Senin, 28 April 2014

...

Akan selalu ada Amin yang diam-diam kusisipkan.

Tiap kali kamu menyebut 'kita' sebagai subjek,
Tiap kali kamu menjadikan 'kita' sebagai tujuan,

Tiap kali kamu menyebutkan 'kita' sebagai momen bersama yang selamanya tak ingin kusudahi

During the class

<3
<3 <3

Selalu Kamu.

Suara ketikan yang khas, dengan irama acak yang semakin intens kala Fian, kekasihku tak juga berhasil menemukan kombinasi yang tepat untuk menjalankan apapun yang dibuatnya di layar komputernya. Kami berkencan selama dua tahun dan aku, bodohnya belum juga paham apa yang sebenarnya dilakukan oleh lelakiku.

"Aku membangunkanmu ya?" ujarnya lalu berhenti dan beranjak dari meja kerja, ke arahku.

Aku menggeleng, "Aku memang harus bangun, ada beberapa jurnal yang harus kubaca dan kuserahkan review-nya Senin nanti. Apa yang kamu lakukan?"

Senyum Fian mengembang, "Menungguimu?" lalu ikut masuk ke dalam selimut di sampingku.

Aku tertawa ringan, tanganku menjulur ke sisi lain tempat tidur. "Dimana buku-bukuku?"

"Sudah kupindahkan." Kini giliran tangan Fian meraih buku yang ada di bawah tempat tidur,"Kamu perlu istirahat," ujarnya namun tetap memberikan buku-buku padaku. 

"Kamu yang hanya tidur beberapa jam dalam semalam meminta orang lain untuk beristirahat?" kataku beringsut mendekat dan mendaratkan sebuah kecupan.

Tangan Fian merangkul pinggangku, mencegahku kembali ke posisiku semula. "Ya, setidaknya berbelaskasihlah padaku. Kalau kamu enggan beristirahat, temani saja aku semalaman."

Aku tergelak mendengar perkataan Fian, "Lantas bagaimana dengan pekerjaanmu? Tidakkah kamu harus berbelas kasih pada proyek besar perusahaanmu?"

Sesaat kemudian, hanya sunyi yang bersuara. Fian mendekat sampai nafasnya terasa di kulit wajahku. Selalu saja, tiap kali aku menyinggung soal kesibukan maupun pekerjaannya, Fian akan menelan semua kata-kata, tak pernah ada komentar apapun.

"Pilihannya akan selalu kamu, Alta. Kamu tau itu kan?"

--
Aku terbangun, ada aliran air yang membentuk dua anak sungai kecil di pipiku. Hangat.
Di seberang tempat tidur, laptop Fian tergeletak begitu saja. Ada sakit yang menghantam dadaku tanpa ampun, aku membalik badan dan membungkam diri di atas bantal.

Fian sudah mati. 
Dan aku benci karena sebagian besar diriku tak pernah bisa menerima itu.

Minggu, 27 April 2014

Only then,


You.

Because you reply my "See you soon," with "See you soonest,"

and you reply my "Hi dear," with "Hello dearest,"

Then tell me, how could I resist to make you be the only one?

Tak ingin

Aku beringsut pelan, mendekat ke arahmu yang sudah terlelap. Seperti biasa, aku terbangun dini hari--sekedar mencari segelas air yang sudah kamu siapkan di meja kecil sebelah kiri tempat tidur kita.

"Sayang?" panggilmu dengan suara serak. Kamu ikut terbangun, mungkin terganggu dengan cahaya lampu meja yang kunyalakan. "Kamu baik saja?"

Anggukanku kamu tukar dengan senyum hangat, tanganmu lantas merangkulku semakin dekat. Aku menarik napas, paru-paruku sesak oleh bahagia dan rasa syukur yang bercampur aduk. "Pagi, sayang." ucapku pelan.

"Selamat pagi, kesayangan." jawabmu lalu mengusap punggungku pelan.

Aku tak ingin pagi lekas mengganti sisa waktu yang kumiliki. Aku tak ingin matahari menjalankan tugasnya seperti biasa. Aku tak ingin malam ini lekas berakhir.

Aku tak ingin kamu lekas pergi dan mengganti aku.

Kamis, 17 April 2014

Namun aku yakin,

Untukmu, lelaki dengan senyum tak habis-habis yang kutunggui setiap malam.

Hari ini langitmu kelabu, entah apa gerangan sebabnya.
Mungkin semesta hanya ingin menguji kuat dan sabarmu, mungkin Tuhan hanya ingin kamu bermanja dengan menyebutkan nama-namaNya dalam doamu.
Aku tak tau pasti.

Hari ini berbeda, kita memutuskan untuk berhenti saling mengeluhkan keadaan.
Kita tau mengeluh tak pernah menyelesaikan apapun, maka dari itu mulai hari ini kita berjanji akan mengganti tiap keluhan dengan pelukan hangat.
"Semoga kita semakin kuat," katamu tiap kali meyelesaikan satu pelukan.
Entah keajaiban seperti apa yang mengikis beban di pundakku karena usai berpelukan aku merasa ringan. Seringan daun-daun yang tersapu angin musim gugur di depan flat-mu.

Hari ini kamu pulang lebih awal.
"Aku akan beristirahat," katamu. Padahal setauku, kamu tak pernah lelah sebelum dini hari.
Sejauh yang aku ingat, kamu tak pernah tertidur sebelum mendapati aku berbaring di sisi kiri tempat tidurmu.

Aku tak tau pasti kekacauan seperti apa yang kamu rasakan.
Aku bahkan tak bisa menakar seberat apa beban yang diam di pundakmu hingga kamu merasa perlu beristirahat di hari terang.
Namun tak kuutarakan pertanyaan karena aku tau kamu akan membalasnya dengan sebuah lengkungan magis yang membuat kupu-kupu dalam perutku mengepak-ngepak lembut.

Seperti yang lalu-lalu, kamu hanya akan tersenyum dan bicara, "Aku baik-baik saja, sayang."

Sampai detik aku menulis ini, aku tak tau pasti apa yang kamu rasakan.
Namun yang aku yakini, 'berhenti' dan 'menyerah' rasa-rasanya tak pernah larut jadi satu dengan darahmu.

Kamu tau aku jarang meminta, kan?
Malam ini aku punya satu, aku memintamu untuk tetap menjadi kamu.

--
Ps: Oh ya, satu lagi. Sore tadi aku kehujanan, tolong siapkan banyak pelukan malam ini :)

Sabtu, 12 April 2014

Being Naked


Hairs

"Maafkan, rambutku masih terurai berantakan. Aku terburu-buru datang sampai tak memikirkan soal itu."

"Kamu pikir aku peduli? Sejak tadi, kamu pikir aku punya waktu untuk menilai rambutmu?"

*smiling*

Pagi di Dua Puluh Satu

"Bagaimana rasanya berusia dua puluh satu tahun?" suaramu adalah yang pertama kudengar mataku masih menyesuaikan dengan pilar-pilar cahaya yang masuk menembus tirai kamar kita. Ah iya, hari ini ulang tahunku.

Aku berdehem, berusaha meminimalisir suara pagiku yang tak merdu. "Entah. Aku rasanya lebih memikirkan akan menghabiskan hidup dengan melakukan apa ketimbang dengan bersama siapa."

Kamu menaikkan selimut yang mulai turun ke pinggangku dengan lembut, "Baiklah. Semoga kamu bermanfaat bagi banyak orang. Semoga kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu inginkan." lalu diakhiri dengan mengecup keningku.

Ada Amin yang terucap pelan seiring dengan usainya kecupanmu. Aku tau telinga Tuhan peka akan doa-doa hambaNya, tak pernah sedikitpun kuragukan itu.

Satu yang selalu mengganjal bagiku ialah hal apa yang akan dilakukan Tuhan selanjutnya, memilah doa mana yang dikabulkan dan tidak? Kalau begitu, apa yang menjadi pertimbanganNya dalam mengabulkan doa-doa? Seberapa religius hambaNya?

Baiklah, seorang hamba yang kadang meminum segelas dua gelas alkohol dan tidur bersama dengan yang bukan pasangannya sepertinya akan sulit masuk ke dalam kualifikasi hamba yang religius. Tak apa, aku tetap yakin setiap doa terbawa sampai ke ujung langit meskipun tak tau apa yang terjadi setelahnya.

"Kamu nggak kedinginan?" tanyaku mengerlung di dalam selimut sembari memberikan isyarat agar kamu masuk ke dalam selimut dan menghabiskan pagi ini dengan berpelukan daripada duduk mengganti-ganti program televisi yang tak ada menariknya.

Kamu menoleh, "Nggak. Kamu kedinginan? Mau kumatiin AC nya?"

Aku menghela napas, "Kamu nggak sadar bahwa aku sebenarnya minta kamu untuk mendekat dan memelukku?" aku berbalik memunggungimu dengan kesal.

"Aku tau." kamu memberikan celah di dalam selimut dan menggeserkan tubuhmu mendekat. "Aku cuma mau kamu ngomong langsung," tanganmu melingkar di pinggangku, kemudian kecupan lembut terasa di pundakku.

"Don't worry. You are more important than my ego," 

Kamu bangkit dari posisi tidurmu,aku tau karena tanganmu yang melingkar di pinggangku kini membalik posisiku pelan. "You are more important to me, more than anything in this world," ujarmu setengah berbisik di telingaku.

"Then you are lying," giliranku bicara sembari mengecup singkat pipimu. "Let's get up, kamu siang ini ada meeting penting kan? Meeting yang katamu sudah direncanakan beberapa minggu sebelu...."

Suaraku lenyap, terkunci kecupanmu yang kuat dan enggan kulepaskan. Beberapa menit setelahnya aku seperti melupakan banyak agenda yang harusnya jadi alasanku bangkit dan mengawali kegiatan hari ini, tergantikan oleh kuatnya perasaan menginginkanmu lebih lama dari yang bisa kudapatkan.

Di tengah usahaku mengatur napas, aku ingat bahwa sepertinya aku belum mengirimkan doa apapun ke langit. Meskipun aku tak termasuk dalam kalangan hamba yang religius, harusnya Tuhan berbaik hati dengan mengabulkan satu permintaan kecilku.

Benar bukan, tak ada yang terlalu sulit untukNya?

Maka dengan masih saling mengecup mesra, aku membisikkan  pada Tuhan yang kuyakin sedang mengamati kita, aku meminta keberanianmu untuk tinggal di sisiku lebih lama dari selamanya.

Kamis, 10 April 2014

#snapshot

15/03/14 
01:26:56

I HATE TIME FLIES TOO FAST WHEN I TALK WITH YOU

--
I still do.

Rabu, 09 April 2014

Saran Tiana

"Hei," sapaan yang datang dari arah samping membuatku refleks menengok. Tiana.

Aku tersenyum sopan, "Hei. Silahkan duduk," lalu memanggil pelayan untuk mengantarkan buku menu.

Tiana duduk sambil berusaha menguasai dirinya, sangat terlihat bahwa dia pun bingung dengan permintaanku untuk menemuinya siang ini. Tidak ada yang menyangka bahwa pertemuan kami akhirnya bisa berlangsung sedemikian tenang.

Usai menyebutkan satu jenis kopi, Tiana langsung angkat suara, "Aku tak pernah mengira kamu akan mengundangku,"

"Well, many things changed," jawabku bersamaan dengan tawa canggung. "Ini salah satu usahaku meminta maaf, untuk hal terakhir yang aku lakukan padamu,"

Giliran Tiana tertawa, "Aya, kalau pertemuan ini adalah soal meminta maaf, maka akulah yang berhutang maaf padamu. Let's move on, shall we?"

"I have already. Don't worry," ujarku sambil memainkan pengaduk kopi di dalam cangkirku. "Na, boleh aku tanya sesuatu?"

Tak sampai satu detik berselang, Tiana menjawab, "Tentangku dan Bagas?"

Aku diam sebentar, "Bukan. Aku sudah menganggapnya masa lalu,". Ada jeda yang aku berikan setelah aku mengucapkan kalimat itu, sekaligus merasakan apakah aku masih membohongi diriku sendiri. Nyatanya tidak, tak ada yang aku rasakan saat mengucapkan nama Bagas.

Pesanan Tiana datang. Tiana membuka sachet gula dan mencampurkannya ke dalam kopi pesanannya, memberikanku waktu menyusun memori dari kejadian yang lampau. Ah! Sial, sakitnya masih ada.

"Sesekali, saat aku mengingat soal kejadian itu.. Aku merasa sangat tolol,"

Aku mendongak ke arah Tiana, "Kejadian yang mana?"

Tiana menyesap kopinya, seperti ingin melumuri semua rongga mulutnya dengan larutan kafein. "Iya, saat aku dengan bangga datang ke flat mu dan memamerkan apa yang kulakukan dengan Bagas di malam sebelumnya,"

"Everyone makes mistake," kalimat Tiana kutanggapi klise, tak mengerti apa lagi yang harus diucapkan.

"Iya, aku tau. Tapi saat itu aku terlalu gegabah bertindak. Egoku masih belum sepenuhnya dapat kukendalikan. Harusnya aku bisa saja kan, jadi simpanan Bagas untuk jangka waktu yang tidak terbatas?" Tiana menutup kalimatnya dengan tawa ringan.

Aku tersenyum, "Kalau kamu sampai melakukannya, maka aku satu-satunya yang akan menjadi sangat tolol. Bagaimana bisa aku tidak menyadari bahwa tunanganku sudah meniduri perempuan lain selama itu?" 

Tiana berhenti tertawa, seperti merasakan sakit yang baru saja menggoresku tanpa ampun. "Maaf. Jadi, kapan kamu mau menjelaskan alasan dari pertemuan kita hari ini?"

"Ah iya, aku hampir lupa," ucapku berbohong. Mana mungkin aku lupa tujuanku mengajak Tiana bertemu. "Aku mau kamu tau bahwa ini tidak ada hubungannya dengan Bagas dan mengenai urusan kita di masa lalu, aku sudah memaafkannya."

"Jelas kamu memaafkannya, Aya. Kamu sudah membalasku dengan balasan yang setimpal," Tiana mengangkat sebelah alisnya, membuatku sadar bahwa maaf yang kuberikan sama sekali tidak cuma-cuma. 

Aku menghela napas, ingin segera mengakhiri pembicaraan tentang hal ini. "Aku juga minta maaf tentang apa yang kulakukan pada karirmu. Sekarang, bisa kita mulai?"

Senyum Tiana mengembang, aku mengangkat bahu.

"Singkat kata, aku hari ini berada di posisimu tiga tahun lalu. Aku mengencani seorang pria baik, tunangan seseorang. Kami berdua saling mencintai dan aku begitu menginginkannya. Ini akan terdengar sangat bodoh, aku meminta saranmu untuk menjadikannya milikku. Sama seperti yang kamu lakukan pada Bagas,"

Tiana diam, sepertinya terkejut dengan permintaanku. "Kamu sungguh-sungguh?"

"Kalau aku tidak sungguh menginginkannya untuk menjadi milikku, maka aku tak akan mengundang seorang perempuan yang pernah merebut tunanganku untuk duduk semeja dan meminta sarannya, bukan?" jawabku serius.

Ada hening yang tercipta, aku tak ingin bicara sampai Tiana siap. Lagipula, kalau Tiana sedang berpikir, aku tak akan mengganggunya.

"Athaya, ada beberapa hal yang akan kusampaikan. Mungkin ini tidak akan menyenangkan buatmu dan mungkin kamu akan enggan menemuiku lagi setelah aku mengatakannya. Anggaplah ini satu kebaikan yang kulakukan untukmu, meskipun aku tidak mengabulkan permohonanmu. Athaya, katamu kamu mengencani seorang pria baik? Pria yang baik tidak akan melakukan hal-hal yang mungkin menyakiti pasangannya. Kalau dia baik, seperti apa yang kamu katakan, maka dia tidak akan mengacuhkanmu dan tetap setia dengan pasangannya."

"Tiana," panggilku memotong ucapan Tiana yang menurutku sama sekali tak akan ada gunanya bagiku. "Aku tak perlu saranmu tentang mana yang baik dan yang buruk. Aku hanya perlu kamu mengatakan apa yang harus kulakukan untuk memisahkan dia dengan tunangannya,"

"Baiklah, ini akan jadi kalimat terakhirku. Aku tak akan memberikanmu saran tambahan mengenai tindakanmu. Tapi kamu tidak boleh lupa Athaya, sesuatu yang kamu dapatkan dengan cara merebutnya dari tangan orang lain, akan pergi persis dengan cara seperti itu," Tiana mengangkat cangkir kopinya dan mulai meneguk. 

Aku terdiam. Namun sesaat kemudian tak tahan untuk bertanya, "Bagaimana tentangmu dan Bagas?"

"Dia meninggalkanku untuk perempuan lain, sama seperti dia menginggalkanmu untukku,"

--

Untukmu, yang diam-diam menyelinap dan membuat aku berdarah-darah.
Aku tidak akan pernah melupakan sakitnya.

An assumption.

Dan tiba-tiba, kognisiku seperti lepas  kendali.
Aku melewatkan hal-hal penting yang kamu utarakan.

Maaf, bukan larut yang membuat kesadaranku memudar.
Bukan pula jenuh yang jadi alasanku kehilangan perhatian.
Tapi suaramu.

Aku merasa bahagia sekaligus bodoh yang teramat.

Sudah berkali-kali aku mendengarkanmu berbicara di sebelahku, di ranjang yang sama.
Namun baru malam ini aku menyadari bahwa ketertarikanku akan pembicaraan-pembicaraan kita tak berkaitan dengan luas wawasanmu.

Ralat, pasti ada kaitannya dengan itu walaupun kecil.
Tapi ijinkan aku menjelaskan sudut pandang yang kudapatkan malam ini.

Ini adalah asumsi, tentu karena aku belum menguji soal kebenarannya dengan metodologi yang sesuai. Kamu tau bahwa ilmu yang aku dalami adalah tentang menguji asumsi-asumsi mengenai perilaku, kan? Jadi maafkan kalau aku harus menyebutnya asumsi, bahkan di saat aku sangat meyakini kebenarannya..

Aku mengasumsikan bahwa aku lebih menikmati suaramu, bukan hanya sebagai medium penghantar konten pembicaraan tapi sebagai inti dari kegiatan mendengar yang aku lakukan.

Kamu pasti akan tertawa kalau kujelaskan..
Begini sayang,

Aku menyadari bahwa suaramu jauh jauh jauh lebih menarik perhatianku ketimbang pandangan-pandanganmu mengenai banyak hal. Pandanganmu mengenai pekerjaan, misalnya. Caramu menghayati waktu-waktu yang kamu habiskan mengetik di depan layar sebagai permainan yang kamu senangi.

Aku juga menyadari hela napasmu dalam tiap jeda kalimat yang kamu katakan. Hela napas yang semakin panjang kalau kita terlibat dalam pembicaraan emosional dan berakhir dengan nada bicaraku yang meninggi. Tidak, nadamu tak pernah turut berpacu, bahkan semakin lembut seiring dengan payahnya kemampuanku mengelola amarah. Aku berterima kasih untuk yang satu itu.

Aku menyadari bahwa kamu menggumam saat mencari pengganti kata yang tak aku mengerti. Padahal kamu bisa saja angkuh menjawab ketidaktauanku, namun alih-alih merendahkan orang lain, kamu selalu mencari cara menambah wawasan mereka. Dan aku menganggap itu caramu bersyukur atas kemampuan yang sudah dititiskan semesta dalam kepalamu.

Terakhir, yang jadi favoritku. Aku menyadari bahwa kamu berusaha tetap terjaga saat aku enggan beristirahat. Bahkan setelah melalui hari penuh tekanan dan ujian, kamu akan tetap berusaha tidak mendahului aku soal terpejam. Tentu aku tidak akan menyebutkan berapa kali kamu kalah dan akhirnya mendengkur di sampingku dengan wajah lucu.

Karena alasan-alasan yang aku tuliskan di atas, sayang..
Obrolan-obrolan kita ibarat candu untukku, tentunya aku tak akan mengecilkan fungsi dekap dan kecup yang seringkali kita kombinasikan dengan porsi yang berbeda-beda.
Semuanya membentuk sebuah rangsang hebat yang selalu berhasil mengaktifkan sistem limbik di otakku, menghasilkan respon paling primitif dan penuh dengan insting.

Dan aku tak perlu belajar bagaimana caranya mengakhiri obrolan bersamamu.
Because they said, "It's like riding a bicycle, you won't forget how."

Senin, 07 April 2014

Hayati!

"Penelitian adalah tentang penghayatan. Apa yang mau kamu teliti?"

"Perilaku memaafkan dalam hubungan berpacaran, bu."

"Pernah berpacaran?"

"Pernah, bu."

"Sering memaafkan?"

"..."

"Trus, bagaimana kamu bisa menghayati variabel penelitian kamu?"

"..."

"Hayati!"

Minggu, 06 April 2014

Pulang

Kemang, 
Larut malam.

Aku membuka pintu depan, berharap kamu sudah terlelap tidur karena ini empat jam lebih dari waktu pulang yang aku janjikan. Semoga kamu sudah terlelap adalah harapan yang egois sebenarnya. Aku berharap kamu terlelap agar aku tak perlu merasa bersalah kalau-kalau kamu menunggui aku yang ingkar janji.

Lalu disana kamu, duduk diam dengan setelan baju tidur di hadapan layar dan berbaris-baris kata yang menjadi bagian dari pekerjaanmu. Bukan, kamu bukan sedang menulis. T
entang tulis menulis, aku bisa berbangga bahwa aku lebih pintar merangkai kata-kata dibanding kamu.

"Maaf aku terlambat, besok ada klien yang tiba-tiba minta meeting pagi jadi malam ini aku harus menyiapkan semuanya. Kamu tau kan atasanku yang baru tidak memiliki kehidupan lain di luar kantor jadi dengan bodohnya dia menganggap hidupku sama menyedihkan dengan kehidupannya." aku bicara dengan nada naik turun, hampir mengumpat karena di saat yang bersamaan heels-ku sulit dilepas.


Terdengar bunyi berirama yang aku suka,hasil perpaduan jari-jari dan tuts keyboardmu."Bagaimana dengan makan malammu?"

"Belum. Aku sibuk memikirkan bagaimana caranya cepat menyelesaikan meeting dan pulang."

Kamu memutar kursi, menatapku dengan pandangan lucu. "Kamu tau bahwa aku akan tetap menunggu, kan?"


Aku mendekat, menyibakkan rambut yang tak kalah berantakan dengan suasana hatiku sebelum bertemu kamu. "Tak peduli kamu menunggu, aku selalu ingin bisa secepatnya pulang kepadamu." ucapku sambil kemudian membungkukkan diri dan mendaratkan sebuah kecupan singkat.

Kamu menahan pinggangku yang hendak tegak kembali, "Aku akan selalu menjadi tempatmu pulang, Dina." lalu membalas kecupanku dengan ciuman panjang.

Senyumku tersungging, kalimatmu membuatku melupakan keinginanku beristirahat sebelumnya. Kalimatmu melambungkan asa yang sebelumnya tertutupi oleh kelelahan. Namun seketika, aku sadar kesemuan yang kamu sajikan. "Kamu akan selalu jadi tempatku pulang, Dharma. Tapi aku tidak akan lupa bahwa kamu punya istri dan anak-anak yang selalu jadi tempatmu pulang."

Peganganmu di pinggangku mengendur. Kamu memalingkan wajah, aku sudah sedemikian jahatnya merusak suasana yang sebenarnya bisa berakhir dengan menyenangkan. "Aku tau. Maaf."

"Apa yang perlu dimaafkan? Pada akhirnya kamu akan kembali pada mereka dan meninggalkan aku merana sendiri. Jadi kurasa, bukankah lebih baik kita menikmati waktu yang kita punya saat ini? Bukankah lebih baik aku menghabiskan malam-malam yang bisa kuhabiskan bersamamu sebelum akhirnya kamu kembali tidur dengan ibu dari anak-anakmu?"


Toh akhirnya akan sama saja untukku, Dharma.
 

Template by Best Web Hosting