Jumat, 23 Januari 2015

Semesta Menjadi Saksi


Semesta menjadi saksi, tentang sepasang lelaki dan perempuan yang ingin bersama namun tak bisa. Tentang doa yang dirapal sang perempuan kuat-kuat walau dengan suara lirih. Dimintanya takdir berubah, pada Tuhan manapun dia kan menghamba. Toh selama ini tak pernah dipusingkannya soal Tuhan mana yang benar ada. Terus dikirimnya doa, tak henti-henti sampai pagi.

Semesta menjadi saksi, bagaimana keduanya menikmati ledak-ledak kecil tiap kali bertemu. Sensasi aneh dalam perut yang kata orang jelmaan kupu-kupu. Mereka tak peduli. Sang perempuan tersenyum sambil menghitung hari kapan semua ilusinya diruntuhkan waktu.

Semesta menjadi saksi, bagaimana sakit tertoreh pelan-pelan tiap sang perempuan dihadapkan kenyataan. Sudah diputuskannya untuk berhenti menangis walaupun tetap saja ngilu menjalar sampai sum-sum tulang. Ini pilihannya, dia tak akan menyerah begitu saja.

Pertanyaan besarnya, apa yang sebenarnya sedang ia perjuangkan?
Tak pernah ada masa depan.

Selamat paling pahit


Jangan membandingkan Tiana dengan Arura.

Mata laki-laki manapun tau bahwa mereka sangat berbeda. Apalagi Reno, pekerjaannya sebagai konsultan iklan yang dikelilingi berbagai macam perempuan cantik langsung bisa menilai, Arura tidak masuk ke dalam kategori cantik.

Untuk alasan yang aneh, Reno jatuh hati pada Arura. Jatuh hati yang tak pernah dialaminya pada Tiana. Bersama Tiana, Reno merintis usaha ini dari awal. Kekasihnya itu hampir tanpa cela. Tinggi semampai, belum ditunjang sepatu berhak tinggi yang setiap hari dipakainya. Rambutnya diwarnai sesuai tren tahun ini, bicaranya tertata--bahkan sesekali menggoda, bentuk tubuhnya tak mungkin bisa dilupakan begitu saja.

Kembali ke Arura, lihat saja cara gadis itu tertawa. Arura merasa bebas tertawa kapanpun dia inginkan, tanpa merasa bersalah mengenai volume suaranya. Kadang Reno sampai harus menyuruhnya berhenti saat mereka tengah makan di restoran. Belum selesai, Arura juga seenaknya menggerai rambut panjangnya tanpa blow atau catok. Reno bahkan sangsi kalau gadis itu paham cara memblow rambut, dikiranya rambut hitam panjang bisa rapi begitu saja bak iklan shampo?

Bodohnya, segala tentang Arura malah membuat Reno nyaman di sampingnya. Arura akan menemaninya makan di manapun tanpa membicarakan jumlah kalori yang sudah berlebihan masuk ke tubuhnya. Arura juga tak akan mengeluh soal gerimis dan terik matahari yang menyia-nyiakan perawatan kulitnya di klinik mahal, toh perawatan kulit versi Arura hanya body lotion belasan ribu yang bisa dibeli di minimarket. Bersama Arura hidupnya begitu sederhana. Dan bahagia.

Arura tak suka beradu pendapat, senyumnya akan melengkung saat perdebatan mereka mulai sengit. Arura tak pernah absen memeluknya meskipun dia datang ke kencan mereka dengan muka kusut. 

Reno masih ingat perkataan Tiana dalam situasi yang sama, "Ren, kita tuh kencan buat seneng-seneng. Kalau kamu masih mikirin soal kerjaan, aku pulang aja deh. Call me when you are fine."

Sial, sekarang Reno mengingkari janjinya sendiri. Dia baru saja membanding-bandingkan Arura dengan Tiana. Rindu merebak pelan, namun melingkupi tiap celah yang membuat Reno ingin sekali berada dekat dengan Arura. Reno ingin memeluknya lebih erat, ingin mendengarkan tawanya lebih sering, ingin memandangi wajah tidurnya sampai pagi.

Terlambat. Arura sudah pergi. Tak sanggup menghadiri pernikahannya dengan Tiana esok hari. Semalam melalui percakapan telepon, dengan suara lirih bekas menangis Arura mengucapkan selamat.

Ucapan selamat paling pahit yang pernah diterima Reno.

Rabu, 21 Januari 2015

Selalu Milik Selma


Sudah beberapa hari ini ada salah paham yang terjadi. Semua dimulai dari badai yang mengamuk di dalam kepala Fidi. Laki-laki tenang itu jarang sekali gelisah. Itu masalahnya, jarangnya Fidi gelisah membuat Selma bingung harus diapakan kekasih kesayangannya itu.

Selma sebaliknya, suasana hatinya berganti lebih sering dari keputusannya mengganti pewarna bibir dan kuku. Dan selama ini, Fidi-lah yang selalu berhasil menyulap hari buruknya menjadi tawa warna-warni. Iya, Fidi sehebat itu bagi Selma.

Bukan cuma kemampuannya membalikkan hari buruk, soal memanjakan dan mengingatkan Selma tentang kesehatannya juga Fidi tak punya saingan. Selma bisa merasa dewasa sekaligus kekanakan di saat bersamaan. Perdebatan seperti mi instan yang terlalu sering dimakan Selma atau kopi yang sudah bertahun-tahun jadi pantangan tak bosan ditanggapi Fidi.

Sebelum bertemu Fidi, Selma menyebut dirinya pelari. Iya, kaki-kakinya sangat cepat soal berlari dari hubungan satu ke hubungan lainnya. Mustahil menjalin hubungan yang bertahan lama, bosan katanya. Saat memutuskan untuk bersama Fidi-pun, Selma punya ekspektasi yang sama. Cepat atau lambat dia akan pergi dan tertambat di hati yang lain.

Siapa yang menyangka hampir setahun dia ada di samping Fidi. Waktu yang luar biasa bagi seorang Selma. Tak pernah sedikitpun dia berpikir akan meninggalkan laki-laki yang waktu tidurnya berantakan itu.

Kembali ke salah paham yang terjadi akhir-akhir ini. Fidi sering diam, selalu begitu kalau ada masalah. Selma gusar, pasalnya diam Fidi tak membantunya mencarikan alternatif solusi untuk memberikan hiburan. Di saat seperti ini Selma sering sekali merutuki jarak yang semena-mena memisahkan mereka.

Setiap kali Fidi gelisah Selma selalu mengatakan kalimat yang sama, "Aku disini, selalu." yang ditanggapi Fidi dengan senyum hambar. Jelas saja, bagaimana mungkin kalimat klise seperti itu bisa menyelesaikan masalah?

Kalimat klise yang ternyata adalah janji yang tak pernah diucapkan Selma kepada siapapun. Perlu diingat, Selma tak percaya soal kesetiaan. Kesetiaan hanya rasionalisasi dari konsekuensi pilihan, kutukan--kalau menggunakan istilah Selma. Orang setia karena mereka merasa bersalah dan perlu membayar budi orang yang sudah menemani mereka selama ini.

Lucunya, Semesta ingin mempermainkan logika Selma. Dengan perasaan yang tak pernah berkurang setiap harinya, Selma tak pernah menginginkan siapapun lebih dari dia menginginkan Fidi. Senyumnya, caranya menjelaskan hal-hal yang ditanyakan Selma, posisi duduknya saat membaca, tatapan seriusnya waktu mempelajari hal baru, sampai kecupannya yang lembut. Selma menginginkan semuanya tanpa batas waktu.

Maka dari itu dia menggunakan istilah 'selalu'.

Selma ingin hadir dalam susah dan senang hidup Fidi. Selma bahagia saat mereka berdua bisa menertawakan pertemuan yang tertunda karena keduanya sama-sama tak punya uang. Selma tak sedikitpun terganggu meski Fidi datang dengan raut kusut di kencan mereka, tak keberatan lelaki itu bercerita panjang lebar tanpa semangat soal masalahnya seharian sebelum mereka akhirnya bercinta. Selma menginginkan Fidi, di segala sisi gelap dan terangnya.

Sayangnya, Fidi tak punya pilihan.
Entah apa nama perasaan yang dirasakannya pada Selma, dirinya sudah tak sendiri.

Dan sejak awal Selma tau, dia akan patah hati.

Kelucuan yang lain lagi, semesta menawarkan jalan keluar saat Selma benar-benar tak ingin pergi.

Selasa, 20 Januari 2015

Hangat Braga


"Kamu tau nggak? Di Braga setelah hujan, jalanannya mengilap kalau kena lampu jalan. Cantik sekali." Faira berucap sambil melihat jalanan yang markanya seperti tersambung jadi satu karena kecepatan mobil yang dipacu Elmar.

Elmar melirik, sambil tetap berusaha fokus pada jalan yang mulai kosong saat larut begini. "Oh ya? Di Jakarta udah hampir nggak bisa nemuin yang kayak gitu. Kebanyakan genangan." 

Faira meneruskan, "Cantik. Apalagi kalau dari atas. Trus kamu tau kan Braga nggak pernah sepi, sorot kendaraannya itu lho." 

"Iya banget, beautiful city lights."

"Then it is true, Bandung is the best city to fall in love." tutup Faira sambil mengenang Braga yang sudah cukup lama tak didatanginya. Ada luka sendiri yang tertinggal di jalan itu, Faira tak ingin mengulangi sakitnya meskipun sangat ingin kembali menikmati pendaran lampu jalan yang tak henti memanjakan mata.

"And to have a great sex."

Elmar, selalu saja. Temannya itu hampir selalu punya cara meruntuhkan romantisme yang dibangun Faira. Padahal Faira bukannya membangun suasana untuk mereka, namun tetap saja Elmar tak pernah membiarkan romantisme hidup lama-lama. Faira melirik tajam, dibalas cengiran khas Elmar.

Faira dan Elmar memang berteman, dua player yang berbeda pandangan ini entah kenapa cocok sekali kalau sedang bersama. Elmar bermain atas nama cinta, bercinta lebih tepatnya. Maka Faira tak heran kalau banyak sekali perempuan yang rela antri demi menghabiskan malam bersama temannya yang ahli luar biasa dalam memperlakukan lawan jenis.

Sebaliknya, Faira bermain karena cinta yang dia yakini datangnya sementara. Dia tak percaya bahwa hubungan selamanya itu nyata. Cepat atau lambat, kebosanan akan menggerogoti cinta tanpa ampun. Maka dari itu Faira cepat sekali berpindah dari satu hubungan ke hubungan lain, tak pernah bisa bertahan di hati yang sama.

Faira dan Elmar punya satu kesamaan, pada akhirnya mereka merasa sama-sama sendirian. Mungkin itu yang membuat pembicaraan mudah saja mengalir antar mereka. Mungkin juga kesamaan yang membuat mereka tak saling menasihati untuk segera berhubungan serius mengingat umur seperti banyak teman-teman dekat yang mulai panik melihat laju usia. Singkatnya, kesamaan mereka membuahkan kenyamanan yang hanya mereka sendiri yang bisa mengerti.

...

"Seriously, Fai?" Elmar menatap khawatir ke arah Faira yang sekarang menyelesaikan gelas bir ketujuh. Mungkin pergi minum ke Braga bukan ide yang bagus. Elmar hanya ingin Faira bangkit dari ketakutannya akan masa lalu, entah dengan lelaki mana.

Faira tertawa, terasa mudah sekali menertawakan banyak hal di saat begini. "Kamu tau nggak, El. Aku punya hotel langganan di dekat sini, kamu mau ikut?"

Baik, sekarang Faira mabuk. Seumur-umur tak pernah Elmar menerima tawaran menginap dari Faira, apalagi di hotel. "Eh? Kamu serius?"

"Liat muka aku. Emangnya aku kelihatan main-main?" tukas Faira, diakhiri dengan tawa terkekeh yang aneh. Elmar memang tak pernah melihat Faira saat mabuk. Ralat, Faira tak pernah mabuk. Dua gelas bir adalah batasnya minum selama ini, biasanya hanya untuk menghormati empunya acara atau penyemangat saat ide menulisnya macet.

"Mending kita pulang aja deh, Fai." Elmar merangkul Faira yang berdiri terhuyung. Mereka jarang sekali sedekat ini secara fisik, wangi parfum Faira yang biasanya sayup di indera olfaktori Elmar sekarang jelas tercium.

Faira merengek, enggan berpindah dari tempatnya berdiri. "Aku baik-baik aja. Aku udah bisa melewati ini. Hotelnya ada di seberang jalan, di sebelah minimarket." tangan Faira mendorong Elmar menjauh, sekarang kaki-kakinya berjalan sendiri meskipun tak tegap menapak.

Elmar tak punya pilihan, diikutinya Faira.

Faira benar, Braga cantik dilihat dari atas. Berdiri di pinggir jendela, dengan Braga sebagai sajian utama. Elmar tertawa ringan, merasa lucu dan aneh di saat bersamaan. Ini pertama kali dia sekamar dengan perempuan tanpa bercinta. Kalau bukan Faira pasti sudah ditinggalkannya perempuan yang tengah mabuk memaksa resepsionis hotel untuk membuka kamar sambil keliru memberikan KTP sebagai kartu kredit.

Setelah muntah karena terlalu banyak minum dan ambruk kelelahan di atas kasur, Faira tertidur. Ini kali pertama Elmar memandangi Faira dengan versi lain, tanpa keangkuhan. Elmar sampai pada satu konklusi sederhana, Faira hanya terluka. Selama ini membangun benteng arogansi demi melindungi dirinya agar tidak terluka lagi.

Ini juga kali pertama Elmar mengerti, bercinta dengan siapapun tak pernah membuatnya merasa sehangat ini.

Rabu, 07 Januari 2015

Atas nama cinta yang sama


Pernah melihat perempuan yang berusaha mencurangi waktu? Saya sering.

Perempuan yang menukar banyak keping emas demi botol-botol ajaib yang bisa menyamarkan jejak waktu di wajah mereka atau perempuan yang memoles banyak lapisan warna di atas kulit demi terlihat muda dan bahagia.

Ada apa dengan menjadi muda?

Waktu umur saya belasan, saya berpikir alangkah menyenangkannya jadi dewasa. Begitu melewati umur dua puluh, saya sadar, kemudaan adalah yang paling berharga yang ada di anggapan banyak wanita.

Kenapa? Saya tak tahu pasti. Tapi dangkalnya, muda membuat kulit senantiasa kencang dan terbebas dari kerut yang sekarang haram terlihat. Padahal dalam perjalanan terbentuknya kerut itu, pemikiran banyak keluar, kesabaran banyak diuji, kebijaksanaan tumbuh dan mengakar dalam hati.

Seperti banyak perempuan yang takut gemuk saat mengandung, atau sengaja memilih caesar sebagai jalan melahirkan, atau takut bentuk payudara berubah jika menyusui. Seperti apa menyeramkannya tampilan ideal yang ditanamkan ke dalam kepala-kepala perempuan kalau sampai membuat mereka takut menjalani satu jalan alami ciptaan  semesta?

Pendeknya, saya ingin sekali menyalahkan laki-laki.

Terlebih yang berpikir bahwa tubuh perempuan harusnya abadi. Tak membesar karena jaringan lemak bertambah banyak. Tak berkerut dan bercela persis seperti porselen Tiongkok.

Kamu pikir kami sehebat apa, wahai lelaki?

Setelah menyerahkan hidup padamu, dilingkupi kekhawatiran akankah kamu pergi di pagi saat kami tengah cinta-cintanya. Setelah menyerahkan hidup padamu, membiarkan waktu seenaknya merusak bentuk tubuh kami demi melahirkan anak-anakmu? Setelah menyerahkan hidup padamu, menemani kala kamu membangun semua mimpimu mulai dari kerikil terkecil, dan tetap dilingkupi kekhawatiran semolek apa perempuan yang datang menggoda saat mimpimu sudah terbangun gagah?

Kami tak kuasa melawan waktu.

Kami tak bisa mencurangi waktu dan menghapus semua kerut di wajah yang dulu kamu puji cantiknya. Kami tak bisa menyelinap dan menghentikan tubuh kami agar tetap menggugahmu persis seperti saat kita masih pengantin baru.

Sayangnya, kami tak bisa.
Karena itu, kami menawarkan sebuah tantangan.

Atas nama cinta yang sama, cinta kamu pakai untuk menyakinkan kami bersamamu bertahun lalu, maukah kamu tinggal bersama dan mengikuti alur waktu?
 

Template by Best Web Hosting