Rabu, 26 Maret 2014

Emerging adulthood

In emerging adulthood (18-25 years old) the implicit question about relationship is more identity focused: "Given the kind of person 
I am, what kind of person do I wish to have as a partner 
through life?".

In contrast, in adolescence (11-18 years old) the implicit question about relationship is:  "Who would I enjoy being with, here and now?"
(Arnett, 2000)

So, if your partner (or even you) have 'at least I am happy today' perspective in relationship, you know at what stages of development you are now :p

Sabtu, 22 Maret 2014

Laugh too much

"I hate when you laugh too much. Do you know why? Because I know you are too sad even to cry."

yea. I hate myself for that too.

Hahahaha.

Sabtu, 15 Maret 2014

Menangislah

Menangislah saat apapun yang kamu rasa itu perlu. Sakit, susah, lelah, atau bahagia yang terlalu. 
Menangislah.

Menangislah kapanpun kamu mau. Saat menggigit roti sarapanmu, saat menunggu yang tak kunjung tiba, saat purnama, saat surut laut.
Menangislah. 

Menangislah kepadanya yang kamu tidak pernah ragu menjadi lemah dan tidak pernah takut ditinggalkan. Menangislah kepada siapa yang kamu percaya bisa mendengar tanpa menertawakan.
Menangislah.

Tapi ingat, tertawalah dengannya yang tetap tinggal saat kamu menangis.


Teruntuk bahu-bahu yang tak lelah disandari.
Aulia berhutang banyak budi.

Minggu, 09 Maret 2014

<3

Psikotes tuh gampang diakalin!

"Kalau psikotes kayak gitu aja sih gampang diakalin. Kayak gini nih...." ujar seorang laki-laki muda dengan bangganya.

Saya menoleh. Maklum, insting kepo sudah menjadi satu dengan kepribadian saya sejak berkuliah di jurusan psikologi. Lalu tampaklah oleh saya dua orang yang sedang sibuk mencorat-coret di atas tisu yang disediakan oleh kafe tempat saya menunggu.

...

Di negara tempat saya tinggal, mencari pekerjaan bukan suatu hal yang mudah. Lulusan sarjana menumpuk tiap tahun, sedangkan lapangan pekerjaan yang tersedia jumlahnya kian sedikit. Sayangnya, semangat kewirausahaan anak muda cenderung rendah sehingga sedikit sekali yang memiliki tujuan untuk 'membuka lapangan pekerjaan'.

Rendahnya jumlah lapangan pekerjaan ini (sepengamatan saya) bukannya membuat para pencari kerja berusaha meningkatkan kualitas mereka namun berusaha entah bagaimana caranya mendapatkan pekerjaan. Jadilah banyak kecurangan, penerimaan pegawai negeri sipil misalnya, sering diwarnai dengan calo jawaban (orang yang menjual kunci jawaban soal seleksi) dan calo kursi (orang yang memastikan bahwa si calon pegawai diterima dengan imbalan uang).

Itu pada sektor pemerintahan. Pada sektor swasta, para pencari kerja tak menyerah dengan usaha mendapatkan pekerjaan. Selain dengan jalur 'saudara' yang berarti nepotisme, ada juga cara 'menghafalkan jawaban psikotes'.

Begini, ijinkan saya menjelaskan sesuai dengan pengetahuan saya yang terbatas sebagai mahasiswi semester 6 jurusan psikologi :)

Psikotes adalah pemeriksaan psikologi yang BUKAN merupakan sebuah tes karena dalam pemeriksaan psikologi tidak dikenal istilah LULUS atau tidak lulus. Pemeriksaan psikologi ini nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran tentang diri testee (orang yang menjadi subjek pemeriksaan).

Jadi, ajang pencarian kerja sebenarnya dapat digambarkan sebagai ajang 'perjodohan'. Perusahaan/instansi yang sudah memiliki kriteria tertentu dan pencari kerja yang memiliki kriteria unik dalam dirinya.

Lantas, kenapa butuh pemeriksaan psikologi?

Untuk menduduki suatu jabatan, selain dibutuhkan keahlian yang sifatnya teknis (seperti tinggi badan/kemampuan menggunakan komputer/kemampuan berbahasa asing) dibutuhkan juga kriteria yang menyangkut kepribadian dan aspek mental lain (seperti kemampuan memecahkan masalah, kemampuan berpikir analitis, ketahanan terhadap stress).

Hal ini penting untuk perusahaan agar mendapatkan pegawai yang sesuai dan penting untuk pegawai agar mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Bayangkan, bagaimana jika orang yang memiliki daya tahan yang rendah terhadap stress ditempatkan sebagai manajer strategi penjualan yang bekerja dengan target?

Jadi kalau ada orang yang berniat berbuat curang saat mengerjakan psikotes, bisa dianalogikan dengan seorang pacar yang tidak bersikap jujur saat berpacaran.
Mungkin saja pada akhirnya mereka bisa menikah, tapi bukankah kita semua berharap selama proses perkenalan-pendekatan-pacaran pasangan kita memperlihatkan diri yang sebenarnya?

Bukankah akan jauh lebih membahagiakan kalau kita memutuskan untuk berpisah karena ketidakcocokan dan menemukan orang lain yang lebih sesuai walau butuh waktu yang lebih lama? Tidak demikian? Well, itu pilihan.

Kembali ke topik pekerjaan. Psikotes dibuat untuk 'menjodohkan' kompetensi calon pegawai dengan kebutuhan perusahaan. Dengan penempatan yang tepat, maka kemampuan pegawai akan lebih berkembang ke depannya.

Jadi kalau kamu ngeliat orang yang ngeluh-ngeluh terus soal pekerjaannya, ngeluh-ngeluh kalau dia nggak naik-naik jabatan, ngeluh-ngeluh nggak enjoy sama pekerjaannya. Coba tanya dulu, waktu psikotes dia jujur nggak?
;)

Jumat, 07 Maret 2014

Chaining one's life

Saat liburan, saya sempat bertukar pikiran dengan Mama tentang 'gaya berpacaran' saya dan partner. Saya yang uring-uringan seharian karena beberapa hari mendapatkan kabar yang sangat singkat karena partner saya sedang sangat sibuk menyusun tesisnya, ditanggapi Mama dengan kalimat datar, "Bukannya seperti itu harusnya ya, nduk?"

Wah, jelas saya protes.
Saya kan tipe perempuan yang berharap setidak-tidaknya mendengar 'Selamat pagi, Sayang.' tiap hari lewat ponsel saya.

Mama saya kemudian menanggapi protes saya dengan sabar, mungkin sudah biasa menghadapi anak gadis satu-satunya yang keras kepala. "Ya, bukannya cinta itu harusnya membiarkan satu sama lain tumbuh? Kalau saling mengikat, gimana bisa berkembang?"

Saya jadi melakukan evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan saya yang masih tergolong tidak terlalu sibuk, lha buktinya saya masih sempat rewel ke partner saya. Waktu yang saya pakai untuk rewel dan mangkel itu harusnya masih bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lain, belajar misalnya (meskipun hampir nggak mungkin juga, kecuali besok harinya ada kuis atau ujian). 

Maybe true, love isn't about chaining one's life. It's about letting each other grow up.

Who says we can't play?

Because I'm too afraid to go with Lidya and Uti :')

No, not a good one. But sure the real one~

<3

Selasa, 04 Maret 2014

Niat baik

"Apa yang membuat kalian percaya bahwa pria ini adalah pria baik, bisa diandalkan, yang nantinya kalian pilih untuk menjadi pacar? Apakah semata-mata keputusan emosional? Atau ada kognisi yang berperan dalam seleksinya?" tanya dosen yang saya kagumi pada salah satu mata kuliah yang (tadinya) sangat tidak saya sukai. 

Anyway, ini bukan pertama kalinya saya menulis tentang beliau. Tulisan sebelumnya bisa dibaca disini 

Dosen saya mulai meyakinkan kami sekelas bahwa research bukanlah sesuatu yang jauh dan hanya dilakukan oleh ilmuwan. "Saat kalian menyeleksi calon pacar kalian, misalnya. Kalian juga melakukan research."

Pembahasan kelas selanjutnya sangat seru, dosen saya memberikan beberapa tips sederhana (namun tetap logis) yang dapat digunakan untuk mengetahui inisiatif, motivasi, dan elemen-elemen psikis lain kalau-kalau kami (para mahasiswinya) berkeinginan untuk menyeleksi calon pacar kami. Hehehe.

"Zaman sekarang ini, perempuan tidak butuh lelaki untuk membayar makanan, kan?" kalimat beliau disambut dengan persetujuan para perempuan yang jumlahnya memang selalu menjadi mayoritas di fakultas kami. Saya pribadi setuju dengan kalimat tersebut, siapa yang membayar bill makan dan nonton sama sekali bukan prioritas saya dalam memilih calon pasangan selama ini.

Respon kelas yang riuh membuat beliau tersenyum dan kembali melanjutkan kalimatnya, "Tapi perempuan butuh laki-laki yang berniat baik, betul nggak?"

Saya tertawa dan diam-diam kembali setuju dengan pernyataan beliau. Niat baik adalah satu hal esensial yang menurut saya, sangat mahal didapatkan di zaman seperti sekarang ini.

Bayangkan, bagi perempuan yang cantik--sangat sulit menyeleksi laki-laki yang berniat baik kepadanya (bukan hanya memandang si perempuan seperti properti yang bisa dibanggakan dan dipamer-pamerkan seperti trophy). Bagi perempuan keturunan ningrat dan kaya raya--sangat sulit menyeleksi laki-laki yang berniat baik, bukan hanya memandang si perempuan seperti fasilitas perbaikan garis keturunan (atau lebih parahnya, perbaikan taraf hidup).

Maksud saya, bukannya saya cantik dan kaya. Tapi rasanya sulit menemukan seseorang yang berniat baik untuk menjalin hubungan karena apa adanya diri kita, bukan hanya karena kualitas-kualitas baik yang dimiliki.

Jadi, dibandingkan mencari laki-laki tampan, mahir merayu, priyayi, dan berjanji akan mengambilkan bulan (ini sih berlebihan, ya), ada yang jauh lebih penting dari itu semua.

Niat baik.
Laki-laki sejati harus memiliki niat yang baik.

Minggu, 02 Maret 2014

Let me tell you this,

Let me tell you this before you think to go any further with me, before you think you can change my last name, before you think you can ask my father to agree with your plan about us.

Let me tell you this.

I do not need you to validate myself. I do not need you to tell me that I'm prettier each day. I do not need you to tell me how kind I am. I do not need to you to tell me that I can be whatever I want to be. But I will appreciate your support. And I maybe kiss you along the day when you bring me a bucket of wings with poem written on the card.

I do not choose to be with you because I need someone to make me happy, because I already am. I can smile even when you can't call me, I can smile even when you can't text me. I have many reasons to be happy and grateful. But I know I can be happier with you and your effort to make me happier than before will be noted. I will tell our children in the future how their daddy treated me, I will make they smile and proud to make you their hero. Only if you deserve that.

I have broken many times before and every time I broke, I learned. I have learned that I can not trust every one easily. If you want to trusted, you have to earn that. Do not tell me to trust you, I will when I want to.

I am a difficult person to handle. I have mood swings and it does get worse in PMS. I eat a lot, especially when anxious. I talk a lot, especially when excited. If you think you will be annoyed, please find someone else.

I will be grateful if you choose to go because that does mean I don't have to be broken. I do not have to through those crying and suffering. Do you know why? Because I do not love you that much.

Maybe I will, only when I found that you deserve that.
"Men, some to business, some to pleasure take. But every woman is at heart a rake. Men, some to quiet, some to public strife. But every Lady would be queen for life." - Alexander Pope
 

Template by Best Web Hosting