Kamis, 30 Januari 2014

We are in the same team

"Do you know, boyfriend usually worry about his girlfriend's dad. Worry isn't the right word. They are scared."

"Why so?"

"I don't know. Maybe rejection?"

"Dear, I love you. Your dad loves you. I wanna make you happy. He wants you to be happy. We are in the same team."

"So, you aren't scared?"

"Maybe."

"Maybe?"

"Yep. I am scared. I'm scared I can't make you happy. I'm scared I can't love you the way you want to be loved."

*cuddle*

Selfie keeps you sane

Being a counselor is stressful.
Wanna keep sane? Take selfie~

LOL

Kerja seumur hidup

Suatu malam, waktu gue dan adik bungsu gue lagi duduk bareng sambil menemani Jecky (kucing kami) main lompat sana-sini, Papa datang dan menngingatkan kami berdua bahwa sekarang sudah waktunya untuk tidur karena besok pagi (seperti pagi-pagi lainnya) kami harus berangkat pagi.

Pagi yang dimaksud adalah 5.30 WIB.

Kami sekeluarga yang berangkat bersama (minus adik besar yang memang membawa kendaraan sendiri ke kampus) memang harus berangkat pagi karena jarak rumah yang cukup jauh dengan sekolah adik kecil, sekolah tempat gue magang, dan kantor mama-papa.

Setelah Papa pergi masuk ke kamar beliau, adik kecil mengutarakan sebuah pertanyaan.
"Mbak, apa seumur hidup gue--gue bakal berangkat jam setengah enam, sekolah, bimbel, pulang magrib, trus nyampe rumah makan dan tidur?"

Melihat mimik seriusnya, gue lantas balas bertanya, "Emangnya kenapa?"

"Gila. Hidup gue tiap hari akan kayak gitu? Untuk apa gue hidup, mbak?"

Drama memang.
Tapi waktu dia mengucapkannya, tak ada nada bercanda sama sekali.

Sambil memikirkan jawaban yang tepat, gue berujar, "Nggak dong. Itu kan pilihan adek. Misalnya, adek bisa nanti cari tempat tinggal yang dekat sama tempat kerja kalau adek udah besar. Adek juga bisa memilih pekerjaan yang nggak butuh datang ke kantor setiap hari. Semua itu nantinya akan jadi pilihanmu sendiri."

Adik kecil manggut-manggut, mencoba mencerna kalimat gue.

Setelah Adik kecil tertidur, giliran gue yang dibuat takut.
Membayangkan bahwa akan menghabiskan hidup hanya dengan bekerja, bangun pagi-pulang malam. Makin dibayangkan rasanya makin mengerikan.

Berdasarkan kengerian itu, saat Mama-Papa meminta ijin untuk pergi berdua menghabiskan cuti dengan liburan di luar pulau, gue nggak butuh waktu berpikir untuk mengiyakan.

Meskipun, memang, tinggal di rumah dengan dua remaja laki-laki yang satunya keras kepala dan lainnya tak bisa patuh aturan luar biasa menyebalkannya.

But well, Mam and Pap deserve a great time to spend.
Mam sent a lot of pics, and every time I look at it I'm happy too :)

Senin, 27 Januari 2014

Emotional Pain Chart

Lelaki egois

"Sebenarnya aku adalah orang yang paling egois."

"Setelah yang kamu lakukan? Membahagiakannya? Mengalah untuknya? Kecupan mesra dan kejutan manis yang bisa membuat perempuan manapun iri?"

"Ya. Tetap aku adalah orang yang paling egois."

"Bagaimana bisa?"

"Begini, Anakku. Membahagiakan ibumu sama sekali bukan untuknya, tapi untukku. Aku kecanduan senyumnya sejak dulu. Membahagiakannya bukan semata-mata kulakukan untuk membahagiakannya, tapi juga membahagiakan diriku sendiri."


And they said true love is impossible to be found...

Hair-myth


Because pretty hair in the morning is totally a myth!

Minggu, 26 Januari 2014

Mine - Petra Sihombing (lyric)

Girl your heart, girl your face is so different from them others 

I say, you're the only one that I'll adore

Cause everytime you're by my side

 My blood rushes through my veins 

And my geeky face, blushed so silly yeah, oo yeah  

And I want to make you mine


reff : Oh baby I'll take you to the sky

Forever you and I, you and I, you and I

And we'll be together till we die

Our love will last forever 

And forever you'll be mine, you'll be mine


Girl your smile and your charm 

Lingers always on my mind

I'll say, you're the only one that I've waited for

And I want you to be mine.. 

Jumat, 24 Januari 2014

Happier

Aku menggenggam lenganmu yang kokoh. Kamu selalu saja membuatku bangga menjadi perempuanmu, terlebih di kerumunan seperti ini. Kaki-kakiku yang malam ini 'dipaksa' mengenakan sepatu bertumit tinggi melangkah perlahan, khawatir tergelincir dan mempermalukan diri sendiri.

"Mau kemana setelah ini, sayang?" kamu bertanya kepadaku yang masih mengamati tamu-tamu lain. Pesta pernikahan mewah, khas teman-temanmu.


Sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa orang yang menikah harus mengundang ratusan orang yang belum tentu mereka kenal. Aku juga tidak mengerti kenapa orang yang menikah harus berpura-pura akrab dan menyalami semua tamu undangan yang datang. Waktu aku mengutarakan pendapatku, kamu hanya tertawa--lalu mengacak rambutku pelan.

Aku mengangkat bahu, mengeratkan pegangan ke lenganmu. "Belum tau. Mau ke apartemenku? Tapi kulkasnya kosong, aku belum belanja bulanan."

"Apa hubungannya? Menghabiskan malam di apartemenmu dengan kulkasmu yang kosong?" jawabmu yang kutau pasti kemana arahnya. Senyum jahilmu tersungging.

Saat kita menghabiskan malam di tempatku, kita tidak membutuhkan bahan makanan apapun. Kita hanya akan saling bercerita di atas tempat tidur sambil membagi kecupan yang rasanya tak akan habis. Mengingatnya membuat pipiku bersemu malu. "Mungkin saja kamu lapar," jawabku menetralisir perasaanku sendiri.

"Denganmu di sebelahku? Mana sempat aku merasa lapar," jawabanmu membuatku tersenyum malu. Tanganmu merayap pelan di belakang pinggangku, "I love you,"

Bisikan konyolmu mengundang tawa yang berusaha aku tutupi dari orang lain. "You know I do more," aku mendekat, menghirup aroma musk yang sangat kusuka di sekitaran lehermu.

"Hey," suara lain mengganggu obrolan kita. Aku menoleh, berhenti menikmati aroma parfummu yang belum puas kuserap.

"Kamu disini juga?" suaramu terdengar tak suka, membuatku makin penasaran dengan si pengganggu.

Ah dia. Laki-laki masa laluku. Kalian saling tidak menyukai dan selalu membuat posisi serba salah tiap kali kita bertiga bertemu dalam momen yang sama. "Kita lebih baik pergi," ajakku yang tak ditanggapi olehmu. Kaki-kakimu masih tegap tak bergerak.

"Hahaha. Sejak kapan aku dilarang datang ke pesta pernikahan temanku?" jawab Danang tak ingin kalah. Egonya terlalu besar untuk menahan diri tidak memicu pertengkaran tiap kali bertemu denganmu.

Matamu yang biasanya setenang telaga kini bergejolak, menahan marah. Kamu membenci Danang, bukan karena dia mantanku. Kamu membenci Danang karena sikapnya padaku di masa lalu. "Enjoy the party, then," nadamu sama sekali tak terdengar tulus.

"How can I? My damsel is right beside you," Danang bicara dengan volume pelan penuh tantangan. Tanganmu mengepal, aku segera mengusap lenganmu--berharap kamu tak melampiaskan murkamu saat itu juga. Menganggapi Danang hanya akan membuatnya menang. "She's prettier than I remember," Danang tak berhenti mencoba memancing emosimu.

Aku angkat bicara, Danang tak bisa bersikap kurang ajar seolah-olah aku tak mendengar ucapannya. "I'm happier too. Much happier than before."


And you don't know how happiness can magically change people.

Kak, aku mau curhat...

Untuk mengisi liburan (yang awalnya dikira minim kerjaan), gue memutuskan untuk mengabdikan diri di salah satu SMA negeri yang juga merupakan almamater gue.

Alasannya simpel, masuknya nggak susah dan keburu bete karena birokrasi yang ribet.

Sesuai dengan ilmu yang dipelajari dan pelatihan yang pernah diikuti, gue menawarkan diri menjadi peer counselor/konselor sebaya di Bidang Kesiswaan Sekolah. Tugas sebagai konselor ini di bawah pengawasan guru di bidang yang bersangkutan tentunya.

Dalam sehari, kira-kira gue menangani minimal 5 siswa dengan cerita yang beragam.
Mulai dari kekhawatiran terhadap hal-hal berbau akademis, lingkungan pertemanan, keluarga, dan hubungan berpacaran.

Beberapa hari pertama, I have to say it's not easy.
Mendengarkan curhat bertubi-tubi, seharian berempati, dan menyusun matriks penyelesaian masalah membuat migren setia datang tiap pulang bertugas.

But helping itself heals you, so I'm getting better each day.
Alhamdulillah.

Rasanya melihat siswa yang datang, bercerita (tidak sedikit yang menangis), dan akhirnya pergi dengan wajah sumringah tidak bisa digantikan dengan apapun! Sungguh!
:))

Jadi, mendengar ucapan seorang siswi yang datang pada jam terakhir untuk curhat, "Tenang kak, nanti akan dibalas sama Allah." membuat gue tersenyum dan absen migren sore ini.

Allah sudah membalas banyak,

...

Minggu, 12 Januari 2014

Better Lover

"Kamu tau apa yang menyenangkan?"

Suaramu membuat aku mendongak ke samping, menyudahi kenikmatan menyandar di dada bidangmu. "Duduk seharian ditemani sekretarismu yang cantik?" candaku, melingkarkan tangan lebih erat ke pinggangmu.

Kamu tertawa, menampilkan sederet barisan gigi rapi yang selalu kamu rawat dengan mendatangi klinik gigi tiga bulan sekali. "Ah, itu belum ada apa-apanya."

"Lantas apa?" ucapku, berganti mengusap rahangmu yang kokoh. Pasti baru pagi tadi kamu bercukur, tak ada rambut-rambut halus yang biasanya menggelitik saraf perabaanku. "Melayani klien-klien mu yang tak pernah mau repot menutupi belahan dada mereka?"

Kamu masih tertawa. "Kalau senang hanya sebatas menonton belahan dada, aku bisa membeli yang lebih dari itu Na."

Aku mundur, menjauhkan diriku dari tubuhmu. Berpura-pura kesal, "Ooo.. Aku baru ingat kalau kamu perancang interior yang sukses. Yang gajinya lebih dari delapan digit. Yang banyak dikelilingi wanita cantik. Yang..."

Aku tak bisa bicara, kecupanmu mengunci bibirku. Beberapa detik suasanya sunyi, hanya deras hujan terdengar menghantam atap rumah beramaian. Saat nafasku--dan kamu mulai saling balas dengan interval yang sempit, kamu berhenti. Kita berdua tau, ada batas yang boleh disentuh tak peduli betapa kuatnya keinginan yang kita punya.

"Aku sayang kamu, Na."

Aku kembali menyandarkan diri di dadamu, duduk di sampingmu ditemani suara hujan adalah agenda favoritku. "Aku tau, Bar."

"Jadi, ibu editor ada kegiatan apa akhir pekan nanti?" Bara mengecup dahiku dengan kecupan panjang setelah selesai mengutarakan pertanyaannya, memberiku jeda untuk menjawab.

Kuhela nafas, merasa bersalah akan memberikan jawaban yang mengecewakan. "Ada beberapa buku yang harus terbit akhir bulan ini, maaf. Pasti aku menggagalkan kencan kita lagi kan?"

Pandangan Bara lurus menatap mataku, sesaat membuatku lupa bahwa kakiku masih menapak bumi. "Ada restoran Italia yang baru buka, milik temanku. Tadinya aku mau bawa kamu kesana. But since you can't make it, then I'll bring the foods to you, your Highness."

"You don't have to," aku merenggangkan badan, merasa kaku ada di posisi yang sama dalam jangka waktu yang cukup lama.

Bara tersenyum, tangannya merapikan helai-helai rambutku yang menutupi wajah. "But I want to."

Kita saling mengecup lagi. Membiarkan deras hujan turun sesukanya, membiarkan dingin temperatur ruangan digantikan panas tubuh satu sama lain yang melebur satu.

I can't wish for a better lover, love.

Jecky

Si kucing yang lagi tumbuh gigi dan doyan gigit sana sini di foto itu namanya Jecky. Sudah beberapa bulan resmi jadi penghuni rumah kami karena dipungut Mam waktu pulang dari pasar.

Jecky suka minum susu, tapi merknya harus Bear Brand. Alasannya gue juga nggak tau, yang jelas Mam sayang banget sama Jecky sampai menyediakan susu kesukaannya itu di rumah.

Sifat baik (?) Jecky yang gue suka ya sifat anti protesnya kalau dimandiin. Berhubung Jecky berkeliaran dalam rumah, jadi Jecky harus rajin mandi supaya tetap wangi kalau digendong-gendong. Alhamdulillah sampai sekarang Jecky nggak pernah mencakar kalau dimandiin.

Jecky membawa mood positif buat gue. Keadaan rumah yang sering sepi ditinggal para penghuninya beraktivitas (minus gue karena sedang liburan) jadi lumayan karena denger lonceng-lonceng yang bunyi tiap Jecky lari dan lompat-lompat.

Cat makes your day better, trust me..
:)

Rabu, 08 Januari 2014

Sog'indim

I swear God I miss you more than I miss the smell of old-books in library.

I swear God I pray so I can dream of you every night.

I swear God I miss you, I just not talking about that so I can hold my tears.

Sog'indim, Assalim.

Senin, 06 Januari 2014

Indonesia butuh kita

Seorang teman, beberapa hari lalu menuliskan sebuah tweet yang (menurut gue) kurang pas disebarkan di social media, berikut isi tweetnya:

"Bangsa yang tingkat intelegensinya rendah cenderung mudah dan suka beranak-pinak kayak kelinci."

Tweet tersebut ditujukan untuk bangsa gue, Indonesia. Terlepas bahwa yang bersangkutan mengatakan bahwa tweet tersebut hanya merupakan kutipan dari komentar pada sebuah artikel berjudul "Penurunan Populasi Catat Rekor Tertinggi di Jepang." 

Gue tetap merasa perlu untuk menuliskan opini terkait dengan sikap kebanyakan pemuda (bahasa gue, apasih.) atau khususnya orang-orang yang dengan cepat, tanggap terhadap pemberitaan kemajuan di luar negeri dan lekas menjelek-jelekkan bangsa sendiri.

Entahlah apa motivasi dari si pemberi komentar, katarsis, memberikan kritik, atau mungkin sebenarnya memberi umpan balik. Gue berdoa semoga bukan yang pertama karena kalau memang beliau menulis hanya untuk melakukan katarsis maka gue sudah menyia-nyiakan waktu untuk meladeni kicauannya.

Oh sebentar, sebenarnya sebagian dari motivasi gue menulis juga katarsis. Gue merasa marah terhadap komentar soal bangsa sendiri. Motivasi lainnya, memberikan perspektif lain soal kecintaan terhadap Indonesia. Mana yang lebih mendominasi? Entahlah.

Seorang teman yang berasal dari Senegal, mendapatkan beasiswa S2 di Indonesia. Pada suatu obrolan, gue baru tau ternyata teman gue itu mengajar bahasa Inggris bagi anak-anak kecil yang tinggal di sekitar kosannya. Beliau juga mengajar bahasa Perancis di balai bahasa dan kedua kegiatannya itu tidak berorientasi pada uang. Untuk kegiatan pertama beliau tidak diberikan imbalan apapun, kegiatan kedua upahnya tidak bisa dibilang besar.

Waktu gue tanya kenapa dia mau melakukan itu, jawabannya:
"Indonesia sudah kasi banyak sama saya. Saya harus balas. Cuma ini yang bisa saya kasi untuk Indonesia."

Buat yang masih ngerasa 'ah itu sih wajar, kan emang dia dikasi beasiswa sama pemerintah kita.' coba mulai kilas balik.

Subsidi uang kuliah kita, buat yang kuliah di Perguruan Tinggi Negeri, itu dari siapa?

Nggak kuliah di PTN, oke.
Dana Bantuan Operasional Sekolah, buat yang sekolah di sekolah negeri, itu dari siapa?

Nggak sekolah di sekolah negeri, oke.
Subsidi Bahan Bakar Minyak, itu dari siapa?

Jangan sampai kita kalah cinta sama bangsa sendiri dibandingkan dengan orang asing yang baru beberapa tahun tinggal disini. Jangan sampai kita menjelek-jelekkan bangsa sendiri tanpa aksi sedangkan sudah ada orang lain yang berbuat sesuatu untuk bangsa kita.

Indonesia memang belum maju, karenanya Indonesia butuh kita, kan?
:)

Minggu, 05 Januari 2014

Bosen sama pacar?

Buat yang umur pacarannya udah lama, pernah ngerasa bosen ngga?

You woke up one day and thought, "Maybe, we're not meant to be together. The spark has gone. Flat."

Seorang teman yang sudah berpacaran cukup lama pernah curhat ke gue tentang hubungannya, "Gue ngerasa kosong. Nggak pernah lagi ada ribut-ribut kayak dulu. Sekarang malah gue yang sengaja cari-cari masalah supaya dia cemburu, supaya dia marah sama gue. Tapi apa, dia adem ayem aja. Bahkan pas gue bilang kalo gue jalan sama cowok lain, dia nggak marah juga. Capek gue."

Ada pasangan baru yang capek stalking buat mastiin pacarnya nggak selingkuh.
Pasangan lumayan lama yang capek bertengkar buat mencocokkan satu sama lain.
Terakhir, ada juga yang capek nyari alasan biar ada bahan pertengkaran.
Unik, kan?

Menyikapi pasangan lama yang 'kehilangan drama', here's a nice advice: 
 

"Berlayar di laut dalam yang tenang emang membosankan. Tapi, nggak ada orang yang pergi jauh pake arung jeram."

Sabtu, 04 Januari 2014

He doesn't love you enough

Dia tidak cukup mencintaimu kalau dia belum bisa menurunkan nada bicaranya kepadamu, mengusap kepalamu lembut, dan meninggalkan egonya jauh-jauh di belakang saat marah.

Dia tidak cukup mencintaimu kalau dia enggan menyediakan waktu mendengar tangismu tengah malam karena mimpi buruk.

Dia tidak cukup mencintaimu kalau dia masih dengan sengaja mendiamkanmu, membuatmu merasa bersalah, dan menyakitimu.

Mencintai dengan sangat, pasti akan membuatmu luka.

Dicintai dengan kadar yang tidak tepat hanya menunda rasa sakit yang akan kamu terima.

Jumat, 03 Januari 2014

A man with dreams needs

Melihat gambar di atas, gue jadi keinget sama novel yang gue baca sejak awal liburan.
Awal liburan ini (sampai sekarang .red) gue membaca sebuah novel fiksi yang dipinjamkan oleh Uti, judulnya Nefertiti.

Menurut pengalaman gue (dan kesaksian para lelaki di sekitar), pada akhirnya laki-laki akan memilih perempuan yang mendukung mimpi-mimpinya.
Perempuan yang dapat diandalkan untuk menjaga segala apapun miliknya termasuk kepercayaan dan harta benda.
Perempuan yang bisa mengimbangi ide-idenya, bisa tertawa sekaligus memikirkan masa depan penuh keseriusan. 

At the end, drama queen will get nothing.
At the end, the King asks for the queen to stand by him. The real one.

Because ten years from now, drama won't help to pay the bills. 

Kamis, 02 Januari 2014

Daddy's

"I will always be your little princess, dear daddy.."

What is Love?

"First, love is caring about your well-being, happiness, and growth. Love is not just a feeling. True love shows itself in actions. Love is protecting you from emotional or physical pain, helping and strengthening you, and improving your life, without asking to be repaid.

Love is considerate, kind, sensitive to your feelings and needs, unselfish, patient, gentle, tender, respectful, and loyal. Love accepts imperfection in you without being irritable or prone to anger.

A boyfriend who loves you takes interest in your activities, feelings, and ideas. He accepts you as you are and believes in you. He expresses affection and gives approval, praise, comfort, encouragement, and moral support. He performs acts of kindness, helpfulness, and service, even when he must sacrifice to do so.

Forgiving you also shows love. Love finds the strength to continue loving, supporting, believing in, and helping you even when it becomes difficult to do so. True love proves itself in times of trouble, when difficulties and hostilities mount, with patience and help.

Nobody can act in perfectly loving ways all the time, but any good, satisfying close relationship includes these kinds of caring, considerate, and emotionally supportive behaviors most of the time seven days a week.

Any relationship that doesn’t seem on this level for most of the time every day needs serious work that shows improvement over time or needs eliminated. Judge your man by his actions, not by his words.

Many men pretend great love just for sex and treat their women badly. Don’t confuse great sex with love. Even selfish, immature, or physically or emotionally abusive men can be great in bed."
 
Repost from: http://www.sensiblepsychology.com/judging_boyfriends.htm

Just because, doesn't mean

...those people who would kill to see you fall.

So true.

Porcupine

OMG! He's sooooo cuteeeee..
*squeezeeeeeee*

Rabu, 01 Januari 2014

I still do.

"I love you. Not because I want to sleep with you. I didn't say I don't want it. But well, I love you. I still do although you ask me to sleep on the couch right now." said Nick to Juliette.

Say hello to yellow!

 

Holiday, I'm coming!!
:))

Inggit

"Sejak awal aku tau, Kus. Mendampingimu, tidak cukup hanya dengan cinta." -Inggit kepada Soekarno

(dalam film Soekarno, 2013)

Konsep berpacaran

Dalam kuliah Antropologi Psikologi, seorang dosen wanita yang gue kagumi memberikan penjelasan tentang bagaimana budaya dalam era-era tertentu dapat mempengaruhi kepribadian.

Misalnya saat printer belum ditemukan, orang menulis menggunakan mesin tik.

Menulis dengan mesin tik tentunya lebih sulit karena kita tidak dapat menghapusnya seperti menulis di komputer.

Hasilnya, orang yang hidup pada era tersebut cenderung lebih berhati-hati dalam berperilaku dan menghidari konsekuensi buruk yang mungkin akan diterimanya.

Tadi pagi, gue dan Mam terlibat dalam pembicaraan menarik. Diawali dengan gue yang menyampaikan resolusi 2014: "Tidak akan menghindari hubungan serius." lalu dilanjutkan dengan wejangan,

"Kalau kamu memang berniat pacaran, tanyalah sama calonmu seperti apa konsep berpacarannya. Kalau dia bilang selama kita cocok, jalanin aja pikirkan lagi untuk melanjutkan. Nggak ada hal apapun yang perfectly fit.

Sampai menikahpun, ketidakcocokan dan konflik pasti terus ada. Konsep berpacaran mama dulu, ayo dijalani bersama. Susah, senang, kaya, miskin, baik kamu tersenyum ataupun marah.

Hal-hal yang belum cocok, mari kita cocokkan. Ada saatnya saya mengalah untukmu, meskipun tidak akan selalu seperti itu. Dalam beberapa hal, ada saatnya giliranmu mengalah untuk saya."

Mendengar wejangan Mam, mungkin sebelum menanyakan konsep berpacaran pada pasangan, sebaiknya gue memperbaiki konsep sendiri dulu.
 

Template by Best Web Hosting