Rabu, 31 Desember 2014

Memaksa Hati


"Pernah nggak sih dia bilang cinta sama kamu, Ras?" ucap Asti geram melihat Laras. Laras diam, Asti tau jawabannya tidak mungkin iya kalau reaksi Laras begini.

Laras, sahabatnya yang sampai sekarang tak kunjung membuka hati untuk kehadiran laki-laki lain. Asti sendiri heran, padahal laki-laki yang mendekati Laras tak ada yang nilai kualitasnya kurang dari 8 dalam skala Asti. Dengan nilai sebesar itu, kandidat yang bersangkutan sudah tentu mapan dan tampan.

Laras berdehem, gerah dengan diskusi yang sering sekali menyangkut topik yang sama. "Soal hati mana bisa dipaksain sih, As." lanjutnya menyeruput coklat panas yang terhidang.

"Ya tapi kan bukannya tanpa diusahain juga, Ras." lanjut Asti tak mau kalah. Pasalnya, Asti tak tahan melihat Laras yang kerap menolak banyak pelamar dengan alasan yang tak jelas. Laras bisa saja pongah di usia seperti sekarang, tapi tiga-empat tahun lagi? Siapa yang akan melamar perempuan berusia hampir tiga puluhan kalau bukan bujang lapuk yang tak laku di pasaran? Hiiii membayangkannya saja Asti takut.

Laras membolak-balik buku menu, wajahnya tenang seperti biasa. Apapun yang menjadi kekhawatiran Asti tak pernah dianggapnya serius. "Aku lebih baik sendiri daripada menghabiskan waktu dengan orang yang nggak benar-benar aku cintai, As." jelasnya gamang.

Asti menghela napas, tau betul apa yang dimaksud Laras. "Ras, aku tanya sekali lagi. Emangnya pernah dia bilang cinta sama kamu?"

Laras tersenyum lagi. Enggan menjawab. Asti tak akan pernah mengerti apa yang membuatnya tak bisa melupakan Reyhan sampai sekarang.

"Kalau dia emang cinta sama kamu, dia nggak akan meninggalkan kamu, Ras."

Dia tidak pernah meninggalkan aku, As. 
Hidupnya sangat penting buatku sampai aku tak ingin merusaknya demi memuaskan egoku sendiri. Dia tau sebesar apa aku ingin menjadi bagian dari hidupnya, tapi semesta tau ada perempuan lain yang berhak menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.

Sabtu, 20 Desember 2014

Jarak? Masalah?


"(apakah) Jarak (menjadi) masalah buat kamu?" seseorang menanyakan kepada saya saat sedang mengobrol dengan konteks hubungan jarak jauh.

Saya diam, memutar kembali memori di kepala saya. Sepanjang sejarah hubungan saya, hampir semuanya memiliki pertemuan yang sangat terbatas. Penyebabnya memang bukan jarak, tapi kesibukan saya dan (saat itu) pasangan yang tidak bisa ditinggalkan.

Tidak bisa? Koreksi. Mungkin kami sama-sama tidak ingin meninggalkan kesibukan. Namanya juga mahasiswa tingkat tanggung pasti lebih suka pacaran dengan organisasi ketimbang duduk menonton film dengan perempuan, iya nggak sih? Hehehe. Sedangkan saya yang suka cari kesibukan (dan uang jajan tambahan), lompat dari satu event ke event lain untuk bekerja sampingan.

Sayang nggak sih? Tentu saja sayang. Kalau nggak, kenapa dipacarin? :p Tapi ini soal susunan prioritas, pada saat itu dia bukan prioritas saya. Dan (untungnya) saya juga nggak ada di susunan prioritas dia. Adil? Bisa jadi.

Sekarang kembali ke pertanyaan awal. Apakah jarak bisa menjadi masalah?

Logikanya (belum menggunakan teori karena saya nggak buka textbook kuliah) apapun dalam hubungan bisa menjadi masalah. Jangankan jarak yang bikin orang jarang ketemu, intensitas waktu bertemu terlalu sering juga bisa jadi masalah dalam hubungan. Alasannya macam-macam, mulai dari bosen, nggak sempat kangen, atau malah ruang personal yang makin sempit karena terus-menerus merasa diintervensi pasangan.

Bicara tentang hubungan berpacaran memang nggak lepas dari dinamika kepribadian orang yang mengalaminya. Kalau di Indonesia, pasangan yang berpacaran serius umumnya ada di populasi dewasa awal (17-24 tahun). Berbeda dengan hubungan pernikahan atau hubungan intim non-pernikahan di jenjang usia setelahnya, individu sudah lebih stabil dalam mengelola emosi jadi hubungannya cenderung lebih ayem dan minim konflik.

Trus gimana dong yang pacaran? Ya nggak apa-apa. Mau gimana lagi? :p

Konflik dalam hubungan berpacaran bisa jadi latihan yang bagus bagi perkembangan individu baik dari segi kognisi (pemecahan masalah) maupun emosi (regulasi emosi negatif; empati). Jadi, berlatih dan jadilah juara! :))

Soal jarak? Kalau memang merasa nggak bisa memiliki hubungan yang minim pertemuan ya baiknya nggak memaksakan. Serius deh, apa sih enaknya sok kuat dihantam jarak kalau membuat diri sendiri jadi mellow terus menerus? Capek ah. Saya pribadi nggak pernah mempermasalahkan jarak, mau Bandung-Jatinangor, Jakarta-Jatinangor, Jepang-Jatinangor, atau New York-Jatinangor (kok, pamer mantan?) rasanya sama sulitnya.

Kalau mau optimis, teknologi sudah banyak membantu kok. Messaging app yang nggak menguras kantong atau skype yang bisa mengobati rindu melihat wajah pasangan bisa jadi faktor pendukung mengiyakan sebuah hubungan jarak jauh. Persoalannya, apakah pasangan punya keinginan dan usaha yang sama untuk menjaga komunikasi? Segala macam solusi teknologi cuma jadi sampah kalau yang bersangkutan nggak menyediakan waktu, betul apa betul?

Sabtu, 06 Desember 2014

I will stay


Kamu membuka mata, perlahan. Mungkin sudah bosan tertidur lama, aku tak menyingkap tirai kamar karena tak ingin sinar matahari mengganggumu. Kita sama-sama membenci matahari, terlebih saat terangnya tak berperasaan merobek malam. Malam kita.

Dahimu mengernyit kala menemukan wajahku tepat di depanmu, "Kenapa, Sayang?"

Mungkin ekspresiku aneh, mungkin senyumku terlalu lebar sampai kamu kira aku menyeringai, atau apalah. Tapi kamu harus tau bahwa aku bahagia, lebih dari yang kamu bisa bayangkan. "Bukan apa apa," jawabku tak menjauhkan diri dari wajahmu yang bertambah heran.

Sebuah kecupan mendarat. "Kamu tau itu bukan jawaban, kan?" lanjutmu mengunci aku di dekapan. Mendaratkan kecupan acak lagi dan lagi sampai aku terkikik geli.

...

Semalam kamu pulang, kelelahan. Setelah bertemu dengan entah siapa untuk urusan apa, kamu merebahkan diri di atas kasur, sedikit bicara. Sedikit bicara karena tubuhmu butuh istirahat secepatnya, bukan sedikit bicara seperti saat kita bertengkar.

Kita diam saat bertengkar, tak ada caci maki yang keluar. Kita seperti membiarkan sepi dengan pedangnya mengoyak hati kita masing-masing namun tak pernah membiarkannya menang karena kita akan tetap tidur saling memeluk. Meskipun kamu menyebalkan, meskipun aku kekanakan, meskipun kamu sangat marah, atau aku sesenggukan. Peluk akan selalu menang, sepi boleh mati saat kita menginginkannya pergi.

Saat obrolan kita terhenti, aku tau lelap sudah memelukmu dalam buaiannya. Dengkurmu terdengar teratur, semoga kamu sudah benar-benar terlelap. Saat begini, biasanya aku akan mulai menulis. Bukan, bukan tentangmu. Setidaknya, bukan hanya tentang itu. Seperti penulis kebanyakan, isi kepalaku akan datang bergerombol saat gelap. Aku sendiri tak tau pasti alasannya, mungkin mereka satu familia dengan kelelawar. Hanya butuh sejenak saat diberikan lorong keluar, ide-ide langsung terbang beramaian melalui ujung-ujung jariku, menjelma menjadi baris-baris kalimat yang memenuhi halaman kosong file di layar notebook.

"Sayaaaaaang.." suaramu terdengar. Aku yang sedang mengetik menghentikan kegiatan sejenak, takut suara peraduan jari dan tuts keyboard mengusik tidurmu. "Kemarilah, dekap aku erat-erat."

Dengar Sayang, yakini satu hal, kamu akan selalu didahulukan, tak peduli tokoh utama dalam ceritaku sudah hampir bertemu kekasihnya setelah berpisah bertahun lamanya. Apapun bisa menunggu, pintamu akan selalu menduduki nomor satu urutan prioritasku. 

Aku beringsut mendekat, mendekapmu erat. Merasakan bagaimana napasmu beralur, menikmati napasku yang menjadi seirama. Lambat dan tenang. Saat beberapa menit berlalu, aku bergerak pelan, ingin meneruskan kisah si tokoh utama yang hampir menemukan kekasihnya. Kasihan, aku tak ingin dia kesepian sementara aku bahagia di sampingmu semalaman.

"Stay." tukasmu sambil tetap terpejam, mengeratkan pelukan. Lenganmu kaku memagari, mencegah aku pergi. Baiklah, tokoh utama ceritaku harus tabah menerima nasibnya malam ini. Besok akan kutuliskan pertemuan yang menyenangkan untuknya sebagai imbalan.

Sedang aku, memasrahkan diri dalam pelukmu.

Bahagia selamanya

"Makanlah, aku tidak lapar." ucapmu menyuguhkan semangkuk sup panas. Di luar hujan, petir menyambar seperti tak ada bosannya.

Aku mengangguk, sambil mengigil. Mulai menyendokkan sup hangat yang rasanya kudalami sebagai bentuk kepedulianmu. 

Bukan cuma semangkuk sup. Soal bahagia pun kamu begitu.

"Semoga kamu bahagia, selamanya." aku berujar khidmat, menyampaikan harap ke atas langit. Semoga karma baik menjadi sayapnya, semoga tak lelah mengepak sebelum sampai ke telinga semesta.

Tanganmu merengkuh pinggangku. Kuat. Bukan kuat penuh arogansi, kuat yang menenangkan. Rasanya aman, namun tetap membebaskan. "Tak perlu. Aku suka begini saja, bahagia selamanya boleh untukmu."

"Selamanya terlalu banyak." aku menjawab dengan sekeping dusta. Nyatanya aku mustahil bahagia kalau kamu belum merasakannya. Kamu mungkin lupa, ada bagian dari hatiku yang kutanamkan tepat di jantungmu. Degupnya menguatkanku. "Bagaimana kalau separuh, saja?"

Kamu menjawab tanpa lebih dulu memberi jeda, "Tidak. Bahagia selamanya untukmu."

Aku menutup mata, mengerahkan semua daya yang aku punya untuk bicara. 'Semesta, mari kita uji seberapa peka telingaMu mendengar doa. Kalau harapan soal bahagia selamanya sudah sampai dan akan Kau kabulkan, aku ingin mengajukan penawaran. Ketimbang menggandakannya menjadi dua bahagia atau membaginya untuk dua orang berbeda, bagaimana kalau Engkau satukan saja kami. Tak perlu memberi apa-apa lagi setelahnya, bahagiaku ada di tiap hela napas ciptaanMu yang satu ini.'

Jumat, 05 Desember 2014

2 hal

Ada dua hal yang tidak akan kita perdebatkan lagi.
Perasaan masing-masing dan kesehatanku.

Yang pertama karena kita saling maklum tentang perasaan yang datangnya terlambat dan serba tak tepat. Kamu maklum bahwa aku kadang tak bisa menahan diri berucap cinta. Aku maklum bahwa kamu enggan mengucap cinta. Mungkin tak ingin aku jatuh lebih dalam lagi, tak ingin aku nanti terluka lebih lama, tak ingin menyakitiku lebih parah.

Kesehatanku. Alasan kedua karena kepalaku kadang berhenti berfungsi dalam menghindari pantangan yang sudah ada bertahun lamanya. Bersikeras mengabaikan waktu istirahat saat inspirasiku datang bergerombol. Kamu ada disitu, kadang memperingatkan dengan lunak, menjadikan peluk dan kelakar sebagai senjata utama. Namun seringnya harus beradu keras dengan kepalaku yang disusun oleh batu sebagai elemen utama. Kala nadamu naik, aku berhenti bicara.

Kita saling takut kehilangan. Kamu takut aku mati. Aku takut kamu pergi.
Maka kita berhenti saling mendebatkan alasan dan merapatkan pelukan.
 

Template by Best Web Hosting