Senin, 30 Juni 2014

Kalaupun seandainya kita ditunangkan oleh takdir, Sayang, kamu seharusnya tau bahwa semesta mau kita tetap berusaha memperjuangkan satu sama lain.

Sabtu, 28 Juni 2014

Kamu harus, Sayang

Kamu harus mempertahankanku, Sayang.
Sebab suatu saat nanti aku akan hilang alasan tetap berdiam di sisimu.
Kamu harus mempertahankanku, Sayang.
Sebab suatu saat nanti aku akan pergi dan meninggalkanmu menyesal sendiri.

Percayalah, Sayang.
Kehilanganku kelak akan lebih menyulitkanmu ketimbang berpayah hari ini untuk membuatku tetap tinggal.

Aku tak bermaksud angkuh, Sayang.
Aku hanya ingin kamu sadar, bahwa segala yang ada hari ini tak berarti selamanya akan jadi milikmu. Kalau malam ini kita berdua terlelap saling merengkuh, malam lain kamu akan sendirian bertanya-tanya kenapa kamu enggan memperjuangkan aku.

Sayang, aku bukannya tak punya pilihan saat ini.
Aku memberimu kesempatan.

Penyesalan akan datang kemudian, Sayang.
Sesal akan mengisi ruang kosong dalam tiap sel tubuhmu, membuatmu kesakitan tiap menarik napas. Namun saat itu, meronta sudah tak ada artinya. Saat itu, kamu akan sadar betapa kamu salah mengambil keputusan.

Kamu harus mempertahankanku, Sayang.
Sebelum waktu kita tergerus habis oleh rotasi bumi.

Kamu harus mempertahankanku, Sayang.
Sebelum aku menemukan orang lain yang akan melakukannya.

Don't sick! #Indramayu

Terhitung dari tanggal 20, saya (dan dua puluh orang lain yang menjadi teman sekelompok saya) sedang menjalani satu mata kuliah yang mengharuskan saya untuk tinggal selama satu bulan di sebuah desa kecil di Kabupaten Indramayu.

Kami tinggal di sebuah rumah yang cukup bagus (kalau dibandingkan dengan rumah penduduk pada umumnya). Rumahnya sudah berdinding tembok (bukan anyaman bambu) dan berlantai (bukan beralas tanah). Kamar mandinya pun sudah baik (mengingat masih ada penduduk disini yang mandi di sungai yang bersamaan dengan itu airnya digunakan untuk mencuci peralatan masak dan buang air). Jadi, saya harus banyak-banyak bersyukur dengan bangunan yang menjadi rumah saya selama satu bulan ini :)

Pagi ini, saya mengantar teman saya yang kebetulan sedang tidak enak badan ke puskesmas pusat di desa tetangga. Kami harus pergi ke desa sebelah karena memang di desa kami hanya tersedia puskesmas pembantu yang diisi oleh seorang perawat (orang yang memiliki gelar sarjana keperawatan meskipun beliau memberikan obat-obatan untuk sakit ringan).

Sesampainya kami disana, hati saya sedih setelah terkejut oleh yang disebut sebagai 'puskesmas pusat'. Ternyata di puskesmas pusat, tenaga dokter pun tak tersedia. Di poli umumnya hanya ada seorang perawat (atau bidan, saya tak tau pasti karena menunggu di luar) yang bertugas memeriksa dan meresepkan obat.

Saya jadi membayangkan bagaimana jadinya menjadi masyarakat yang tinggal disini. Boro-boro mau diperiksa oleh dokter spesialis, dokter umum saja ogah buka praktek disini. Boro-boro mengerti soal psikosomatis kalau jantung koroner dan pneumonia saja belum tentu ditangani tepat waktu.

Fasilitas kesehatan mahal, tenaganya apalagi.
Setelah bertahun sekolah dan membayar sekian ratus juta, kenapa harus duduk diam dan menangani masyarakat yang masih menjemur nasi sisa untuk dimakan esok hari, kan?

Jakarta kelewat terang, sinarnya menyilaukan. Saya adalah satu yang terkena silaunya.
Masyarakat sini tak tau asiknya nonton film sembari duduk di ruang dingin ber-AC. Masyarakat sini sibuk berpikir bagaimana agar sawah mereka tak terserang hama dan anak istrinya bisa makan layak. Tiba-tiba saya jadi merasa manja sekali saat mengeluh tentang lelah berkuliah pagi sampai sore di panasnya cuaca Jatinangor.

Saat begini, mencegah lebih baik ketimbang mengobati rasanya menjadi peribahasa yang tepat untuk diturunkan antar generasi di daerah ini. Mereka tak boleh sakit, tak boleh! Sebab tak ada yang ma(mp)u mengobati mereka.

Jumat, 27 Juni 2014

1000th post

Seribu.
Lama tahun yang ingin aku habiskan bersamamu.
Aku tau kamu pasti tertawa dan berkata tak ada manusia yang hidup seribu tahun.
Tak apa.

Terpisah dua ratus lima koma tiga kilometer darimu,
aku berharap bumi memepat dan melipat jarak yang mencacah hatiku pelan-pelan.
Jangan, jangan sampai seribu kilometer. Atau aku lebih baik membatu saja.

Kamu lebih baik tak tau seberapa besar aku menginginkanmu. 
Tau kenapa, Sayang? Karena tak peduli berapa besar keinginan yang aku punya, tetap saja kita akan terpisah lebih jauh lagi di masa depan.

Bersama itu mustahil, Sayang.
Terutama denganmu.

Seribu.
Aku mau kecupmu seribu kali.
Aku mau mencipta seribu senyum untukmu.
Aku mau tiap kamu mengingatku, waktu kita bertambah seribu hari lagi.

Rabu, 25 Juni 2014

Waktu dan Rindu

"Berapa lama lagi?" tanyamu yang dikirim padaku melalui semilir. Aku menggigit bibir, kehilangan kata. Kalau ditanya tentang keinginan hatiku, sungguh aku ingin berlari sekarang, ke arahmu. Tapi dunia bukan hanya tentang apa yang kita inginkan, bukan?

Mataku nanar menatap hamparan hijau di depanku, tiba-tiba aku tak ingin berada disini. Semua indah yang semula aku harapkan, remuk sebelum aku mampu menyusun apa yang kira-kira menyenangkan untuk diingat kelak.

"Aku tercekik rindu, Sayang." semilir kedua datang meniupkan pesanmu. Aku tercekat, rindu memang jahatnya terlalu. Rindu tak memilih akan menusuk siapa, rindu tak berbelas kasihan sama sekali.

Aku menggigit lidahku kuat-kuat, enggan mengirimkan sedu sedan sebagai balasan pesanmu. Kaki-kakiku berlari ke arah sungai, menitipkan sebuah senyum untuk dibawakan padamu. Semoga bisa membasuh rindumu sementara.

Sayang, saat kamu tak ada, waktu bersama dengan rindu menjadi musuh terbesarku.

...but you cannot be with

Senin, 23 Juni 2014

When every time turns to almost nothing

Aku benci detik berdetak dan satuan rindu memenuhi rongga dadaku. Rasanya sesak.

Do you?

Do you know that feeling in the middle of your chest? When you take a deep breath, it hurts you deeper. When you stay quiet and try to close your eyes, it stays there, hurts you even more.

Minggu, 22 Juni 2014

Jalan usai hujan

Aku masih menggeliat malas di dalam selimut saat pertama membuka mata dan mendapati kamu sudah berdiri di samping jendela kamar kita. Ada yang mencuri atensimu demikian lama, membuat aku tergerak untuk bertanya. "Apa yang kamu lakukan, Sayang?"

Mendengar suara bangun tidurku, kamu menyudahi kegiatan menatap ke luar jendela sesaat. Hanya sesaat, untuk melemparkan selengkung senyum dan menjawabku. "Hujan membuat jalan terlihat menarik, Sayang."

Ada harga diri yang iri ketika kamu tak beranjak barang sedepa. Aku bangkit dari atas tempat tidur, kakiku terisi oleh energi yang bertanya-tanya semenarik apa pemandangan yang terlihat dari ketinggian sepuluh lantai sampai kamu enggan bergerak kembali padaku.

"Sayang," ucapmu sambil menutupi sebagian tubuhku dengan tirai penutup jendela. Lucu sekali, aku bahkan sudah tak peduli penampilanku yang polos kala itu. Lagipula, siapa yang punya waktu memandangi satu dari ratusan jendela kecil tempat kita bermalam?

Iya, jalanan memang cantik usai diguyur hujan. Aspal menjadi berkilap ditimpa sinar lampu jalan. Di atasnya, mobil-mobil dengan lampu sorot terang menambah kekayaan permainan cahaya. Pantas aku kalah mempesona.

Tanganmu melingkar di pinggangku, kamu menarik aku merapat ke arahmu. Bersamaan dengan itu, kecupan-kecupan kecil memenuhi ruang kosong di punggungku. Kecupan kesukaanku. Kecupanmu. "Kamu baru saja mengalahkan menariknya jalan usai hujan turun, Sayang."

"Benarkah? Karena aku baru saja menyadari bahwa aku mungkin kalah pesona dibandingkan dengan jalan yang membuatmu bergeming disini." ujarku menoleh ke belakang, memagutmu yang sibuk mengecup.

Kamu melepaskan ciuman yang aku berikan beberapa detik, "Setiap lelaki pernah menjadi bodoh, Sayang. Maafkan kebodohanku barusan." lalu memagut sepasang bibir yang sekarang tersenyum perlahan malu-malu.

Apa? Malu?
Lucu sekali. Setelah tampil polos di depanmu, aku masih bisa merasa malu. 

Jumat, 20 Juni 2014

Cuma kamu

Biarlah semua orang melihat aku mampu berdiri tegap, berpikir hebat, berlari menuju apapun, serta menjawab tantangan demi tantangan yang ditawarkan semesta.

Cuma kamu yang tau aku tak kuasa akan satu hal. Kehilanganmu.

Cuma kamu yang tau aku menakutkan satu hal mati-matian. Ketiadaanmu.

Kamis, 19 Juni 2014

18.6.14

"Memelukmu sayang, nggak akan pernah ada puasnya :')"

--
Aku tau, Sayang. Tapi tetap saja aku tak bisa berhenti berusaha memenuhinya lagi dan lagi. Seperti candu yang tak bisa berhenti aku hisap kuat asapnya, seperti tanya yang tak pernah punya jawaban.

Kalau iya mendekapmu erat memiliki batas, Sayang..
Aku tak tau lagi seperti apa caraku memuaskan rindu.
Mungkin kamu akan mati kepayahan, tercekik dekapku yang enggan melepaskan.

Rabu, 18 Juni 2014

Culture Festival

Sejak kecil, saya suka sekali datang ke festival (meskipun festival yang pertama kali dan hampir setiap tahun saya datangi dulu cuma Bobo Festival). Hehehe. Bagi saya yang ekstravert ekstrim, keramaian selalu saja menjadi sarana charging diri saya di tengah penat perkuliahan. Makanya meskipun di tengah minggu UAS (Ujian Akhir Semester), saya mengiyakan ajakan Uti untuk pergi ke festival budaya.

ps: almost all pictures are taken by Lidya

Welcome!

Peran Raja-Ratu paling menjiwai!


Putri-putri Mesir adalah peserta paling ramah, bahkan waktu istirahat mereka masih mau diajak berfoto
Awalnya saya mengira acaranya diadakan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, ternyata festival ini diadakan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi di universitas saya. Saya pribadi (hampir selalu) salut deh sama mereka kalau soal ide acara cemerlang dan menyenangkan. Oiya, hebatnya lagi acara ini gratis bagi siapa saja yang mau datang (maklum ya, mahasiswi emang suka sekali sama hal gratisan).





Nah, madamoiselle cantik ini yang pertama kali saya ajak foto! Cantik banget abisnya!
Yang menarik dari acaranya? Nggak banyak konten serius yang disajikan tapi kostum warna-warni dan booth yang dihias sesuai dengan tema masing-masing budaya menjadi ketertarikan tersendiri bagi pengunjung yang ogah disodori konten serius macam saya.

Para peserta festivalnya dengan senang hati diajak berfoto atau ditanya seputar budaya yang mereka tampilkan. Saya sendiri belajar beberapa kata dalam bahasa asing dan mencicipi makanan khas yang disediakan cuma-cuma disini (tuh kan gratisan lagi)


Ini rombongan dari Tiongkok, rajanya sangat humble sampe pake swallow :))

Rombongan India saya rasa yang narinya paling oke, yaiyalah!  


Cappati (did I spell it right way?), roti yang terbuat dari gandum dan dimakan dengan dicelupkan ke kuah kari India

Sunda! Baju dengan ornamen paling ribet. Saya bangga!



Republik Fiji!

Mas yang ini, waktu diajak foto dia bilang, "Tapi harus seneng ya mukanya kalo mau foto.."


Tiap kali datang ke acara bertemakan budaya, saya selalu saja ingin membuka mata banyak orang bahwa perbedaan itu asik dan menyenangkan. Untuk apa sih menyamakan semua hal? Bukankah pelangi hilang pesona kalau warnanya sama?

Senin, 16 Juni 2014

Saat kami bercakap rindu

Untuk jiwa-jiwa yang merindu, kami mempersembahkan hinggap kata. Bukannya ingin menyembuhkan serangan rindu, kami justru ingin memperparahnya.

Kenapa? Supaya kaki-kakimu berusaha menujunya. 
Menuju dia yang katamu kau rindu.

Terimakasih @totonchamdun!









Kamis, 12 Juni 2014

Polos

Menjadi polos di depanmu, sama sekali berbeda dengan menanggalkan apapun yang menutupi kulitku. Kalau tentang yang itu, aku tak perlu kamu.
Aku bisa saja melakukannya pada malam-malam saat kamu tiada.

Aku benar-benar tak ingin menutupi apapun, termasuk segala cacat dan salahku.
Segala gores bekas luka masa lalu, kebodohan-kebodohan yang aku lakukan demi memenangkan egoku. Supaya kamu tau, aku pernah sebodoh itu.

Kamu perlu tau agar tak menyesal memilihku.
Bukan aku tak mau memamerkan bisa dan hebatku, kamu tentu bisa menerimanya lebih mudah kelak.

Kemarilah, kalau kamu siap mendengar ketakutan konyol yang membangunkanku dari tidur.
Duduklah di sampingku, kalau kamu siap mendengar kecemasan paling tolol yang bisa menghilangkan kantukku berhari-hari lamanya.

Karena menerimaku, Sayang.. tak semudah memandang dari jauh dan melihat semua kilau yang dipuja banyak orang.

Karena menjadi polos di depanmu, Sayang.. jadi satu-satunya cara untuk tau apakah kamu benar pantas untuk ditemani sampai mati.

--

Senin, 09 Juni 2014

Tinder! (not an app review)

DISCLAIMER: Post ini bukan app-review (apalagi post berbayar) dan dibuat sebagai sarana bawel penulisnya. Penulis tidak memiliki latar belakang dunia per-aplikasi-an dan memberikan pandangan sebagai user yang awam dan berbudi luhur (?).

Sebagai orang yang punya keinginan jadi social media enthusiast (ini maksudnya orang yang ngga punya kerjaan/kehidupan di dunia nyata jadi main di media sosial, hehehe), saya cukup 'peka' dengan perkembangan aplikasi di sekitar. Kerjaan saya tiap liat review aplikasi lucu ya cari di playstore >> download >> uninstall. Langkah terakhir cuma dilakukan kalau aplikasinya ngga asik. Tuh kan, keliatan banget saya nggak ada kerjaan.
Tinder's Logo
Beberapa minggu lalu saya tergerak untuk install Tinder di ponsel pintar saya.
Alasannya?
1.Ada beberapa orang di timeline twitter yang lagi ngomongin, trus saya penasaran.
2. Saya kesepian.
3. Saya kesepian.
4. Saya kes.. ah sudahlah.

Setelah saya googling, ternyata Tinder disebut juga sebagai Dating App alias aplikasi kencan alias buat nyari teman kencan. Bagus deh, saya nggak menyalahi norma sosial karena saya belum punya pacar sekarang ini (kode keras!).

Demi mendukung usaha kamu yang masih jomb.. maksudnya single, saya akan menguraikan secara singkat bagaimana cara kerja dating app ini. Have a seat!

Tinder ini lucu. Sebelum diupdate dengan ditambahkan fitur moment (seperti di Path) isinya sangat simpel. Begitu membuka aplikasinya, kita diminta untuk sign in menggunakan profil Facebook. Tapi tenang, Tinder nggak akan mengganggu kita dengan menuliskan post di Facebook kok. Tinder memang menggunakan Facebook untuk menganalisa informasi dasar kita (meminimalisir kemungkinan akun fake) dan mencocokkan kita dengan calon pasangan chatting menggunakan lokasi, mutual friends, dan common interests.

Tinder cuma akan mencarikan kita pasangan chatting, kalau mau dilanjutkan jadi pasangan hidup ya kamu harus usaha sendiri dong! ;)

Lanjut, setelah kita berhasil sign in kita bisa mengganti profile (yang fungsinya mirip seperti bio pada twitter). Kalau menurut wikihow, kamu disarankan menulis profile yang singkat tapi kalau nggak bisa ya biarin aja kosong, soalnya kebanyakan orang cuma liat foto aja kok.

Di Tinder kamu nggak perlu repot milih foto mana yang dijadikan profile picture karena Tinder tersinkronisasi dengan akun Facebook jadi profile Facebook kamu secara otomatis jadi foto profile di Tinder. Tips: Ganti aja dulu foto di Facebook sama foto yang oke! ;)

Oke, selanjutnya Tinder akan mencari calon pasangan buat kamu. Ini berarti akan muncul banyak tampilan pengguna Tinder lain untuk kamu pilih. Sederhana, kalau kamu tertarik swipe aja fotonya ke kanan. Kalau enggak ya ke kiri, gampang kan?

Trus foto-foto kece yang kamu swipe ke kanan bakal langsung bisa chat sama kamu?
Enggak lah! Maunya kamu itu sih, hahaha. Kalau mereka juga suka sama kamu (swipe profile kamu ke kanan di layar mereka), Tinder baru akan mengartikannya sebagai 'Match' dan kalian bisa chat.
Demi nama baik, masnya dibuat kotak-kotak aja ya..
Di post berikutnya saya akan share tentang 'kelucuan' yang saya temui di Tinder, hehehe. Selamat mencoba!

Loyalty

Kamu datang dengan wangi yang selalu membuat degupku menjadi tak beraturan selama beberapa detik awal pertemuan. Kalau ini terjadi dua tahun lalu, maka langkahmu selanjutnya adalah mendekati aku yang tersenyum malu-malu, mendaratkan sebuah kecupan kecil. Sayangnya kita tidak hidup di masa lalu, Ji.

"Kamu apa kabar?" tanyamu melemparkan senyum formal.

Kaki-kakiku mengetuk tak sabar di bawah meja, aku ingin selekasnya pergi dari sini. "Baik. Apa yang mau kamu bicarakan?"

Aji--nama pria yang duduk di depanku--nampak terkejut namun langsung berusaha menguasai dirinya lagi, "Tahun ini aku akan menikah, Re."

"Congratulation then," ujarku sembari mengatur isi kepala yang berantakan tiba-tiba, memberikan sensasi berputar yang membuat pening. "I am happy for you,"

"Kamu mau menikah denganku, Re?"

--
Aku menghela napas, mengumpulkan kata-kata yang seolah berkumpul di dalam rongga perutku. Kami berdua tak ada yang bicara setelah Aji menanyakan sesuatu yang menjadi perkiraan terakhir kalimat yang keluar dalam pertemuan kami siang ini.

"Ji, I can't. We're over for a reason." Klise. Aku tak bisa memikirkan alternatif respon lain untuk Aji. Ucapan 'kamu terlambat, Ji.' rasanya juga tak bisa memperbaiki keadaan.

Aji menggenggam tanganku yang terkulai di atas meja, "Rea, aku sungguh-sungguh. Keluargaku meminta aku untuk menikah tahun ini. Satu-satunya yang terpikir olehku hanya kamu Re,"

Brengsek. Kupu-kupu yang kukira mati kini mengepak-ngepak dalam perutku, menggantikan sensasi tak nyaman dengan perasaan campur aduk. "Ji. Aku nggak bisa."

"There's someone else?" Tebak Aji penasaran. Matanya meneliti ke arahku yang bingung menjelaskan. Genggaman tangannya mengendur.

Aku menggeleng. "I have no one. Yet." Kemudian menarik tanganku untuk keluar dari genggaman tangan Aji. "Kamu sendiri Ji?"

"I can't imagine spend my life with her. I still love you, Re. And forever will be." Aji menjawab pelan, pandangannya pergi ke sisi lain kafe.

Senyumku mengembang, pahit. Ada luka lama yang terbuka saat Aji bicara. "Ji, forever is a long time. Aku nggak akan bisa tenang kalau bersamamu."

"Rea, aku akan menyediakan semua yang kamu butuhkan. Apapun Re,"

"Kesetiaan, Ji? Selamanya yang aku bayangkan adalah selamanya satu perempuan tidak pernah cukup untukmu. Aku meninggalkanmu karena ada perempuan lain yang menemanimu menghabiskan malam, Ji. Sekarang kamu memintaku hidup denganmu saat kamu memiliki orang lain yang harus kamu jaga perasaannya,"

Aji menatapku tajam, aku telah melukai egonya dan aku sadar ini tak akan berakhir baik bagi kami. "Kamu bodoh Rea. Aku tak akan menawarkan hal ini dua kali,"

"Aku tak perlu penawaran sama sekali Ji. Sampaikan salamku pada mempelai wanitamu," Aku meletakkan selembar uang di atas meja, meninggalkan Aji dengan langkah ringan.



Untukmu, yang terlambat menawarkan 'selamanya' untuk aku tinggali.
Selamanya hanya akan menjadi perangkap kalau kamu tak pernah merasa cukup.

Minggu, 08 Juni 2014

(bukan) Keajaiban

Masing-masing kita pernah berdoa, Sayang.
Masing-masing kita pernah mengharapkan keajaiban datang dan mengubah beberapa hal.

Tapi kemudian, setelah menunggu bertahun lamanya.
Kita berdua sadar, keajaiban tak dapat mengganti beberapa kepastian.
Seperti aku yang pasti mencintaimu.
Dan kamu yang pasti berbatas waktu untukku.

Keajaiban bukannya lemah, Sayang.
Keajaiban memberikan kita kesempatan lebih banyak, untuk bersyukur, untuk berdoa.
Serta berharap cemas kapan setapak yang kita jalani berpisah arah.

Keajaiban memberikan waktu, Sayang.
Keajaiban memberikan waktu bagimu untuk berterimakasih atas pertemuan yang tercipta.
Keajaiban memberikan waktu untukku menguatkan diri menghadapi akhir.

Kalau-kalau suatu hari kamu lupa, ingatlah aku pasti tetap di simpang yang sama.
Mengulas senyum yang sedia untuk kamu pandangi kala harimu mendung.

Kalau-kalau suatu malam sepi mengusikmu, ingatlah aku masih di ruang yang sama.
Kamu hanya perlu mengetuk pintunya sekali, aku akan dengan senang hati menemani sampai pagi.

Jumat, 06 Juni 2014

Slap, ouch!

Ada saat-saat dimana aku ingin kamu pergi saja, lenyap bak asap api unggun yang kita bakar saat dingin menusuk-nusuk kulit di puncak gunung. Aku ingin kamu lekas hilang, tanpa memberikan lebih banyak lagi goresan-goresan yang kelak harus kubereskan sendiri.

Tapi pelukmu terlampau hangat untuk dilepaskan, senyummu terlampau memabukkan, dan kecupmu. Ah, Tuhan tau seperti apa aku menggilai kecupmu yang tak henti menyusuri tiap inci tubuhku.

Maka aku kemudian memilih untuk diam tinggal di sisimu. Menikmati detik-detik kepunyaan kita sembari menghitung mundur sisa waktu yang tergerus. Menikmati gores-gores yang terus menerus bertambah, berdamai dengan kenyataan, menyatu dengan sakitnya.

Sekarang terserahmu, Sayang.
Ceritanya akan berakhir sama bagiku.

--
Dibuat usai ditampar Kak +Tyas Suci dengan kutipan: “Sometimes you must forget what you feel and remember what you deserve.”

Belum selesai, tamparan lanjutannya adalah: "...kadang manusia emang harus ditampar berkali2 biar sadar, Ul."

Well said,

Best things!

Karena segala mimpi dan anganku, telinga kalianlah yang sabar mendengarkannya.
Tak peduli betapa mustahil dan tinggi bintang yang ingin kugapai, doa-doa kalianlah yang mengantarku sampai kesana.

Untuk semua tangis dan kekesalan terhadap putusan semesta, untuk semua patah arang yang kalian ubah menjadi kekuatan. Tanpa kalian, kokoh kakiku tak berarti apapun. Tak kukenal definisi bangkit dan berdiri kalau kalian tak menawarkan tangan yang setia menggenggam erat.
Untuk kesabaran tiap kali kepalaku berubah jadi batu, tiap kali aku bersumpah tak akan pernah memberi maaf bagi siapapun yang pernah menyakiti. Untuk bahu yang tak pernah berhenti menopang dan sayap yang tak ragu untuk dipatahkan demi menemani aku berdiam di Bumi. 
Terimakasih, kesayangan.
Untuk kalian, aku akan memerangi waktu dan apapun yang berniat memisahkan.
:)

Kamis, 05 Juni 2014

Denganmu.

"Kamu tau permen jelly warna warni yang aku suka?" tanyaku sambil berjalan di sebelahmu, menyusuri trotoar sepanjang Braga. Hari sudah larut, tapi lalu lintas Braga masih jauh dari kata sepi.

Kamu langsung mengangguk. "Permen yang selalu tersedia di tasmu? Aku tau. Kamu suka varian tanpa taburan gula, kan?"

Aku tertawa menutupi ketersanjungan karena tidak pernah berekspektasi kamu begitu memperhatikan. "Iya. Gula membuatnya jadi terlalu manis. Aku bisa diabetes." tukasku beralasan. Sial! Kamu tak boleh melihat semu yang membuat pipiku memanas.

"Dan ayahmu adalah penderita diabetes," lanjutmu lagi. Sambil tetap memandang ke depan, kebiasaanmu saat sedang berjalan. Ya, kamu akan memandang ke depan dan mengingatkan aku yang tak bisa memusatkan penglihatan lurus saat berjalan.

Aku menoleh, kamu begitu dekat sampai tangan kita beberapa kali saling menyentuh saat berjalan beriringan. Tidak, genggaman tangan bukan interaksi favoritmu, setidaknya tidak di tengah keramaian. Untuk alasan yang kedua, kamu--pun aku--sangat tau alasannya. "Kalau ada yang menawarkan aku permen jelly satu kontainer untuk ditukar denganmu, aku tak akan pernah menyetujuinya."

"Kamu harusnya setuju," katamu datar.

Aku menggeleng yakin, "Aku bisa diabetes," ucapku mengulang kalimat beberapa menit lalu. Sesungguhnya aku tak peduli soal diabetes, satu kontainer permen jelly warna-warni tak sepadan denganmu.

Bahumu terangkat, "Yaaa kan nggak harus dimakan. Kamu bisa jual trus kamu beliin rumah, kalau cukup bikin juga kolam renang di halaman belakangnya,"

Dalam hati aku tertawa, kamu memang begitu dari dulu, kelewat realistis. Anehnya, itu yang aku suka darimu. Kamu selalu tau kapan harus menyeretku kembali ke dunia nyata usai terperangah dengan dongeng-dongeng yang aku baca. Dalam beberapa hal, kita memang berbeda. Aku bahkan merasa beberapa bukan kata yang tepat, kita berbeda dalam banyak hal. Namun perbedaan-perbedaan itu tak membuat aku berhenti jatuh cinta, aku tak tau pasti denganmu. "Denganmu, aku bisa meraih yang lebih dari itu."

Langkahmu terhenti sesaat, kamu menoleh dan melemparkan senyum ke arahku yang membalasnya dengan tawa ringan.

Tak ada kalimat yang menjadi lanjutan percakapan kita malam itu, sisanya hanya aku yang tak berhenti didera kebahagiaan sembari mengumpulkan potongan-potongan senyum dan tawamu.

Sayang, taukah kamu bahwa aku akan melakukan apapun untuk tetap membuatmu tersenyum dan tertawa?

--
Denganmu, aku bisa meraih yang lebih dari itu.

Aku tidak akan bersama denganmu untuk selamanya.
Di dunia ini, mungkin cuma aku, kamu, dan Tuhan yang tau alasannya.
Selamanya (yang tak pernah kamu percaya keberadaannya) tidak tersedia untuk kita cicipi.

Tapi Sayang, aku tak merasa membutuhkan selamanya karena saat kamu ada di dekatku, aku seperti mampu mengunci memori dan segala yang ingin aku simpan sampai nanti nanti.

Aku sudah mengubur keinginan untuk selamanya bersamamu sejak pertama kali memutuskan untuk jatuh dan berbahagia di sampingmu.

Aku sudah mati-matian meyakinkan diri bahwa denganmu segalanya akan berjalan singkat dan harus aku sudahi.

Denganmu, takut dan cemasku seolah mati.
Denganmu, aku bisa melakukan segala, aku bisa menghidupkan mimpi-mimpi yang ada.
Denganmu, aku belajar menghargai saat ini.

Minggu, 01 Juni 2014

Nyata saja

"Tidurlah, kamu butuh istirahat. Makananmu selalu nyaris tak tersentuh. Kamu sering mengeluh kepalamu sakit. Kantung matamu kian hari kian jelas. Istirahatkan tubuhmu." 


"Kamu tak tau rasanya memaksa diri untuk terpejam namun kemudian terbangun dengan napas terengah karena mimpi buruk. Aku akan tetap terjaga"

"Kalau begitu akan akan berjaga di sampingmu. Sepanjang malam."


"Terserahmu."

--
Kamu sudah tertidur pulas di sampingku, entah bagaimana aku makin mencintaimu.
Aku tak ingin tertidur dan memimpikan esok hari kamu merengkuh perempuan lain dalam pelukmu. Cukup aku menyadari bahwa hal itu nyata terjadi, aku tak akan membiarkannya menghantuiku sampai ke mimpi.
 

Template by Best Web Hosting