas gue lagi butuh ditemenin.
9. Sinta adalah orang pertama yang gue kabarin kalo gue suka sama orang.
10. Sinta bersedia labrak cowok manapun yang nyakitin gue, tanpa mikir dua kali.
11. Bestfriend? Bitch please, she's like a sister to me..

Gue masih punya banyak alasan untuk sayang sama Sinta.
No, gue nggak berharap kita temenan sampai tua. Kita nggak temenan, kita saudara.

Iya, sesayang itu gue sama Sinta.

Alpha male


Happy Mother's Day

Halo Mama,
Selamat hari ibu yang lagi-lagi tak berhasil kurayakan di rumah.
Aku rindu.

Aku rindu senyummu, tiap kali aku datang dan memeluk manja.
Aku rindu caramu memberikan pelajaran-pelajaran kecil namun berharga tak terkira.
"Nduk, gini caranya motong buncis. Masak itu bukan cuma soal rasa tapi juga tampilannya nduk,"

"Nduk, kamarmu mbok yang rapi. Jadi Nyonya rumah itu harus peduli sama rumah nduk."

"Nduk, ayo sini bantu mama masak. Kamu mau suamimu lebih milih makan di luar ketimbang makan masakanmu?"
Jadilah aku, bersungut-sungut membereskan kamar, bersungut-sungut belajar memasak sampai hafal di luar kepala. Namun terasa saat mulai beranjak dewasa, dapur bukan tempat yang asing untukku. Meskipun soal kerapian, ah sudahlah.

Kalau bukan karenamu, siapa lagi yang mampu mengajari si gadis keras kepala ini?
"Perempuan harus pintar dalam banyak hal nduk. Perempuan harus banyak belajar," ujarmu suatu hari. Aku mendengus, kesal.

Perempuan harus pintar, perempuan harus mahir mengolah bahan masakan, perempuan harus peka, perempuan harus bisa menjaga nama baik keluarga dan suami.

"Laki-laki yang hebat, butuh partner yang seimbang dalam diskusi. Belajar nduk, anak-anakmu berhak dididik oleh ibu yang cerdas,"

Darimu aku belajar. Ini bukan soal hanya memenuhi kecukupan standar, ini tentang menciptakan standar yang tinggi dan berusaha melampauinya.
"Tak ada lelaki sempurna, nduk. Tapi kamu bisa memberikan yang terbaik yang kamu punya. Niscaya dia akan lebih keras berusaha untukmu, untuk anak-anakmu kelak."

"Menikah bukan soal memburu waktu, kamu boleh menikah kapanpun kamu mau. Aku mau kamu bahagia, lebih dari saat masih menjadi anak gadisku satu-satunya,"

Ah, mama.
Mama tau itu tak mungkin kan, ma?
:')
Ma, kamu satu-satunya alasanku tetap berpegang teguh pada keyakinanku soal titian karir. Saat semua berlomba menyalahkan wanita karir atau rusaknya rumah tangga, saat semua menyalahkan minimnya waktu bertemu sebagai rasionalisasi perselingkuhan, aku bahagia dibesarkan olehmu.

"Meniti karir bukan soal uang, nduk. Tapi soal berpikir, tetap memutar otakmu supaya tak membeku. Butuh laki-laki hebat untuk membiarkan istrinya keluar rumah dan bergaul. Butuh lelaki hebat yang tetap percaya bahwa jenjang karir tak akan membuat perempuan menjadi arogan,"
Oh, terakhir.
Beberapa kutipan yang sering membuat dahiku mengernyit heran.
Kutipan yang seringnya membuatku bersyukur menjadi satu-satunya gadismu.

"Tadi mama ke pasar, pulangnya ada kucing kecil, kayaknya sakit. Mama kasihan, trus minta ijin Papa untuk bawa ke rumah dan ngerawat. Mama beliin susu, beliin makanan kucing. Sekarang lagi tidur, baru selesai mama suapin susu."

"Mama mau beli susu kotak satu dus. Kalau lihat anak kecil yang ngamen di jalan, mau mama kasi susu aja,"

"Ayo nduk, baju-baju bekas yang sudah nggak dipakai di-pack. Nanti mau mama kasi ke orang yang butuh. Buku dan mainan-mainan yang sudah nggak dipakai juga di-pack ya.. Sepatumu juga. Buat apa punya banyak tapi nggak berguna? Banyak yang butuh, nduk."

And raised by a mother like you,
I'm sure I will never get lost.

Happy Mother's Day, Mam.
I love you, I love you always.
:)

Sabtu, 21 Desember 2013

Sweet Saturday Night

This day was a full rainy day!
Jatinangor was raining almost along the day, rrrgh!!

I feel bored, then I asked Sinta to hang out.
Then here we are, dating with chocolate~

Hello calories
:'D
me in Pijamas!
OMG!
No, forget the ugly face. Just focus on chocolate.

Another pancake!
Have a great saturday night, love..
Sinta is like a sister to me, I can talk everything to her.
And yes she knows how to treat me, she knows how to understand the way I thought.
Yes I love her!!
<3

Such a bf

'What are you doing?"

"I'm protect what I love, love."

Christopher Poindexter

 
Via @WordPorn

You never drink, don't you?

"Let you go out and drink in a bar isn't fair." he said. "You never drink, don't you? Trying alcohol only because I drink 'em is such a silly reason. I'll go drinking with friends. You go shopping with your friends. I won't ask you to choose between your shopping time and me. But every time you need me, I'll go to you."

"..."

"Darling,"

And then we kissed. Over and over again.

Ps: this post is fiction. Not totally, some of it were really happened.
Which part? I'll let you guys guess. Kissing part? It's a maybe.
Me never drinking part? Well, nice try.

You are, dear.

Lila menggigit bibir, sudah seharian ini Milka sulit dihubungi. Entah pada percobaan panggilan ke berapa, baru akhirnya terdengar sapaan di ujung panggilan.

"Halo, sayang," suara Milka lembut, seperti biasa.

Lila menghela nafas, "Kamu kemana aja sih Ka? Aku udah telpon berkali-kali dari pagi, tapi nggak diangkat,"

Milka tertawa kecil, tiap kali Lila bicara cepat bercampur gemas Milka memang selalu tertawa. "Aku masih baca buku untuk tesis aku, La. Maaf ya, hp-nya aku silent,"

Lila diam, pikirannya menerawang ke beberapa bulan lalu.

...

"Susah banget ya emangnya hubungin aku? Aku cuma minta kamu ngabarin aku aja Rey, aku khawatir,"

Laki-laki yang diajak bicara menjawab dengan suara tinggi. "Kamu kira urusan aku cuma ngabarin kamu? Aku punya banyak urusan disini, La. Banyak yang lebih penting!"

...

"Sayang?" Milka memanggil setelah menyadari tak ada lagi suara Lila yang keluar. "Sayang, are you okay?"

Lila terkejut, cepat-cepat menjawab. "I'm fine. Yaudah kamu lanjutin aja ngerjain tesisnya. Maaf ya Ka,"

"Maaf?"

"Iya, maaf. Harusnya aku nggak bawel minta kamu hubungin aku. Toh, masih banyak yang lebih penting yang harus kamu kerjain," lanjut Lila dengan suara parau. Ada sakit yang tersisa dari hubungan terdahulu.

Milka diam, ada yang salah. "Lila, sayang. Kamu penting buatku. Kalau kuselesaikan tesis ini tanpa kamu di sampingku, buat apa? Aku mau kamu, Lila. Bukan cuma hari ini, tapi di masa depan juga. Tesis ini cara nyata aku mempersiapkan masa depan untukmu, La."

...

"You're my whole world, Shakarim." -K

Jumat, 20 Desember 2013

Tuan Cahaya

Jawablah Tuan, apakah kau keturunan cahaya karena kelamku seperti sirna tiap kali kau mengarahkan pandang.

Tuan, tidakkah cangkir kopimu butuh diisi? Dengan kopi hitam tanpa sedikitpun gula, kan? Aku hafal yang jadi kesukaanmu, aku berharap suatu hari nanti aku masuk dalam kategori itu.

Bicaralah Tuan, aku bisa mati lemas disini kalau kau hanya menoleh dan melemparkan senyum tanpa bertanggungjawab memunguti hati yang jatuh berkali-kali.

Tuan, apakah kau keturunan raja karena desir-desir dalam pembuluhku turut dalam tiap gerakanmu tanpa bertanya.

Sekali lagi Tuan, apakah kau keturunan cahaya?
Karena tanpamu, duniaku temaram.

 

Kamis, 19 Desember 2013

Mimpi lelaki

Perempuan boleh sering-sering mengeluh bahwa pasangannya tidak peka, sulit mengerti perasaan yang tidak diungkapkan dengan kata-kata.

Perempuan boleh sering mengomel kalau pasangannya lupa tanggal-tanggal penting yang harusnya dirayakan.

Namun kadang, perempuan lupa bahwa isi kepala laki-laki berisi rencana-rencana masa depan dengan mimpi-mimpi besar yang nantinya membutuhkan sosok ratu.

Perempuan tidak tau, energi laki-laki sering dihabiskan seharian dalam rangka mengusahakan rencana dan mimpi-mimpinya menjadi nyata.

Kalau dia menyertakan namamu dalam mimpi besarnya, kamu hanya perlu berdoa semoga semua jadi nyata. Dia sudah cukup lelah dengan rencana-rencananya sendiri, tak perlu lagi bebannya bertambah dengan keluhan-keluhanmu.

Perempuan mungkin tidak tau, dalam langkah-langkah menuju tercapainya mimpi itu laki-laki sering goyah dan lelah.

Saat goyah dan lelah, lelaki biasanya hanya mengingat dua hal untuk membakar kembali semangatnya.

Yang pertama, ibunya.

Yang kedua, (kalau beruntung) perempuannya.

Rabu, 18 Desember 2013

Makin bertanya, makin menyesatkan

Beliau adalah  dosen yang sosoknya sangat menginspirasi dan sudah beberapa kali dituliskan di blog ini. Pintarnya, jangan ditanya.
Baik kemampuan dalam bidang ilmu yang beliau tekuni dan kemampuan mengajarnya sama-sama luar biasa.

Dalam satu pertemuan, beliau memberikan sebuah tugas. Di akhir penjelasan mengenai konten tugas yang harus dibuat, seperti dosen pada umumnya beliau juga mengumumkan tenggat waktu. "Dikumpulkan hari Rabu ya,"

Lalu seorang dari kelas bertanya, "Jam berapa, Mas?"
(panggilan Mas tidak memiliki korelasi dengan umur beliau, melainkan hanya budaya fakultas yang tidak memanggil dosen dengan sebutan Pak/Prof tapi lebih ke Bang/Mas/Kang)

Beliau lantas tersenyum, "Kalian lucu ya. Mau-maunya bertanya untuk menyulitkan diri sendiri. Lain kali kalau ada dosen yang bilang deadline tugasnya hari Rabu, jangan ditanya jam berapa. Secara teknis, hari Rabu jam 23.59 pun masih terhitung hari Rabu kan?"

...


Dua minggu lagi UAS, fakultas memiliki toleransi antar agama yang cukup tinggi sehingga mengubah jadwal ujian yang seharusnya ada pada hari raya Natal sampai Tahun Baru menjadi lebih awal. UAS dijadwalkan selesai sebelum hari raya Natal.

Hampir semua dosen berlomba-lomba untuk memberikan tugas individu. Apalagi tujuannya selain menambah kolom nilai kami karena ada beberapa mata kuliah yang jumlah pertemuannya terpotong cukup banyak.

Pada mata kuliah Psikodiagnostika III juga sama. Kami diminta membuat laporan wawancara secara individu yang melibatkan orang luar (bukan mahasiswa psikologi) sebagai interviewee (orang yang diwawancara).

Wawancara yang dimaksud bukan sekedar mengobrol, tapi dimulai dari menyusun panduan wawancara berisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang diturunkan dari kompetensi yang ingin digali dari interviewee. Kompetensi tersebut juga harus sesuai dengan tujuan wawancara. Teknik yang digunakan bukan wawancara tradisional, artinya kami harus menyiapkan betul-betul tugas ini.

Jangan lupa juga laporan verbatim (laporan percakapan wawancara persis kata per kata yang diucapkan) dan kesimpulan kompetensi interviewee yang harus dikumpulkan.

Kelas ricuh, mengingat tugas-tugas lain yang menunggu untuk dikerjakan, tugas berbentuk pratikum pasti akan menyulitkan kami. Lalu setelah dosen mengucapkan konten tugas, ada mahasiswa yang bertanya:

Mahasiswa 1: "Mbak, apa perlu direkam dengan video ya?"
Dosen: "Ngg, iya.. Tolong rekaman audiovisualnya dikumpulkan ya."

Oke. Tugas bertambah.

Mahasiswa 2: "Mbak, itu referensi panduannya gimana?"
Dosen: "Ya, lampirkan juga referensi panduannya. Baik berupa buku atau wawancara terhadap narasumber."

Great!

Mahasiswa 3: "Mbak, bajunya gimana?"
Dosen: "Menggunakan pakaian resmi. Ruangannya juga harus terstandar ya, jangan lesehan (duduk di lantai)."

Rrrgh!!

Mahasiswa 4: "Dikumpulinnya minggu depan waktu mata kuliah ini ya Mbak?"
Dosen: "Ya, dikumpulkan paling lambat minggu depan setelah pertemuan selesai ya."

Untung nggak ada yang sampe nanya,
"Mbak dikumpulinnya harus di meja dosen atau loker dosen? Pake tangan kanan atau kiri? Di sebelah kiri meja atau sebelah kanan meja? Berdoa dulu apa enggak?"

Atau sekalian aja,
"Mbak waktu ngumpulin saya harus pake baju dalem warna apa ya?"

Please~

Networking works!

Halo!

Gue sering banget ya ngomongin pemikiran sendiri, mulai jarang post tentang orang-orang terdekat yang berjasa (?) dalam membentuk traits maupun pola pikir gue (?).
Apasih gue. Hahaha.

Ini foto gue, Tata, sama Uti waktu mau berangkat ke drama musikal anak-anak.
Waktu orang-orang dengan jurusan yang sama berangkat bareng ke seminar atau pelatihan, kami ya gini-gini aja. Cari promo kafe, dateng ke festival musik, festival budaya, dan hal-hal lain yang jauh dari kesan 'mikir'.

Tapi jangan salah, kegiatan yang kental dengan 'sosialisasi' begitu justru yang memberikan banyak keuntungan (menurut gue sih). Soalnya selama ini kalau ada ajakan untuk join proyek ini itu, gue jadi kandidat ya karena 'temen'.

Seriously, I'm not that kind of smart-ass so people usually choose me because they know me. Or simply because they're my friends.

Jadi, buat yang lagi (atau baru mulai) kuliah. Jangan dikira jalan sana-sini dan nambah kenalan itu nggak ada gunanya. Trust me, networking works. Especially when you're not gifted. LOL.

Selasa, 17 Desember 2013

Tiga Ospek

Setelah membaca berita tentang Kematian Mahasiswa karena Ospek, gue merasa perlu untuk membagi pengalaman gue yang berkaitan dengan Ospek. Basi sih, tapi blog juga blog gue, jadi terserah gue kan? #IyainAja

Pertama kali berkenalan sama ospek ya waktu SMP.
Diminta bawa barang aneh-aneh, dateng pagi, dan minta tanda tangan senior untuk memenuhi kolom tanda tangan di buku panduan siswa baru.

Jaman ini, sebagai siswa baru kita nurut-nurut aja sama perintah senior.
Gue malah pernah diminta memperagakan jadi stripper meskipun akhirnya nggak jadi karena mematung depan kelas (maklum masih polos, belum ngerti apa itu stripping).

Senior 1: "Eh kamu, maju ke depan."
Gue : *nurut*
Senior 2: "Enaknya diapain ya,"
Senior 3: "Suruh nari erotis aja,"
Gue : *diem* *ngga ngerti itu tarian dari daerah mana*
Senior 1: "Tuh, kamu denger kan?"
Gue : "Itu kayak gimana ya kak? Boleh dicontohin dikit ngga?"
Senior 1: *liat ke senior 2*
Senior 2: *liat ke senior 3*
Senior 3: *ambil kursi* *kayaknya mau ngasi contoh*
Gue : *merhatiin baik-baik*
Senior 1: "Eh eh, ngga jadi. Udah deh kamu nyanyi aja."
Senior 2: "Iya, udah ngga usah. Kamu nyanyi pelangi-pelangi aja."

-_____-"

Ospek kedua, SMA.
Lebih aneh, lebih menyebalkan.
Soal tugas yang banyak dan bawaan yang memang dibutuhkan seperti bekal makanan memang logis. Tapi senior yang sepanjang hari teriak tak peduli apapun yang kita perbuat agak membingungkan.

Senior: "DEK, KALIAN SENYUM DONG DEK. PELIT AMAT SIH NYAPA SENIORNYA."
Junior: "Iya kak,"
Senior: "JANGAN IYA-IYA AJA, LAKUIN!"
Junior: *diem*
Senior: "DENGER NGGA? KENAPA DIEM AJA? BISU?"
-..-

atau

Junior: *senyum*
Senior: *tampang jutek*
Junior: "Siang kak,"
Senior: "SAYA MUAK LIAT SENYUM PALSU KAMU DEK!! MUAK SAYA!"

Yaudahlah.

Ospek terakhir, waktu jadi mahasiswa baru.
Tanpa melebih-lebihkan fakultas sendiri, proses PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) fakultas emang kece luar biasa. Nggak ada acara teriak-teriak nggak bermakna. Baik panitia dan peserta memiliki hak yang sama baik dalam berpendapat maupun melakukan negosiasi perjanjian tertentu.

Setelah menjadi mahasiswa Psikologi, baru gue tau bahwa PMB yang dijalankan di fakultas bukan sekedar berdasar pada common sense tapi juga teori dan metode yang dipertimbangkan masak-masak oleh panitia.

Tujuan PMB dibuat dari kebutuhan, yang lalu diturunkan ke indikator-indikator perilaku. Blah! Proses merancangnya panjang dan melelahkan, jendral!!

Melihat proses ospek di SMP dan SMA, juga membaca berita tentang penerimaan penyiksaan mahasiswa baru yang sampai merenggut korban jiwa....
Allah, aku tau Kau tak pernah tidur.

Allah, aku tau Kau Maha Mendengar doa ibu yang anaknya mati sia-sia akibat perilaku maha tolol mahluk-mahluk yang bangga menyebut dirinya mahasiswa.

Senin, 16 Desember 2013

(bukan) Perempuan Baik

Januari 2013

"Aku mencintaimu, kamu tau kan?" ujar Zandi sambil memelukku dari belakang.

Aku diam, mengamati tetes-tetes hujan yang saling berlomba melalui kaca jendela. Bandung selalu hujan sore hari, hal itu menghalangi aku pergi ke luar. Aku alergi hujan.

Zandi menghela nafas, dia tau diamku sama sekali bukan pernyataan 'iya' yang pasif. "Itu cuma kain, sayang. Tak akan mengurangi sedikitpun cantikmu,"

Sudah tiga bulan ini, Zandi memintaku mengubah banyak hal. Nyaris semuanya. Kebiasaanku pulang larut malam, mampir dan mengobrol di bar dengan teman-teman sekantor, sampai yang ini.

"Jilbab akan membuatmu makin menarik," sekali lagi, Zandi berusaha meyakinkanku.

Aku perlahan melepaskan diri dari pelukannya. "Jangan mengajukan alasan lain. Ini semua untuk ibumu, kan?" tanyaku, mulai kesal. Kami sudah berpacaran selama tiga tahun dan Zandi masih enggan mengenalkanku ke keluarga besarnya karena satu alasan. 'Ibu mungkin nggak cocok sama pakaianmu.'


"Salah kalau ibuku mau punya menantu baik-baik?" tukas Zandi, tak lagi berbicara dengan gaya persuasi. "Semua orang tua mau anaknya dapat pasangan yang baik, Citra,"

"Kalau baik dan tak baik dinilai dari selembar kain. Maka Tuhan tak akan repot menimbang amalan kita, Zan," aku melunak. Tolol rasanya kalau harus adu argumen karena masalah sepele.

"Apa sulitnya buatmu? Itu cuma soal penampilan," Zandi tetap bersikeras, tak menggubris pendapatku.

Aku tersenyum, memalingkan muka. "Ya, itu cuma soal penampilan. Apa sulitnya buatmu menjelaskan pada ibu kalau tidak semua perempuan dengan rok pendek itu murahan? Sama seperti tidak semua perempuan dengan jilbab mampu menjaga baik-baik kesuciannya,"

"Aku capek terus-terusan bertengkar dengan topik yang sama, Cit. Kamu boleh pilih, mengubah penampilanmu atau menyelesaikan semuanya hari ini,"

Ada sakit yang mengiris, sebentar. Namun egoku kemudian mengambil kuasa, "Aku memilih bersama dengan laki-laki yang mau menerimaku. Bukan masalah kalau memang bukan kamu orangnya,"

...

Desember 2013

"Sayang, nanti pulang terlambat?" Darren bertanya dengan latar belakang suara klakson-klakson mobil. Pacarku ini pasti sedang terjebak macet Jakarta sore hari.

Aku berdehem, mencari jawaban yang tepat.

"Kalau banyak kerjaan, it's okay. But take care yourself. Don't skip your meal," sambung Darren tanpa keluhan. Sudah dua rencana kencan harus kubatalkan demi mengejar tenggat waktu pekerjaan yang makin lama rasanya makin gila.

"Siapa bilang? Aku ada agenda malam ini, menemani kamu minum. Jadi kalau kamu mabuk, aku bisa bawa mobilnya," ujarku bersemangat, sambil merencanakan untuk ijin tidak mengikuti rapat redaksi malam nanti. Ada yang lebih penting dari sekedar promosi jabatan sebagai upah lembur hampir setiap hari.

Darren tertawa, "Don't ever think about it. Aku nggak akan mabuk dan memberikanmu kesempatan pergi dengan laki-laki lain,"

"I must be drunk to leave you, darl."

Darren tertawa, menyenangkan seperti biasa. "Oh iya, lusa Ayah ulang tahun. Kamu ingat kan?"

"Ya, aku ingat. Aku harus pakai baju apa? Ayah suka dibawain apa?"

"Pakai apapun, asal nggak telanjang. Dibawain calon menantu juga Ayah udah seneng kok. Biar sekalian bisa ngobrol dan kenal seperti apa calon ibu dari cucu-cucunya,"

"..."

"Citra, I love you,"

Jumat, 13 Desember 2013

Oleh Raka

"Bukan cuma sekedar cantik, banyak yang lebih penting dari itu.

Cerdas, perempuan cerdas tau bagaimana harus bersikap. Perempuan cerdas akan pandai menempatkan diri dan menjaga nama besar suaminya. Perempuan cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas.

Baik, perempuan baik senantiasa berada di jalan yang benar. Perempuan baik tak akan menyia-nyiakan sumber daya yang diberikan. Perempuan baik akan mengajarkan anak-anak tentang kasih sayang di dunia yang nyaris penuh dengan kebencian.

Setia, perempuan setia tak akan berlaku yang memalukan keluarga. Perempuan setia akan bertahan meskipun di saat-saat sulit. Perempuan setia tetap membesarkan hati suaminya meskipun hatinya sendiri terasa sakit.

Kalau mencari rekan hidup hanya sekedar cantik, maka menua bersama tak akan dituliskan sebagai tujuan sebuah hubungan. Untukku, kamu yang paling cantik."

Jawaban atas pertanyaanmu kemarin sore.
Raka Anggara Prasetyo

Kamis, 12 Desember 2013

Berdua saja

Kita boleh bertengkar, saling adu argumen sampai muak teriak.
Kita boleh bicara, menyatakan ketidaksetujuan terhadap rekan.
Tapi soal hati, harus tetap sejalan.

Kita boleh diam, selama saling merangkul mesra.
Kita boleh menatap kecewa, selama saling menyebut nama dalam doa.
Kita boleh menyatakan pemikiran, pun berbeda pandangan.
Tak ada yang mengharuskan kita selalu sama seragam.

Tapi tetap harus saling meyakini, tugas utama kita adalah saling mencinta.
Berdua saja, tanpa sedikitpun celah.
Tak peduli bagaimanapun sulitnya.

Untukmu, yang tetap memanggil sayang bahkan di saat kepalaku berubah jadi batu.

Senin, 09 Desember 2013

Alasan Lelaki

Baru-baru ini terlibat pembicaraan dengan seorang laki-laki hebat. Entahlah, mungkin pendapat yang satu itu murni subjektif hasil dari rasa tersanjung sebagai perempuan. Tapi saya boleh kan menyampaikan hal yang murni opini? Toh tidak ada ketentuan untuk lebih dulu menguji opini saya dengan metode tertentu.

Sebelumnya, ini pembicaraan dengan seorang rekan sekitar setengah tahun lalu:

A: "Bagaimana menurutmu tentang perempuan yang bekerja setelah menikah?"
H: "Biasa saja,"
A: "Kalau kuganti subjeknya, istrimu misalnya?"
H: "Boleh. Asal dia akan ada di rumah sebelum aku ada di rumah. Kapanpun aku di rumah, dia pasti ada dan menyiapkan semua keperluan rumah, mengerjakan tugas rumah, mengurusi anak-anak. Lagipula tidak ada salahnya kan mendapatkan penghasilan tambahan untuk menghidupi rumah tangga?"
A: "Baiklah."

...
Dan ini jawaban si laki-laki hebat:

K: "Perempuan harus bekerja."
A: "Oh ya? Kenapa?"
K: "Supaya bisa punya knowledge yang setara dengan suaminya, knowledge maintains communication. Perempuan bekerja akan punya banyak stuff to do, dia akan pintar, dan memahami perkembangan dunia. You know, manusia harus tetap berfikir supaya berkembang."
A: "Ya, dia juga bisa membantu secara finansial."
K: "No, saya cuma mau dia punya kegiatan dan develop her thoughts. Sebagai laki-laki, it's my responsibility untuk menghidupi istri dan anak-anak. Dia (istri) boleh pakai uang dia untuk apapun dan itu sama sekali bukan urusan saya. Tapi berapa yang dia minta (untuk kebutuhan rumah tangga) itu jadi urusan saya (untuk dipenuhi). Saya cuma minta dia bekerja untuk knowledge, that's it."

And my father has the exactly same thought, Sir..

Jumat, 06 Desember 2013

smoking

Dalam salah satu mata kuliah yang mengharuskan kami untuk mencari objek observasi, seorang senior mengajukan perokok sebagai objek observasinya. Di tengah penjelasan mengenai panduan observasi yang dibuat, si senior mengatakan: "Merokok adalah fenomena biasa yang sering kita temui di masyarakat. Pada umumnya, laki-laki di Indonesia adalah perokok. Contohnya mudah, kebanyakan ayah kita adalah seorang perokok."

Saat itu, timbul harapan atau lebih tepatnya niat kuat, "When his friends are talking about their smoking father, my child will proudly say: My father doesn't smoke. He loves me more than that cancer stick."



"About smoking, it isn't just you that I care about.
It's about my future children's health, dear."

Kamis, 05 Desember 2013

Company Visit, Dinas Psikologi Angkatan Darat

Good morning, Jatinangor

Hari Rabu kemarin, gue-Tata-Uti mengikuti salah satu rangkaian kegiatan Student Career Centre yang judulnya Company Visit. Berhubung jadwal kunjungannya bersamaan dengan kelas Pengantar Rorschach, jadilah kami bertiga (ditambah peserta lainnya) mendapatkan dispensasi untuk tidak menghadiri jam kuliah.
Hip hip horraaaay!!
Welcome..
Kami mengunjungi Markas Dinas Psikologi Angkatan Darat yang berada di Bandung. Jangan tanya gue itu dimana tempatnya, hampir sepanjang perjalanan gue tidur untuk menghindari motion sickness. Pffft!
Grinning, eh?
Disana kami diberikan pengetahuan tentang karir psikologi di bidang militer, kami juga diberikan informasi tentang beasiswa dan rekrutmen untuk berkarir di Psikologi Angkatan Darat. Bagi gue pribadi, materinya menarik dan belum pernah gue dapatkan sebelumnya jadi I paid a huge attention.
See? The view is just beautiful
Lingkungannya pun menyenangkan, seperti markas militer pada umumnya, disana sangat bersih dan teratur. Kak Ade yang menjadi pembimbing kami saat melakukan kunjungan ke gedung-gedung dan ruangan yang ada disana bilang bahwa markasnya pernah menjadi latar belakang pre wedding photoshoot. LOL.
Ini Kak Rodi, fotografer dari pihak panitianya
Semua kakak-bapak-ibu tentara juga menyambut kami dengan ramah, bahkan tidak segan langsung memberikan informasi seputar kegunaan gedung/ruangan dan tugas mereka tanpa ditanya. Banyak kakak-kakak tentara yang satu almamater dengan kami, hehehe.
Sisters!
Siap-siap pulang ke Jatinangor :(
Overall, kunjungannya menyenangkan..
Meskipun gue sendiri ambigu apakah gue merasa senang karena pengetahuan yang diberikan atau menghabiskan waktu jalan-jalan seharian tanpa kuliah, hehehe.
Feirfarren!

Lo tau, kan?

I have four bestfriends, three of them are like sisters to me.
No matter how bitchy-and-annoying, I just can't stop loving them!!
<3 <3 <3

Gue mengobrol dengan salah satu dari mereka beberapa hari lalu. Awalnya cuma topik sederhana, cowok (?). Trus jadi nyambung ke masa dimana gue parno (paranoid) sama kedekatannya sama seorang cowok.

Stop dulu, jangan terburu ngira gue paranoid beneran.
Akhirnya emang terbukti kok kalo cowok itu memang dfkhcdbhjsadchsdcbdsjc.
#Yaudah #ArtiinSendiri #GituPokoknya

Her: "Gue kan udah bilang gue ngga bakalan suka sama dia."
Me : "Ya, gue cuma mengantisipasi kemungkinan terburuk. Lo suka sama dia, trus dia ternyata nggak sebaik yang lo pikir."
Her: "Tapi gue udah bilang kalo gue ngga bakal suka, kan?"
Me : "Iya, tapi gue sayang sama lo. Lo tau, kan?"

Glack!!!


Without any plan, I and Sinta wore the same color today!
We called it GLACK-style!!!

Ps: Have you noticed that I'm slimmer than before?
:')

Alhamdulillah..

Selasa, 03 Desember 2013

Ditolak?

Kalau kamu menyatakan cinta
dan menawarkan hatimu untuk dimiliki lalu dia menolakmu, jangan marah.

Hal itu lebih baik dilakukannya ketimbang menguburmu dalam ketidakpastian dan memanfaatkan semua kebaikanmu untuk dinikmatinya sendiri.

Pada satu sisi (yang mungkin tidak kamu sadari), dia menghargai perasaanmu.

Minggu, 01 Desember 2013

"I love you." / "..."

Kalau kamu bertanya-tanya kenapa aku tidak pernah membalas 'I love you,' yang hampir selalu kamu ucapkan seusai percakapan kita.

Kalau kamu mampir dan membaca, biarkan aku menjawab sekarang.

Aku tidak membalas ucapan cinta hanya karena kamu mengucapkannya lebih dulu.
Aku tidak mengucap cinta hanya karena kebiasaan yang lebih mirip ritual.

Kalau suatu hari nanti aku membalasnya,
atau malah mengucapkannya terlebih dulu.

Kamu tau, aku tidak bercanda.

Olimpiade Psikologi 2013

Di kampus ada acara turun temurun yang selalu ada tiap tahun, namanya Ompsi (Olimpiade Psikologi). Acaranya berisi rangkaian pertandingan yang diikuti tiap angkatan dan ditutup oleh malam seni.
Berhubung tahun ini Lidya jadi salah satu panitianya, jadilah gue, Uti, dan Siddhi datang ke malam seni. Iya, kalau temen lo udah susah payah bikin satu acara, yakali lo ngga mau nyempetin dateng? Sayangnya Sinta ngga bisa dateng karena ada ibadah yang waktunya bersamaan.
I love you, Lidya..

navy!

Abaikan -.-

And then,

"Shakarim, lagi apa?"

Then all the bad things vanished. And then I forgot all the exhausting stuffs.
And then I know, you'll always there.

Aku menyukaimu. Dari hati.

"Ada yang salah dari menyukaimu dan mengungkapkannya secara gamblang?"

"..."

"Karena lelaki sebelum aku selalu menjelaskan semuanya dengan jalan memutar? Karena butuh waktu lama sebelum kamu mendengar mereka berani mengungkapkan perasaannya?"

"Mungkin bukan hanya soal itu. Kamu tau, seandainya ada dua tempat yang indah. Satunya sangat sulit ditempuh, kamu harus mendaki jauh sebelum akhirnya sampai dan memuji keindahannya. Satu lagi, bisa ditempuh dengan jalan pintas tanpa hambatan apapun. Kamu bisa menuju tempat kedua kapanpun kamu mau. Ada kemungkinan kamu kurang bersyukur sudah tiba disana. Ada kemungkinan kamu akan lebih cepat jenuh dan akan mencari tempat yang lain."

"..."

"Mengerti maksudku?"

"Kamu meragukan kesetiaanku?"

"Bagaimana caranya aku meyakini sesuatu yang tidak bisa kupastikan akhirnya?"

"Aku menyukaimu. Dari hati. Kadang kamu harus mengikuti apa yang dikatakan hatimu."

"..."

Kondom gratis

"Jangan dikira kita membagi kondom gratis itu karena mendukung seks bebas. Jangan dikira saya yang muslim nggak benci liat orang yang gonta-ganti pasangan. Tapi dek, kalau kamu pernah denger curhatan seorang istri yang ternyata kena HIV karena suaminya tukang 'jajan' di tempat prostitusi. Kalau kamu tau dia sadar kena HIV waktu lagi hamil. Kamu akan tau rasanya," -seorang dosen, 2011
 

Template by Best Web Hosting