Minggu, 28 September 2014

Slmt Tdr


Malam ini, aku jatuh sakit. Pasti karena kafein yang tak cukup dua cangkir sehari dan jam istirahat yang minim. Organ pencernaanku cedera sudah lama tapi tetap saja aku enggan menahan diri untuk menjauhi semua pantangan. Bagiku, hidup adalah tentang nikmatnya bukan lama waktunya. Entah berapa kali dokter langgananku mengingatkan agar aku berhenti, aku malah membalasnya dengan candaan bahwa harusnya harusnya dia bersyukur aku sering kambuh supaya tetap memberikannya penghasilan.

Tiap aku sakit, kamu akan pulang lebih cepat. Membiarkan urusan-urusanmu bertumpuk padahal sebelumnya mereka punya prioritas yang besar. Egoisnya, aku menikmati dimanjakan olehmu. Kamu akan pulang dengan senyum terlengkung tak peduli seperti apa lelahmu seharian. Kamu akan berganti baju dan memelukku semalaman.

Malam ini lucu sekali, aku enggan tidur cepat. Mungkin karena besok hari libur, aku ingin bercerita tentang banyak hal. Padahal aku sendiri tau, tubuhku butuh lebih banyak istirahat. Namun siapa yang mau membuang waktu utnuk tidur saat kamu ada di sampingku?

"Sayang, ini sudah lewat tengah malam." ujarmu, mengeratkan pelukan. Aku masih berceloteh, belum menunjukkan tanda mengantuk.

Aku merapatkan tubuhku, punggungku terasa hangat. Kadang ada debarmu yang terasa, menenangkan. "Iya, aku belum selesai bercerita."

Kecupan mendarat di pundakku yang terbuka. "Iya, aku akan mendengarnya besok. Sekarang beristirahatlah."

Aku diam. Memejamkan mata. Kalau aku bicara lagi pasti kamu akan menegur dan suasana berubah tak nyaman. Soal kesehatanku, kamu tak pernah mau berkompromi.

Beberapa menit berlalu, aku masih belum terlelap juga. Nafas kuatur pelan agar kamu tak tau bahwa aku masih berusaha menanggalkan kesadaran. Kamu bergerak, mengecup punggungku sekali, dua kali, lalu berbisik lembut, "Selamat tidur, Kesayangan."

Ada air mata yang menyelinap keluar dari kelopak mata yang tertutup. Syukurku meluap-luap, rasanya ingin berbalik dan mendekap erat. Namun sesaat kemudian, dengkurmu terdengar di telinga.

Selamat tidur, Kesayangan.

Sabtu, 27 September 2014

Rasa Untuk Nina


Ditya memandangi gadis di sebelahnya yang tengah terlelap. Sudah 8 tahun tapi wajah Nina masih saja mampu mengulik keingintahuannya soal apa lagi yang belum diketahuinya soal gadis itu. Padahal Ditya sudah hafal betul tiap lekuk dan kerut wajah Nina. Tentu bukan kerut penuaan yang sering dikhawatirkan banyak perempuan sampai harus mengoleksi berbotol-botol perawatan anti aging yang bagi Ditya adalah kebohongan besar marketing.

Ditya sangat tau itu, dirinya adalah seorang dokter. Menjadi tua adalah kepastian yang tak dapat dicurangi, Ditya malah heran dengan orang-orang yang setengah mati menghindari tua. Tidakkah tiap orang perlu beristirahat dari dinamika masa muda yang melelahkan?

Menjadi tua adalah tentang beristirahat, memilih dengan siapa kita menghabiskan hari sembari menertawakan hal-hal yang mulai luput dari ingatan. Atau duduk saja di beranda rumah sambil bercerita tentang waktu muda. Atau malah menunjukkan cinta yang  murni. Cinta yang tak lagi diembeli oleh nafsu akan bentuk tubuh aduhai dan lama waktu bercinta di atas ranjang.

Ditya tak tau pasti apa yang akan dilakukannya di waktu tua. Dia hanya tau satu hal sejak bertahun-tahun lalu. Dia ingin menua bersama Nina.

Mengapa Nina? Ini masih misteri.

Secara fisik, Nina bukan tipe di atas rata-rata yang mampu menggugah hasrat banyak pejantan. Bahkan di beberapa bagian, tubuh Nina tak proporsional. Ini pasti karena enggannya gadis itu berolahraga. Olahraga baginya hanya sebatas berjalan kaki, itupun kalau matahari tak sedang terik. Nina juga tukang makan, tak pernah cukup hanya memesan satu porsi walaupun tak habis kalau harus memakan dua sekaligus. Jangan tanya soal makanan manis dan cemilan, Nina paling lemah dengan icing cake warna-warni di etalase toko. Ditya tersenyum sendiri, di kepalanya terbayang celoteh Nina bercerita soal toko-toko kue yang pernah disambanginya. Mana yang enak, mana yang mahal, mana yang tak pernah sepi pengunjung.

Nina mengguman dalam tidur, Ditya mengusap kepalanya pelan. Helai-helai rambut Nina melewati jemarinya, lembut. Biasanya Nina akan protes kalau ada yang menyentuh rambutnya, telapak tangan adalah bagian tubuh yang kotor dan berminyak dan Nina tak mau rambutnya ikut kotor. Protesnya akan nyaring terdengar kalau sampai ada asap rokok di sekitarnya, selain isu kesehatan paru, asap juga akan membuat rambutnya beraroma tidak sedap. Rambut Nina panjangnya sepunggung, tanpa model macam-macam dan warnanya tak pernah diganti dari warna aslinya.

Terlepas dari entah berapa pria yang sudah jatuh ke pelukan Nina, Ditya tetap ingin menua dengan gadis itu. Meskipun mereka punya pemahaman berbeda soal cinta. Bagi Nina, cinta adalah petualangan singkat yang dirasakannya berkali-kali. Berawal dari ketertarikan dan selalu dilanjutkan dengan bercinta lagi dan lagi. Ditya tau betul hal itu, Nina menganggap pernikahan adalah hal yang menyedihkan. Kembali pulang ke orang yang sama karena terpaksa adalah kutukan.

Sedang Ditya percaya bahwa cinta tak selalu harus diekspresikan dengan bercinta. Tentu Ditya punya hasrat, dirinya laki-laki normal. Ditya hanya tak ingin suatu hari dia berfantasi tentang perempuan lain saat bersama kecintaannya, yang sampai sekarang masih diisi oleh Nina. Tak pernah berhasil digantinya dengan perempuan manapun.

Ditya masih menaruh hormat pada Nina, tak peduli berapa kali dia harus memapahnya pulang setelah mabuk-mabukan karena patah hati. Ditya tak pernah kurang ajar menyentuh Nina kala terlelap meskipun Nina bukan gadis yang enggan memberi pelukan dan kecupan pada teman-teman sepergaulannya. Ditya menilai Nina jauh lebih tinggi dari itu.

Yang dilakukannya sekarang pastilah kebodohan kalau tak mau disebut ketololan. Nina tak pernah memberikannya harapan, Nina hanya menganggapnya teman. Ditya tau itu semua, tapi perasaan nyaman bersama Nina kelewat adiktif. Ditya tak pernah sanggup menolaknya.

Kalau menua bersama Nina berarti harus meninggalkan jam praktik demi memapahnya pulang setelah mabuk di bar atau malah menunggui Nina menangis meracaukan kekasihnya yang pergi demi perempuan lain saat mabuknya belum hilang, Ditya tak akan pernah keberatan. Dia tak menginginkan siapapun lagi, hanya Nina.

Jumat, 19 September 2014

Sia-sia yang paling menyenangkan

"Badanmu hangat." ujarku merapatkan posisi duduk. Di luar angin bertiup tak henti, membuat kumpulan daun kering yang sudah susah payah dibereskan penyapu jalan kembali berantakan.

Kasihan sekali, menurutku menyapu daun kering di musim gugur begini pastilah hal yang paling sia-sia. Bagaimana mungkin ada orang yang bangun dan menyapu seharian, kemudian pulang beristirahat hanya untuk melihat porak poranda hasil kerjanya kemarin di pagi hari?

Tanganmu merangkul aku, ada desir yang kunikmati tiap kita bersentuhan. Kembali ke sia-sianya pekerjaan menyapu jalan. Dulu aku pernah berkata pada Ayahku bahwa mencabuti rumput di halaman adalah hal yang sia-sia, mereka akan tumbuh lagi dengan kurang ajar. Kutawarkan satu ide brilian, membakar kebun kami. Ayah seharian marah, berkebun adalah kegiatan favoritnya dan ia tau aku tidak bercanda.

Kita diam, tak bicara barang sekata pun. Aku tak ingin memulai percakapan, hadirmu cukup. Mungkin kesia-siaan tak hanya milik penyapu jalan atau Ayahku yang gila berkebun. Kesia-siaan juga sudah jadi takdir para pecinta, sepertiku.

Aku jatuh cinta dan menghitung setiap hari kapan aku akan patah hati. Pada dasarnya semua hati yang dijatuhkan akan remuk, ini hanya perkara waktu. Semakin tinggi kedudukan awal, maka dampak kehancurannya akan makin parah. Fisika sudah mengonfirmasinya, ini ketentuan alam.

Kalau ada sia-sia yang paling menyenangkan. Hal itu pastilah jatuh cinta.
Bagaimana mungkin ada orang yang menyerahkan seluruh hatinya dan berbahagia padahal tau pasti bahwa cepat atau lambat hatinya akan kembali dalam bentuk remah bercampur darah?

Rabu, 17 September 2014

(How to) start a small talk


Sejak saya kuliah di Psikologi, Mama punya hobi baru. Ilmu behavioral science yang saya pelajari dijadikan source jawaban atas perilaku-perilaku di sekitar. Biasanya, kalau teman-teman dekat yang kuliahnya non psikologi menanyakan hal-hal aneh macam "Eh emang iya ya kalo orang yang sering disakitin lama-lama bisa jadi psikopat." atau "Orang pendiem itu marahnya yang bahaya banget gitu kan?" saya bisa santai menjawab, "Ya keleus." atau "Ketemenehe." karena nggak mau asal-asalan menjawab sebelum baca literatur. Tapi kalau Mama bertanya dan saya jawab dengan jawaban jenis itu, bisa jadi sekuelnya Malin Kundang deh saya. Hehehe.

Kembali ke hobi Mama bertanya soal ada apa di balik perilaku manusia. Pada Hari Raya dan berkumpul dengan keluarga besar, ada fenomena unik yang umum terjadi. Saat bertemu dan menyapa, seringkali didengar sapaan seperti: "Eh sekarang gendutan ya?" "Kok gemukan sih?" "Ih subur ya sekarang?" "Duh kok gendut?" dll dst dsb.

Mama kemudian bertanya ke saya, "Kenapa ya orang-orang bisa mudahnya menyapa begitu? Memangnya nggak kepikiran kalau yang disapa bakal sakit hati?"

Hmm. Iya ya. Saya juga nggak paham kenapa orang bisa mudah memberikan sapaan yang menyinggung bentuk tubuh, terlebih yang sifatnya negatif seperti bertambahnya bobot. Ditambah dengan kata 'gendut' pula.


Saya sih sudah punya senjata pamungkas untuk menghadapi sapaan yang tidak terlalu menyenangkan semacam itu. Respon paling minimalnya ya senyum dan mengalihkan ke topik yang lain. Kalau kebetulan sial karena lawan bicaranya kelewat 'serius' membahas dan mulai bertanya "Memangnya berapa beratnya?" "Suka ngemil ya?" "Jarang olahraga ya?" "Sering makan malem malem ya?" paling saya cuma jawab seadanya dan memberikan jarak personal untuk menyamankan diri sendiri.

Kata ayah saya, (yang tentunya nggak sensitif seperti kami para perempuan soal sapaan 'gendut') sapaan semacam itu diucapkan hanya karena lawan bicara bingung harus memulai small talk darimana. Pemikiran semacam ini kayaknya memang sangat positif meskipun nggak menjawab juga kenapa dari sekian banyak topik harus bentuk tubuh yang jadi pusat perhatian.

Kalau menurut saya, dalam interaksi yang paling penting adalah membuat lawan bicara kita merasa nyaman. Sedekat apapun kita dengan orang lain, sepertinya menyapa dengan sesuatu yang negatif nggak cocok jadi pilihan. Ini bukan berarti kita nggak boleh mempedulikan orang lain, hanya saja caranya tentu bisa disesuaikan. Lagipula, nggak perlu lah iseng mengomentari fisik orang yang akan membuat dia jadi nggak nyaman sama dirinya. Nggak ada untungnya.

Buat yang bingung memulai small talk, berikut beberapa tips:

1. Berikan komentar POSITIF tentang hal yang ada di diri lawan bicara kamu
Mulai dari tatanan rambutnya, riasan, baju, atau prestasi yang dicapainya. Kalau kamu merasa komentarmu bukan sesuatu yang positif, lebih baik diam.

2. Berikan komentar POSITIF tentang hal di luar lawan bicara kamu
Seandainya kamu sulit menemukan hal positif yang bisa dikomentari yang ada pada diri lawan bicara kamu, cari sesuatu di luar dirinya, misalnya: diskon di toko baju favorit kamu, makanan yang dihidangkan saat itu, taplak meja, tirai, apapun.

3. Kalau kamu ingin membuat lelucon, maka satu-satunya orang yang boleh dijadikan bahan leluconmu adalah KAMU SENDIRI
Ini serius. Mencoba untuk menjadikan orang lain sebagai bahan leluconmu terlalu berisiko. Kalau kamu benar-benar ingin melucu untuk menghangatkan suasana, mulailah dari dirimu sendiri.

4. Orang ingin mengobrol tentang diri mereka
Serius deh, nggak semua orang mau denger pengalaman hidupmu yang jatuh-bangun-pupus-bangkit-luarbiasa. Pada dasarnya orang ingin menceritakan diri mereka sendiri. Jadi kalau kamu ingin obrolannya diminati juga oleh lawan bicaramu, tanyakan tentang diri mereka atau opini mereka terhadap suatu isu.

Menjalin obrolan memang sesuatu yang harus dilatih supaya nggak kaku. Tenang, orang yang merasa kesulitan dalam hal ini nggak sedikit kok. Hal yang penting untuk diingat, menyapa orang dengan sesuatu yang membuat mereka nggak nyaman jarang sekali berhasil dalam menciptakan kedekatan. Yuk ah sapa dengan panggilan baik ;)

Spooning Symbol

For a couple in darkness, they have their own world, their own happiness, their own symbol to share to each other. They are may not be the happiest or the longest couple, but sure they are happy to see each other in a small city with a very little time that flies even faster when they are together.

One day, the gentleman wrote to the lady. "I wonder. If {} means hug. Then {{ must be spooning symbol."

The lady, who that day had a gloomy day, smiled. It was her first smile after being hit so hard by many problems. She replied, "Yes dear. It must be."

Since then,
{{ being their new symbol.

Rabu, 10 September 2014

Bukan apapun yang lainnya

Aku tidak ingin mengumbar kata cinta.
Sudah terlalu banyak yang memuntahkannya sembarang bak jajan pasar yang laris dijual. Seharusnya kata-kata seagung cinta, sakralnya luar biasa bukan?

Maka dari itu aku sering menunggumu terlelap sebelum berucap cinta.
Alasannya? Aku tak tau pasti. Aku hanya tak ingin mengucapnya sembarang waktu. Aku tak ingin kemurniannya pudar.

Aku mencintaimu karena aku memang mencintaimu.
Karena engkau adalah engkau, bukan karena apapun yang lainnya.
Aku tak ingin kamu merespon kalimatku dengan senyummu yang memabukkan karena kali lain aku mengucapnya bisa saja karena aku ingin menyesap manis senyummu. Bukan karena aku betul merasakannya.

Aku mencintaimu.
Hatiku mengatakannya dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan yang kamu bisa dengar. Aku merasakannya melampaui yang bisa kamu bayangkan.

Sebagai pengetahuanmu saja, aku tak peduli perasaanmu.
Milikku tak pernah akan berubah karenanya.

Senin, 08 September 2014

Melihat Hans

"Coklat panasmu sudah di meja ya, Sayang." suara Hans terdengar dari ruang kerjanya. Masih dengan handuk terlilit di kepala, aku menuju ke meja tempat kami biasa sarapan yang letaknya hanya beberapa meter dari meja kerja Hans. Melihat mug berwarna merah milikku yang hanya terisi setengah.

Hans tau aku unik. Segala keunikanku (atau tepatnya keanehan) entah bagaimana menjadi hal yang dihadapinya dengan sangat tenang dan sederhana. Misalnya saja selera coklat panasku, lima sendok bubuk coklat, tanpa gula, dengan air panas setengah mug. Untuk hal sepele seperti minuman kesukaan aku sudah rumit, jadi jangan tanya bagaimana aku menyukai bantal dan gulingku tersusun di atas tempat tidur atau susunan sepatu di rak. Sedikit saja beda, bisa merusak suasana hatiku seharian.

Aku membawa mug berisi coklat panas ke tempat Hans mengetikkan pekerjaannya, menyandarkan lenganku di bahu-bahunya yang kokoh. "Kamu belum tidur sejak semalam?" tanyaku, mengamati barisan angka di monitor yang sampai sekarang tak pernah kupahami artinya.

Hans berhenti mengetik, tangannya mengusap lembut lenganku. "Belum, ada yang harus kukerjakan. Bagaimana tidurmu?"

"Baik." jawabku melemparkan senyum. Aku tak bisa menemukan kata-kata yang lebih baik ketimbang 'baik'. Aku tak pernah menyukai apapun tanpa kehadiran Hans. Tempat tidurku rasanya dingin, aku bangun dengan pegal-pegal seluruh badan. Kalau boleh memilih, aku ingin menemani Hans saja bekerja di depan monitornya tapi aku berani bertaruh bahwa yang akan terjadi adalah Hans merelakan waktu kerjanya demi menemani aku tidur.

Dan menyusahkan Hans sama sekali bukan pilihanku. Aku sudah cukup membebaninya dengan segala kompleksitas yang aku miliki. Lagipula siapa lagi yang aku punya selain Hans. Aku tak ingin Hans pergi. Aku tak ingin Hans hilang dari pandanganku seperti dia hilang dari pandangan semua orang.

Hanya aku yang bisa melihat Hans, jangan sampai dia pergi. Aku benci sendirian.

Minggu, 07 September 2014

re-night

source: http://imgfave.com/view/4097018
"Morning, beautiful."

Aku membuka mata yang rasanya berat, kamu seperti biasa berbaik hati tidak membuka tirai kamar sebelum aku siap untuk bangun sepenuhnya. Tepat di depanku, kamu menyambut dengan senyum. "Lagi?" tanyaku memastikan, lekas kamu jawab dengan anggukan.

Kamu punya kebiasaan aneh, kalau kamu terbangun lebih dulu (dimana hampir setiap hari begitu) kamu akan berbaring diam mengamati aku. Iya, aku yang masih tertidur. Padahal kamu bisa saja menuntutku bangun untuk membuat sarapan, seperti yang dilakukan laki-laki kebanyakan atau membangunkan aku untuk menyeduh secangkir kopi hitam tanpa gula yang jadi penanda pagimu.

"Mau sarapan apa?" tanyamu, mendekat dan meremas telapak tanganku kemudian mengecupnya lembut. Memberikan sensasi kejutan listik kecil yang menjalar ke seluruh tubuh. "Aku beli keluar ya?"

Tidak. Aku tak ingin melewatkan barang sebentar pun pagiku tanpamu. Sebelum kamu beranjak, aku beringsut mendekat dan mendaratkan kecupan kecil di pipi. Kamu tau apa artinya.

Aku ingin mengulang malam kita.

Sabtu, 06 September 2014

Putih.

Putih bukan menyerah, bukan pula pandir membiarkan diri dirasuki lain lain yang menyakitkan. Putih hanya memberi tanpa minta diganti, menunggu tanpa terburu, menyatakan tanpa takut diabaikan.

Menemanimu


Seperti saat jemarimu lembut merapikan anak-anak rambut yang tak sejalan dengan jumput rambutku yang lain. Aku ingin menemanimu.

Tak tergesa. Perlahan dan mesra.
Aku ingin menjadi bagian dari lurus dan kusutnya, tak peduli akan sulit menguraikannya satu-satu. Pulangku adalah padamu, segalaku.

Premis-premis

Sebelum membaca cerpen ini, sempatkan kesini dulu ya :)

...

"Pulang yuk Gus, udah larut malem nih." ajakku sambil beranjak dari kursi kayu tempatku duduk selama beberapa jam bersama Gus. Oh, rasanya bersama Gus bukan padanan yang tepat karena sejak tadi aku tak merasa Gus benar hadir di hadapanku. Gus sibuk dengan lautan katanya, dia tentu lebih menyukai hobinya ketimbang aku.

Wajah Gus berubah bingung, mungkin karena nadaku yang tak serendah biasa. Wajar kan aku kesal, aku ingin Gus lebih banyak bicara, seperti tokoh-tokoh dalam ceritanya. Lagipula apa susahnya memproduksi kata lewat mulut, toh Gus terbiasa menulis berlembar-lembar cerita dengan jemarinya.

Saat Gus akan berdiri, aku menahannya. "Please, hari ini aku yang bayar, ya." aku berujar sembari tersenyum, dibalas Gus dengan anggukan. Aku sempat melihat Gus membereskan laptopnya bersiap pulang.

Aku merasa bodoh, lebih dari tiga jam duduk berhadapan tanpa ada pembicaraan yang berarti. Bukan, bukan diam yang membuatku merasa bodoh tapi kenyataan bahwa aku menikmatinya. Aku menikmati menghabiskan waktu berdua saja dengan Gus, meskipun tak berbagi sepatah katapun.

Gus harusnya lebih banyak bicara, dia pasti pencerita yang handal. Harusnya saluran kata-kata yang berasal dari otaknya tak cuma disalurkan melalui jemari saja tapi juga mengaktifkan pita suaranya. Harusnya Gus lebih banyak tersenyum ketimbang mengerutkan kening mengoreksi hasil tulisannya. Harusnya Gus berhenti tenggelam terlalu lama dalam naskah karangannya.

Harapan-harapanku seperti premis-premis yang terus menerus bertambah. Beranak-pinak. Tak mau berhenti mengganda diri. Semakin banyak premis tercipta, aku sampai di satu konklusi pasti.

Harusnya Gus menyadari keberadaanku. Harusnya aku lebih menarik ketimbang kata-kata yang selama ini dijadikan Gus sebagai napasnya.

Jumat, 05 September 2014

Kedai Kopi Sunyi

Sisi Fai.

Aku tersenyum membaca pesan singkat dari Gus. Pemilihan kata-katanya selalu menimbulkan desir aneh yang kunikmati. Entah sudah berapa ribu kupu-kupu yang diberikan nyawa oleh Gus, kupu-kupu yang tak pernah berhenti mengepak tiap aku menerima rangkaian kalimat yang ditulisnya untukku.

Gus memang penulis. Karyanya dinikmati oleh banyak pembacanya seperti manisan yang tak henti-henti laku dijual di pasar. Itu sebabnya aku sangat berhati-hati soal perasaanku padanya. Entah sudah berapa perempuan yang dibuat Gus tak bisa tidur begini. Melihat pesan para penggemarnya yang kebanyakan wanita di jejaring sosial, aku rasa-rasanya harus berhenti memikirkan berapa perempuan yang berusaha merayunya di dunia nyata.

Malam ini kami memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama, di kedai kopi sunyi yang terletak di dekat kantorku dan kebetulan searah dengan jalan pulang Gus. Kedai kopi yang sering dipuji Gus karena kopinya yang lezat. Aku menurut saja, toh perutku intoleran dengan kopi jadi aku tak mungkin mencicipnya barang sececap pun.

Gus tau itu, dipesannya secangkir coklat panas dengan beberapa potong marshmallow yang terasa manis dan lengketnya di langit-langit mulut saat aku menyendoknya. Melihatnya tak sesantai biasa, aku tak mengganggu Gus dengan cerita hariku yang membosankan.

Mungkin Gus sedang sibuk dengan tulisannya. Perhatiannya tak lepas dari benda silver berlayar empat belas inci yang menjadi otak keduanya. Itu tebakan pertama. Tebakan keduaku, mungkin Gus sedang saling berbalas pesan dengan penggemarnya. Aku tak terlalu menyukai kemungkinan yang terakhir tapi aku tak pantas marah, kan?

Gus dan aku masih berteman.
Aku tak yakin dia mampu menjadikan aku satu-satunya.

...

Sisi Gus dapat dilihat disini

Pintu Kasih Sayang

"Pintu hari ini judulnya pintu kasih sayang ya," ujar Bang Iqbal di penghujung jam mata kuliah Analisis Eksistensial.

Ketentuan itu berimbas pada kewajiban kami menyatakan rasa sayang pada seseorang selambat-lambatnya saat melalui pintu kelas saat keluar nanti. Kami diminta menghayati perasaan sayang yang kami rasakan pada seseorang dan mengatakannya. Proses mengatakan ini bebas dipilih mau dikatakan langsung (kalau orangnya ada di sekitar), melalui panggilan telepon, atau via teks.

Selangkah setelah melalui pintu. Aku menekan opsi 'kirim' di layar ponselku.

"Saya sayang kamu."

Singkat. Jujur. Tanpa basa basi.
Sungguh aku muak dengan terlalu banyak diksi.

Selasa, 02 September 2014

No talking


I hate the fact that I can't stop writing about you.
No matter how mad I am.

Come here and give me cuddle for day long.
No, I don't want to talk. Just cuddling. That's it.
 

Senin, 01 September 2014

Perginya diksi

Aku melalui hari ini lagi, dimana aku bangun dengan perasaan bahagia yang berdentum berkali-kali dalam dada. Seperti bunga matahari yang batangnya mengoyak-oyak susunan organ dalamku dan tak sabah membuncah keluar demi memamerkan kelopak kuning cerah yang mengagumkan.

Ekor mataku menangkapmu yang masih memejam. Kita memang berbeda soal pola istirahat. Kamu masih lelap kala aku terjaga, aku bugar saat kamu bahkan belum membuka mata.

Biasanya kita bertemu saat purnama gagah menguasai langit, matahari sama sekali bukan teman kita. Sebagai pasangan dalam bayang-bayang, kita tak boleh terpapar sinar. Terlalu banyak sinar akan melukai, kita hanya bisa bercumbu di temaram. Terang bukan takdir yang dituliskan untuk kita.

Tak apa, aku sudah bahagia bisa menemanimu kala gelap menjadi tirani.

Jangan pikir aku menyukai gelap. Aku tak pernah bermimpi akan bersahabat dengannya. Seperti penghuni Kota Cahaya yang lain, aku membenci gelap. Tak ingin lama-lama larut di dalamnya. Tapi kamu satu-satuny pengecualian, semata karena aku tak menyukai alasan. Biarlah kurobohkan sumpah sendiri untuk mempertahankanmu.

Merasa ada pergerakan di atas tempat tidur, aku menoleh. Kamu menggeliat malas, seperti sudah cukup bosan diam beristirahat namun enggan bangun sepenuhnya. "Pagi, Sayang.." ujarmu melengkungkan senyum.

ZLAP.
Semua diksiku lenyap. Selalu begitu saat berhadapan denganmu.
 

Template by Best Web Hosting