Jumat, 24 Oktober 2014

Mereka yang menunggu


Bagaimana kalau sebenarnya, mereka yang menunggumu adalah mereka yang terburu-buru. Mereka yang mati-matian menahan kaki-kakinya berlari.

Bagaimana kalau sebenarnya, mereka yang menunggumu adalah mereka yang sudah pasti. Tak lagi bergulat dalam tumpukan rencana yang tak rapi.

Lalu kamu berkata bahwa kamu sepenuhnya sendirian.
Tak ada yang menginginkan.

Lalu kamu berkata bahwa kamu diciptakan tak untuk berpasangan.
Tak ada yang memberikanmu kepastian.

Bagaimana kalau mereka yang menunggumu sebenarnya adalah mereka yang takdirnya kamu tunda. Bagaimana kalau kamu yang menyebabkan langkah mereka terhenti.

Beri kesempatan mereka yang mau bersusah payah menunggu.

Selasa, 21 Oktober 2014

Saat semesta melucu

Pagi itu kita terburu-buru. Matahari meninggi, kamu tak boleh terlambat. Sedang aku, harus selekasnya pergi. Aku masih ingat, hari itu Minggu. Iya, aku mengingatnya karena pada hari lain kamu tak mungkin jadi milikku. Aku tak mungkin bisa bangun dan mengecup hidungmu lalu setelahnya menertawakan wajahmu yang mengerut lucu.

Aku keluar kamar mandi, dengan menggelung rambut yang basah di dalam lilitan handuk. Pun tubuhku, masih dihinggapi bulir air di beberapa bagian. Kamu sudah rapi, duduk di sisi tempat tidur, hendak bersepatu.

"Sayang, aku lupa hari ini atasanku berwarna merah. Lihatlah," kamu memanggil aku yang masih sibuk mengeluarkan baju.

Aku lantas mengganti tujuan pandang, ke tempatmu berdiri sekarang. Sepatumu berwarna biru, kontras sekali. Aku kemudian tertawa, kamu mengangkat bahu. Sesaat kemudian tatapku bergeser ke sepatu dengan pita kecil berwarna merah darah, milikku.

Lalu aku tertawa lagi. "Sayang, lihatlah.." ucapku sambil menyodorkan sesuatu agar lebih dekat dengan penglihatanmu.

Aku tak ingat, ternyata bajuku berwarna biru.

Kita tertawa bersamaan.
Kadang semesta bisa jadi sangat lucu.

Senin, 20 Oktober 2014

Suatu malam kala kamu datang


Suaramu meninggi, aku menarik napas. Hari ini banyak ujian yang datang, kamu terlalu lelah untuk bermanis-manis sesampainya di rumah. Lucunya, aku sama sekali tak terganggu dengan itu.

Bukan Sayang, aku bukan penyabar. Kamu tau berapa kali aku menggeram marah karena kolegaku yang tidak bekerja benar atau berapa kali aku membanting kesal barang-barang rumah kita yang sengaja dipilih agar tahan saat terjatuh.

Mungkin sepertimu juga, sudah kupilih yang tetap bertahan meskipun aku menyebalkan dan sering menjatuhkan.

Kembali lagi soal kamu. Malam itu tak indah, meskipun suara mobil di luar tak sebising biasanya, meskipun rintik baru usai meninggalkan jalan yang kelihatan mengilap diterpa lampu kendaraan. Kamu jadi alasannya.

Senyummu menghilang, diganti kerut penat yang ingin segeranya aku hilangkan. Kamu memeluk sekadarnya saja, agar aku tenang dan tak bertanya makin banyak. Iya Sayang, aku sudah menahan diri untuk tak terus menanyaimu soal sebab.

Kita kemudian menyantap apa yang ada saja. Duduk berhadapan sambil mengunyah yang tak terasa nikmat di lidahku. Kamu tak berselera, membuatku makin jengah.

Aku mengamati kamu yang sesekali meneguk, sesekali bernapas berat, sesekali memberikan senyum hambar ke rautku yang bingung. Katakan Sayang, mahluk seperti apa yang berani mencuri lengkung bahagiamu. Mahluk seperti apa yang berani mengganggu satu-satunya Kesayanganku.

Pasti tak pernah dirasanya amarah seorang pecinta.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Surat Syukur


Pagi ini tak semanis biasa. Banyak alasannya.

Semalam kamu pulang terlambat padahal aku menunggu dengan meja penuh hidangan istimewa.

Aku sudah sesiangan berkata bahwa aku rindu, aku sudah seharian mengirimkan pesan mesra, aku sudah memberi tau bahwa malam nanti aku akan memasakkan makanan kesukaanmu. Aku menunggu sampai habis kesabaran, membuang semua masakanku sendiri ke tempat sampah di dapur kita. Sembari menangis kesal. Aku tau alasanmu pulang terlambat. Bulan-bulan ini pekerjaanmu menumpuk banyak. Sejak dulu kita tak pernah mempersoalkan mana lebih dulu, aku atau pekerjaanmu. Namun rindu-rindu ini menyesakkan.

Dan kita sepakat bahwa perasaan tak pernah bisa dipersalahkan.

Paginya kamu datang, baru pulang dengan raut muka berantakan. Berjingkat pelan takut membangunkanku yang tertidur di sisi kanan tempat tidur. Kamu lupa bahwa aku tak pernah nyenyak tanpa kamu mendekap, bunyi anak kunci yang memutar di lubangnya dari lantai bawah pun bisa membangunkanku. Demi menjaga agar kamu tak merasa bersalah, aku tetap memejamkan mata.

Kamu tak pernah tau damai dan tenangnya menghirup aroma tubuhmu di sampingku.

Siangnya, saat aku sudah bangun sempurna, kamu justru masih lelap tertidur. Aku beringsut mendekat, mendengarkan irama napasmu yang pelan dan teratur. Ada hangat yang mengalir di dalam dadaku, seperti syukur yang berbaur dengan riuhnya bahagia karena ada di dekatmu. Iya, aku sejatuh cinta itu.

Tapi kita tak sering bicara cinta. Cinta bukan rangkaian kata tak berguna, katamu. Dengan tangan dan perbuatan, kamu tunjukkan cinta. Dengan pemahaman dan kesetiaan, aku mempersembahkan cinta yang aku punya. Setidaknya begitu yang kita percayai selama ini.

Seperti kamu percaya bahwa kebaikan adalah agama yang kamu pilih, bukannya datang tiap Minggu untuk bernyanyi atau lima kali sehari bergerak sambil menghafalkan bait-bait dalam bahasa asing.

Seperti aku percaya bahwa Tuhan hadir dalam semua hal nyata yang membahagiakan atau malah memberikan pengalaman tidak menyenangkan semata demi menguatkan umatNya. Kamu adalah cara Tuhan mengajari aku bersyukur.

Aku bersyukur, Sayangku.

Jumat, 10 Oktober 2014

Kabar Setahun


"Tapi kamu pernah berjanji akan menungguku," Arya bicara sambil menggenggam tanganku yang ada di atas meja. Sentuhannya sukses membuat rasa bersalahku berkali-kali lipat besarnya.

Aku menghela napas, "Kamu tak menghubungiku setahun terakhir, Ya. Sama sekali."

Arya meremas tanganku kuat, aku meringis sakit. Melihat reaksiku, segera dilepasnya genggaman tangan kami. "Taukah kamu sulitnya bertahan hanya dengan uang beasiswa, Sheil? Aku harus bekerja malam hari untuk membiayai hidupku, sementara pagi dan siangnya kugunakan untuk belajar sungguh-sungguh,"

"Seharusnya kamu tidak perlu sekeras itu pada dirimu," aku berucap datar. Aku tau mengapa kamu memilih untuk bersikeras hidup dari tanganmu sendiri. Aku tau kenapa kamu menahan untuk tidak menghubungi keluargamu dan meminta sebanyak yang kamu mau.

"Untukmu, Sheil."

Tepat seperti perkiraan. Kamu dengan bodohnya menyiksa diri demi melepaskan kewajiban untuk meneruskan dinasti keluargamu, membentuk keluarga kecil denganku. Tapi siapa yang menyangka kamu begitu bersungguh-sungguh, Arya. Setelah beberapa bulan tak ada lagi kabar yang aku dapatkan, aku berpikir bahwa kamu sudah lelah dan menghapus semua rencana kita. "Aku minta maaf," kataku, tak tau lagi harus berkata apa.

Kamu mengepalkan tangan, mengadunya dengan permukaan meja untuk melampiaskan kekesalan. "Selain permintaan maaf, apalagi yang tersisa untukku, Sheila?"

"Kembalilah ke keluargamu, Ya. Mereka pasti rindu," aku menahan genangan air mata turun dari kelopak mata. Terjebak dalam situasi ini rasanya menyakitkan. Namun kamu tetaplah kamu, laki-laki dengan kesabaran paling luas dan dalam. Tak ada cacian keluar dari mulutmu, padahal aku jelas pantas menerimanya.

Kamu menjauhkan diri dari meja. Bersiap pergi. "Maaf aku datang terlambat,"

Aku diam, yakin bahwa kalau aku memaksa diri bicara maka yang akan terdengar hanya tangis penyesalan.

'Aku yang pergi terlalu cepat, Arya.'

Kamis, 09 Oktober 2014

Review Dandi's Bunker


Ini (kalau nggak salah hitung) kali ke tiga saya mampir ke Dandi's Bunker. Halangan untuk mampirnya selain karena nggak ada temen makan ya preferensi menggunakan waktu sore ke malam hari sebagai kesempatan mengerjakan tugas atau tidoooor.

Buat yang kuliah di Jatinangor, Dandi's Bunker nggak susah dicari kok. Persis di sebelah kantor kecamatan Jatinangor, ada pintu yang dari luar kelihatannya menuju ke lorong. Pertama liat, saya nggak kebayang dalemnya kayak apa. Ternyata lorong tadi menuntun kita ke tempat makan utama yang konsepnya memang terpisah dari dunia luar. Pas masuk kesini suara berisik kendaraan di luar nggak terdengar lagi dan buat yang memang suka makan sambil nongkrong, suasananya dukung buat duduk lama-lama sambil ngobrol.

Menu yang disediakan cukup variatif. Karbohidratnya nggak cuma nasi, ada pasta dan potato wedges buat yang perutnya bule dan kenyang makan kentang beberapa potong. Buat yang butuh makan kenyang, tenang! Bagi saya yang punya kapasitas lambung di atas rata-rata pun porsi nasinya mengenyangkan.

Porsi bersamanya ada pizza yang toppingnya bermacam-macam. Saya sendiri belum pernah order menu pizza karena lebih suka nasi-kentang-pasta. Itu sih hampir semua ya. Iya. Hahaha.

Di post ini saya akan review beberapa menu favorit disini. Karena ada foto-foto stok lama yang ikut di-post juga jadi nggak semua menu infonya lengkap. Mohon dimaklumi ya :'D

Mojhito Tea Frappe
Mojhito Tea Frappe
Best Mojhito in J-town! J-nya tentu Jatinangor, hehehe. Mojhito Tea Frappe ini isinya mint syrup, rum syrup, sugar syrup, tea, lime, dan lemon grass alias batang serai/sereh. Mungkin karena pengaruh mint syrup jadi dinginnya nggak cuma karena es batu. Dari semua menu minuman, ini jadi juara satu versi saya! Sayangnya, batang serainya dimasukkan utuh padahal kalau dimemarkan lebih dulu pasti rasanya jadi makin rame. Saya akhirnya mencoba sendiri sih, menggigiti (?) batang serainya trus diaduk ke minumannya, asik kok!

Fishkrip
Fishkrip
Buat saya, ini terhitung light meal alias makanan yang dicemilin sembari ngobrol. Isinya potato wedges dan Ikan Dori lapis tepung yang dicocol mayones. Mungkin karena ekspektasi sama potato wedgesnya rendah jadi begitu nyobain jadi seneng karena potato wedges disini ditaburi bawang putih yang wanginya bikin laper. Ikan Dorinya juga nggak membuat kecewa karena tekstur dalemnya masih ciamik meskipun digoreng tepung. Maksudnya nggak jadi keras karena sudah disimpan kelewat lama di kulkas atau digoreng kelamaan.

Krimikriuk
Krimikriuk
Di menunya tertulis: "Seasoned rice with bread crumb chicken, egg, bunker creamy sauce, mozarella topping." Kalau dideskripsikan secara gampang, ini nasi panggang! Dengan nasi yang sudah dibumbui dan (sepertinya) ditumis dengan butter jadi rasanya gurih. Disajikan dengan mangkok yang masih panas baru keluar oven jadi diletakkan di atas talenan kayu. Sejauh ini saya kasi rekomendasi penuh buat krimikriuk! Dua teman saya yang saya minta untuk mencicipi menu ini pun komentarnya senada: "Enak banget!"

Selain menu-menu di atas, seperti kebanyakan kafe Dandi's Bunker juga menyediakan menu umum seperti milkshake, hot/cold chocolate, atau soda. Pastanya juga beragam seperti Aglio dan Carbonara.

Oh iya, sampai post ini dibuat di Dandi's Bunker belum tersedia wifi jadi puas-puasin dengan ngobrol sama pacar/gebetan kamu kalau makan disini :))

Ini menu-menu lain di Dandi's Bunker.
Buat yang penasaran gih mampir. Kalau nggak ada temen, saya available kok ;)









Selasa, 07 Oktober 2014

Pagi Sendiri


"Sendirian, lagi?" tanyamu mendekat, aku menoleh lalu memberikan anggukan singkat.

Desir angin memainkan rambutku yang tergerai, aku jarang mengikatnya karena aku suka kebebasan. Tak adil rasanya mengekang. Sama seperti aku yang bebas tidur dan bangun dimanapun aku mau, sama seperti aku bebas minum dan berdansa dengan siapapun yang jadi pilihanku.

Kamu mengamati aku yang masih menikmati sapuan angin di wajahku. Wajahmu setenang telaga, itu salah satu hal yang membuatku membiarkanmu duduk bersampingan denganku kala isi hatiku carut marut tak karuan. "Bagaimana malammu?"

Aku tertawa sinis. "Setidaknya lebih menyenangkan dari milikmu,"

Kamu mengangguk, tersenyum entah untuk apa. "Ceritakan padaku," ujarmu sambil menggeser posisi duduk mengarah padaku.

"Bukan urusanmu," aku menjawab defensif. Aku bukannya berbohong soal malamku, aku hanya enggan menceritakan bahwa paginya aku kembali sendirian. Saat bingar malam membuatku hidup, paginya semua kesenanganku seperti menciut lalu habis ditelan cahaya matahari. Brengsek.

Kamu masih tersenyum, sudah biasa mendapatkan perlakuan semacam itu dariku. "Malamku masih sama," katamu dengan nada datar.

Aku salah tingkah. Kita berdua tau apa kelanjutan dari kalimatmu.

"Masih menungguku."

"Masih menunggumu."

Kita berdua menyahut bersamaan.
Sayangnya, hati kita tak pernah bertautan.

Minggu, 05 Oktober 2014

Secangkir Teh Madu (untukmu)

Untuk memahami, baiknya menyempatkan diri untuk menyapa aksara di post ini.

...

Hari masih gelap, aku bangun dan bergegas ke dapur untuk menghangatkan air di panci kecil berisi daun-daun teh. Rutinitas pagi biasa, mungkin pagi ini bukan cuma aku yang melakukannya. Yang tak biasa adalah harapan yang terus kutumbuhkan tiap kali melakukan aktivitas ini.

Setengah cangkir teh panas, ditambah dua sendok makan madu hutan, diaduk perlahan sambil dikucuri air biasa. Kombinasi yang jadi favoritmu, tak pernah aku lupa. Madu hutan penting bagi kesehatanmu, aku mau kamu terus bisa menemani aku. Aku suka berbicara banyak hal bersamamu, kadang mengunci kalimat yang keluar dari bibirmu dengan kecupan singkat, kadang mengganti volume suaramu dengan dekap erat. Tiap kali kamu diam, entah karena terlalu marah atau kelelahan, aku merasa kehilangan.

Jadi bisakah kamu bayangkan hidupku beberapa bulan ini, Kesayangan?

Aku memanggilmu demikian karena 'sayang' tak pernah cukup menggambarkan yang aku rasakan padamu. Padahal kamu tak jarang menyebalkan luar biasa. Apalagi kalau tamu bulananmu datang, semua hal bisa dengan mudah mengusik ketenanganmu.

Tapi aku tak pernah sekalipun berharap melewatkan hari tanpamu di sampingku. Biar berisi gelak tawa atau omelan panjang, aku yakin segalanya akan lebih tidak menyenangkan tanpa hadirmu.

Jadi sudahkah kamu mengerti mengapa aku lebih memilih hidupku sekarang ketimbang harus sendirian?

Kesayangan, aku harap secangkir teh madu setiap pagi cukup untuk menggodamu bangun dan mencicipinya. Kamu rindu menulis semalaman, bukan? Membuat irama dari tuts keyboard di laptopmu. Aku juga sudah menyediakannya di sudut kamar, tidakkah kamu ingin bangun dan menyentuhnya?

Ada perasaan aneh tiap aku memandangimu. Rasanya seperti bahagia bercampur dengan ketakutan bahwa aku tak bisa lagi membelai pipimu secara langsung seperti hari ini. Aku butuh memelukmu setiap pagi agar aku punya alasan untuk menaklukkan kesulitan yang datang demi kembali pulang padamu. Kesayangan, tidak lelahkah matamu terpejam padahal kita bisa memandangi pendaran lampu kota dari balkon flat kita?

Kalau kamu bangun nanti, kamu boleh meminta apa saja yang kamu mau. Kamu boleh meminta wedang ronde kesukaanmu dini hari sekalipun. Kamu boleh memesan porsi steak dengan veg setup tanpa jagung, aku akan memisahkan bulir-bulir jagung yang ada di piringmu dengan senang hati.

Sampai saat itu, aku akan meletakkan secangkir teh madu di samping tempat tidurmu setiap pagi. Kalau kamu ingin, kamu boleh bangun dan meminumnya.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Secangkir Teh Madu


Aku melirik ke meja kecil di sebelah tempat tidur, cangkir berhiaskan ornamen mawar sudah cantik menunggu disesap isinya. Ini pasti kamu, yang setiap pagi bangun lebih dulu demi membuatkan secangkir teh untukku. Secangkir teh dengan dua sendok makan madu hutan yang katamu bisa meningkatkan daya tahan tubuhku.

Kamu tak suka dengan kebiasaanku bangun semalaman saat inspirasi menulisku sedang deras-derasnya. Namun kamu juga tak bisa melarangku, menulis bagiku adalah napas. Aku tidak mungkin hidup tanpa bernapas. 

Dan kamu bilang, kamu tak mungkin hidup tanpaku.

Aku sesungguhnya juga tak pernah tau akan seperti apa hidup jika tanpa kamu. Aku bisa gila menghabiskan hari tanpa mengawalinya dengan hangat dekapmu atau mengakhirinya dengan kecupan lembut di keningku.

Aku hanya tak pernah mengatakannya. Entahlah, mungkin ada sebagian diriku yang takut kamu kelak akan tinggi hati dan mencari hati lain untuk ditinggali. Memikirkannya saja sudah membuat aku takut setengah mati.

Lelaki kesayangan, aku tau kamu jarang mendengarku berucap cinta. Aku sungguh merasakannya dalam tiap kerat daging yang melekat di belulangku. Aku mengulangnya tiap tarik dan hembus napas yang kuhabiskan bersamamu. Aku beberapa kali membisikkannya di hadapmu saat tengah lelap, untuk memastikan kamu tak mendengarnya.

Ini bukan soal ego, meski aku yakin egoku tak kalah tinggi dibandingkan malam saat aku menulis ini untukmu. Ini adalah ketulusan, setidaknya kuharap demikian. Aku tulus mengucap cinta untukmu, tanpa berharap kamu membalasnya dengan kata-kata indah yang lebih terdengar seperti omong kosong kehidupan buatku.

Kesayangan, kalau hidup ini adalah tentang sulit dan lelah maka semua bujuk rayu roman picisan adalah pemanisnya. Ditipunya semua umat manusia agar lupa soal peluh dan darah. Tapi taukah, aku tak ingin ditipu oleh semu. Aku ingin melalui semua terik dan terjal bersamamu, aku tak takut menyusuri setapak penuh duri asal digenggam erat olehmu.

Kembali soal pemikiranmu bahwa kamu tak mampu hidup tanpaku.
Kamu bisa, Sayang.

Patah hati adalah luka kecil yang akan disembuhkan oleh waktu, kekecewaan adalah racun yang penawarnya segera datang ketika kamu berhenti meratap. Hatimu adalah yang terluas dan terkuat yang pernah aku temui, patah hati tak akan pernah menghancurkannya menjadi kepingan kecil.

Tak akan pernah ada hati yang sempurna kecuali mereka yang tak pernah mencinta, Sayang. Kalau sekiranya perempuan setelahku tak mau menerima hatimu yang retak, maka dia tak pantas bermukim di bagian lain hatimu dimana nestapa tak pernah terdengar gaungnya. Jangan biarkan dia menjelajahi luas savana-mu meski selangkah. Dia bukan orangnya.

Tak akan pernah ada hati yang tak pernah terpuruk kecuali mereka yang tak sungguh jatuh cinta, Sayang. Retak-retak hatimu adalah tanda bahwa dia pernah tegar bertahan dalam ujian. Kalau nanti perempuanmu mengharap hati yang bentuknya sempurna tanpa cela, namanya tak pantas kamu ukir di permukaan hatimu yang guratannya jadi pesona sendiri bagiku.

Aku tak ingin meninggalkanmu.
Aku tak ingin jauh meski sedepa.

Kamu tau aku selalu terbangun saat dekapmu merenggang malam hari. Aku akan beringsut pelan dan melekatkan diri ke bidang dadamu yang bergerak teratur kala kamu bernapas. Aku tak pernah mau meletakkan jarak. Jarak boleh singgah dimana saja, namun bukan di antara kita.

Tapi ajal, Sayang. Aku tak mampu menghentikan derap langkahnya yang kian cepat memburuku. Aku sudah berlari, lebih kencang dari saat aku menjemput kedatanganmu di bandara untuk kemudian menjatuhkan diri di pelukmu yang tenang. Aku sudah sembunyi di celah sempit, lebih sempit dari ruang yang kuberikan di lemari kita untuk menyimpan pakaianmu. Dia tetap saja menemukanku.

Aku lelah, Sayang.
Aku mau menyerah saja, mulai esok aku mau kamu berhenti membuatkan secangkir teh madu di meja kecil di samping tempat tidurku.

...

Sudut pandang lain tentang Secangkir Teh Madu bisa disapa disini

Jumat, 03 Oktober 2014

Semoga kamu tau


Semoga pada akhirnya kamu tau, bahwa tak mungkin mengganti aku.

Mungkin kamu bisa melupakan bekas gincu di kerah bajumu tapi tidak dengan senyumku.

Mungkin kamu bisa mengganti hadirku dengan siapapun yang kamu mau tapi sentuh dan gelak tawaku, tak bisa lagi ada di sekitarmu.

Semoga pada akhirnya kamu sadar, bahwa tak semudah itu mengakhiri yang sudah ditakdirkan.


Entah itu pertemuan kita yang tanpa rencana.

Atau rasa yang diam-diam menyelinap dan membuat kita saling butuh.

Ada yang tak sesederhana menyudahi.

Ada yang tak segampang memutuskan berpisah dan berjanji tak bertemu lagi.

(tak hanya) Janji


Masih ada satu jam lagi sampai waktu makan siang berakhir. Seperti biasa aku bisa diam menunggu sambil membaca ulang berkas bekal meeting bersama dengan klien. Aku punya kebiasaan buruk yang menahun, menjadikan makan sebagai prioritas nomor sekian dibandingkan segala kesibukan yang aku punya. Seperti siang ini misalnya.

Siang yang sama seperti siang-siang sebelumnya, kecuali kali ini ada sapaan yang mengganggu konsentrasiku. "Rana, apa kabar?"

Aku mendongak, memandang sosok yang sekarang tersenyum akrab. Membuatku mau tak mau ikut tersenyum juga. "Baik. Kamu?"

Pria berkemeja biru tua yang senyumnya makin lebar itu kemudian duduk di sebelahku. Refleks aku menggeser tempat duduk menjauh, aku belum mengingat siapa dia. 

"Rama. Inget kan?"

Seperti ada daya yang menyesap semua keinginanku untuk meneruskan obrolan ini. Senyum yang tadi aku hamburkan menjadi sia-sia rasanya. Kalau boleh mengulang, aku lebih baik tidak menanggapi sama sekali sapaan Rama dua menit lalu.

"Kamu kerja disini?" tanyanya menghadap ke arahku, antusias. Persis seperti kawan lama yang dipertemukan tak sengaja. "Kok aku jarang liat?" lanjut Rama tanpa didahului oleh jawabanku.

Aku menarik napas, siap merespon. "Cuma meeting biasa. Ada project."

Rama manggut-manggut, belum ada tanda menyudahi pembicaraan. "Jadi kamu nggak ngantor disini? Kerja dimana emangnya?"

"Jauh dari sini." balasku singkat. Tak boleh ada pertemuan setelah ini, aku tak akan meninggalkan informasi apapun yang memungkinkan kami bertemu lagi.

Rama diam. Menyadari bahwa dirinya satu arah mengganggap percakapan ini berjalan baik-baik saja. "Kamu masih marah, Ran? Setelah 8 tahun?"

Mendengar pertanyaan Rama, tubuhku berubah kaku. Sudah kuhindari topik apapun terkait masa lalu kami. "Ram, kamu yakin mau bahas ini?"

"People made mistake, Ran. Aku dulu ceroboh dan bodoh, aku minta maaf."

Cukup, Rama yang memintanya. Aku tak bisa lagi berlagak tenang. "Kamu meninggalkan aku, Ram. Kamu meninggalkan aku menangis gemetar di pinggir jalan, tengah malam. Kamu lupa? Aku memohon supaya kamu setidaknya mengantarku pulang. Kamu tidak bodoh, Ram. Kamu egois."

Rama berdehem, seperti sudah menyiapkan kalimat jawaban untuk argumenku yang emosional. "Kirana. Aku harus melakukannya, supaya kamu membenciku. Kamu tau dulu aku merasa tak sepadan denganmu. Aku egois Rana, aku meninggalkanmu seperti itu agar aku sendiri bisa lepas darimu."

"Nyatanya kamu berhasil Ram, sekarang aku masih membencimu."

"Tidak sepenuhnya Ran, aku masih mengharapkanmu. Sekarang aku sudah lebih berani, Rana. Aku tak serendah dulu." tiba-tiba segala sesuatu di antara kami seperti sunyi sekali. Mata Rama lurus ke arahku, tajamnya seperti mengiris luka yang sama sekali tak ingin kubuka kembali.

Aku berdiri, tak betah berlama-lama terhanyut. "Aku bukannya mencari yang tinggi dan berani, Rama. Kamu tau itu, sejak dulu aku hanya mencari yang berjanji tak akan meninggalkanku. Bukan, bukan hanya itu. Aku mencari yang mampu menepati janji tak akan meninggalkanku."

Kamis, 02 Oktober 2014

Pergi Mengitari Bumi


"Kemana kamu akan pergi?" tanyamu melihatku sibuk mengepak barang. Tas hijau tua yang biasanya aku gunakan untuk bepergian pun tak cukup, kukeluarkan semua isinya, lalu berjalan ke sudut ruangan hendak mengambil tas lain di atas lemari baju.

Aku berdehem. "Untuk apa kamu tau? Toh kamu tak akan tinggal bersamaku."

Kamu diam, seperti memikirkan sesuatu.

Apapun itu, yang jelas aku tau bahwa pergi bersamaku tak akan pernah jadi opsimu. Aku sudah letih menggumamkan pengharapan ke langit, aku lebih baik pergi ketimbang terus menerus sakit hati.

"Sudahlah, tak perlu merasa tak enak hati. Aku tau kamu tak pernah menjadikan aku pilihan utama dalam hidupmu. Tenang saja, aku cukup tau diri untuk tidak mengharapkannya barang secuil." Aku menelan ludah, menyadari kebohonganku barusan. Aku akan berpisah denganmu tapi malah meninggalkan sekerat kebohongan yang mungkin tak bisa aku hapus.

Aneh sekali, aku malah berdoa semoga kamu cukup peka untuk menyadarinya. Kurasa aku pembohong yang sangat buruk, tak ada pembohong yang berharap ketahuan, kan?

Kamu tak berani mendekat. Kamu mematung saja, duduk di sisi tempat tidur memandangi aku yang kini memaksa agar semua bawaanku masuk ke dalam tas. "Sayang, barangkali aku bisa mampir suatu hari," rajukmu, memintaku menyampaikan kemana aku menuju.

Aku menggeleng, "Aku tak ingin disinggahi, setidaknya olehmu. Aku ingin bersama orang yang berani mengambil risiko untuk tinggal bersamaku. Sudah bertahun hidupku dihabiskan menangisi mereka yang sekedar datang dan mampir sebentar. Maaf, aku lelah."

"Katakan saja, Sayang. Setidaknya aku tau seberapa jauh aku akan terpisah denganmu." ujarmu lagi, dengan tatapan memohon yang sukar kuhapus dari dalam kepala. Aku tak pernah sanggup menolak pintamu, apapun itu. Sesulit apapun, sesakit apapun, pintamu adalah yang nomor satu.

Kenyataannya adalah, aku tak tau hendak kemana aku pergi. Aku hanya ingin sejauhnya darimu, sejauh-jauh kakiku bisa berlari.

Bukan karena aku tak ingin kamu menyusulku, aku hanya menghindar dari kemungkinan suatu hari aku kembali pulang padamu. Aku harus menapak jalan sesulitnya, terpisah laut kalau memang diperlukan. Tak boleh tau bagaimana aku bisa pulang, kembali padamu adalah sebuah kekalahan. Bodoh sekali, aku tak pernah peduli soal menang saat bersamamu.

Aku tak tau kemana kakiku menuju, Sayang.
Tapi kalau aku harus mengitari Bumi dan mati di tengah perjalanannya demi melupakan keinginan untuk bersamamu, aku tak berpikir dua kali untuk melakukannya. Sama sekali bukan karena cinta untukmu telah menguap, aku masih dan akan selalu menyimpannya rapat.

Aku hanya tau, aku pantas mendapatkan yang lebih dari sekedar kunjungan singkat.
 

Template by Best Web Hosting