Selasa, 28 April 2015

Hitungan rindu


Kita saling berucap rindu, perlahan namun dalam sampai ke sumsum tulang. Aku tersenyum saat kamu bertanya kapan lagi aku bisa ditemui.

Sebenarnya, kalau bisa, aku ingin menemuimu kapanpun aku ingin. Aku ingin sekejap ada di sampingmu begitu detakku rindu dibalas. Aku ingin secepatnya di sisimu saat butuh direngkuh, saat lemah dan lelah-lelahnya.

Tapi kamu menawarkan yang lain. Bagaimana kalau kita kumpulkan rindunya, lalu melampiaskan saat temu dalam genggaman. Aku benci, benci sekali. Aku tak pandai menunggu, tidak suka--lebih tepatnya. Hidupku terlalu singkat untuk sekedar menunggu.

Maka aku berhitung, berapa banyak yang akan kudapatkan kalau aku terlibat dalam permainan menunggu ini. Semata agar aku tahu, apakah harus patuh pada aturan mainnya atau melenggang pergi meninggalkanmu.

Aku menunggu untuk pelukmu. Peluk yang kamu sebut sebagai dekap. Simbol penerimaan atas apa adanya aku, bentuk tubuh serta pemikiranku. Kamu akan mendekapku kapanpun kuinginkan, semakin erat saat tubuh kita ditutupi malam.

Aku menunggu untuk semua ceritamu. Tentang sayapku yang harus kubentangkan selekasnya, tentang kaki-kakiku yang harus menjelajah tiap petak tanah. Kamu bisa bercerita bagaimana siklus hidup bintang sambil menatap mataku seolah-olah mereka ada banyak di sana.

Aku menunggu racauan tidurmu. Seringnya ucapan syukur saat kamu terlelap. Kamu bersyukur atas waktu, atas kita. Kamu bersyukur karena aku masih ada, kamu masih bisa menemani. Aku? Aku bersyukur dengan merapal doa semoga kamu tak pergi segera.

Aku menunggu kecupmu yang tak bisa diprediksi. Kamu tak butuh alasan kuatuntuk menghujani aku dengan kecup. Seluruh sel epitel kulitku mendamba tekan dan lekat yang kamu tawarkan.

Aku menunggu kamu terbangun dan menatapku dengan selengkung senyum. Menjawab pandangan penuh tanya yang kulemparkan dengan senyum yang lebih lebar dan menenangkan. Rongga dadaku dipenuhi kehangatan tiba-tiba, padahal tirai kamar masih tertutup rapat.

Aku mau saja menulis semua yang kutunggu darimu, namun nanti aku akan merindu semakin parah. Atau kamu jadi besar kepala dan seenaknya menikmati aku yang memanggil-manggil hadirmu.

Tidak, kesayangan. Kamu mimpi saja.
Aku tak akan mau membocorkan rahasia bahwa jikalau ini tentang hadirmu, aku akan berusaha menunggu. Selalu.

Minggu, 26 April 2015

Tinder(an)! 7 things you will find in Tinder

 Yello! Saya baru saja cek moderasi komentar di blog ini. Lalu ada pembaca yang mengingatkan saya kalau di post tentang Tinder sebelumnya, saya menulis bahwa saya akan share lagi soal kelucuan ber-Tinder.

Berhubung beberapa hari lalu saya kembali main Tinder, saya akan menuliskan temuan saya di Tinder yang belum saya mengerti sampai sekarang. Saya sendiri heran dan bingung, jadi kalau kamu punya jawabannya bisa mention saya di @auliafairuz ya. #PromosiTwitterTerselubung

Kembali lagi soal Tinder. FYI, Tinder sekarang punya versi PRO yang bisa kamu subscribe. Subscribe ya, bukan beli--artinya kamu harus perpanjang tiap bulan. Kelebihan versi PRO Tinder adalah, kamu bisa melakukan semacam undo atau rewind waktu swiping potential match. Selain itu kamu bisa pilih lokasi swipe kamu, meskipun kamu ada di Jakarta, kamu bisa 'seolah-olah' berada di Bandung supaya bisa dapet potential match garareulis.

Salah satu temuan saya adalah adanya klasifikasi foto cowok (karena saya cewek, jadi saya cari potential match cowok) yang dipajang di Tinder. Saya akan menuliskan beberapa yang seriiiiiiiiiiiiing banget saya temui. Kalau kamu punya tambahan, sila tulis di kolom komentar ya.

1. "Yo wassup, I am smokin and drinkin."
Entah kenapa foto cowok yang dipajang di Tinder sering menjadikan bir (baik di gelas maupun botol) sebagai latar, belum ditambah dengan pose merokok.

Udah deh, seringnya cowok foto dengan gaya begini mungkin mirip dengan seringnya cewek foto di kamar mandi mall. Nggak jarang si empunya foto memamerkan asap rokok, mirip sama efek konser gitu, punya cita-cita terpendam jadi anak band mungkin (?).

2. Don't judge my Tinder by its picture
Kamu fotografer? Foto kamera kamu. Kamu chef? Foto dapur dengan perlengkapan masak yang wah. Kamu dokter? Foto stetoskop kamu. Kamu mahasiswa tingkat akhir? Foto skrip.. ah udahlah.

Tinder yang jelas menggunakan akun facebook dan otomatis menjadikan foto profil Facebook demi mengurangi tingkat kebohongan pengguna masih aja kecolongan. Ada orang-orang yang mengira foto-foto barang bikin mereka keren (?) atau malah memiliki nilai untuk nggak memberikan judgement hanya dari tampilan.

Me? Haloooo. It is Tinder, dude.

3. Identical Selfie.
Berkebalikan dengan pengguna sebelumnya, pengguna Tinder yang memajang foto selfie juga nggak kalah banyak. It's not wrong! Tapi kalau semua fotonya selfie dengan gaya yang sama dan cuma beda background? Meh.

4. Let's go travel with me.
Sebagian pengguna punya gaya lain lagi untuk merepresentasikan diri lewat foto. Travelling pictures termasuk yang sering ditemui. Mulai dari naik gunung, menyelam, di depan Merlion (ini sering banget!), di depan Menara Eiffel, ya pokoknya di segala tempat jalan-jalan.

Buat kamu yang suka sama cowok petualang, swipe kanan aja. Kalau saya pribadi, foto travelling sih nggak mengganggu asal nggak semua foto difoto dari jarak jauh sampai orang yang dimaksud nggak terlihat atau (parahnya) memasang pose hadap belakang. Doh.


5. Which one is me? Guess!
This is what I hate the most. Foto rombongan untuk profil Tinder. Tinder itu dating app, kecuali kamu mau potential match kamu salah mikir kamu yang mana, mendingan buruan deh ubah jadi foto sendiri. Atau jangan-jangan, pengguna dengan foto rombongan gini memang mengincar pasangan yang suka memecahkan misteri?

6. *no pic *hoax
Dari semua pengguna yang pasang foto absurd, ini lebih parah. Nggak pasang foto sama sekali. Oke. Nggak tau mau komentar apa.

7. It's a match, but..
Anggaplah foto kamu kece, bio kamu juga menarik, sehingga banyak cowok/cewek yang swipe right dan kamu pun match sama banyak orang. Selesai?

Nggak. Permasalahan lain yang akan muncul adalah pengguna yang match doang sama kamu. ZLAM! Kalau kamu mau memulai pembicaraan atau menunggu sampai bosan sih terserah aja. Saya biasanya akan menyapa dan menunggu, kalau terlalu lama.. unmatch. Beres.

Rabu, 22 April 2015

Aku tetap tinggal


Kalau bisa, aku sebenarnya ingin mencintaimu dengan sederhana saja.
Seperti mendapatimu belum sepenuhnya sadar di sampingku, lalu mengecup lembut keningmu. Tak perlu peduli waktu yang memburu, jarak yang tak terlipat oleh rindu yang demikian banyaknya. Namun sayangnya, hidup tak bisa sesederhana itu.

Kalau bisa, aku sebenarnya ingin mencintaimu dengan sederhana saja.
Bersandar kapanpun kuinginkan, tak perlu lebih dulu mengundang temaram. Mendekat kapanpun bibirku rindu dikecup, memeluk kapanpun aku rindu detakmu yang cepat. Namun sayangnya, ingin tak bisa semuanya dipuaskan.

Kalau bisa, aku sebenarnya ingin mencintaimu dengan sederhana saja.
Siap sedia di sampingmu, membisikkan bahwa kamu tak pernah sendirian. Kamu tak akan pernah kubiarkan gundah tanpa kawan. Namun sayangnya, kita bukan ikatan pasti.

Maka Sayangku, dengan segala kerumitan dan keadaan yang tidak menguntungkan inginku--aku berusaha tetap mencintaimu.

Dengan keberadaanmu yang jarang, aku menghargai pertemuan. Dengan temaram yang menyenangkan, aku mencoba berteman dengan gulita. Dengan ikatan yang tak pernah ada, aku berusaha setia.

Bukankah itu intinya? Aku tak akan pernah mencintaimu dengan terpaksa. Kamu tak merantai kaki-kakiku, kamu tidak menutup mataku. Aku bisa pergi kapanpun kuinginkan.

Namun lihatlah Sayang, aku tetap tinggal di sisimu.

Selasa, 21 April 2015

Celebrate your skin!


Saya agak bingung mau memulai post ini dari mana. Isi kepala dan perasaan saya campur aduk. Intinya, saya betul-betul nggak sabar mau menulis ini. Begitu jari saya menyentuh keyboard, BLAP. Persis seperti lama nggak ketemu pacar dan sudah mempersiapkan banyak cerita namun langsung diam saking excited-nya.

Analoginya ngawur, ya sudahlah.

Kemarin sore saya menemukan campaign sebuah brand produk kecantikan yang dikomentari salah seorang pengguna twitter. Menggandeng seorang penyanyi wanita sebagai 'ikon', brand tersebut kemudian melakukan campaign 'kulit putih' dengan sasaran remaja putri.

Dalam campaign-nya disebutkan bahwa brand yang bersangkutan akan membantu mendapatkan kulit putih bersinar. Ditulis juga pentingnya kulit putih dalam meningkatkan percaya diri dan tampil memukau. 

Doh! Ini semua tentang kulit putih? Seriously?

Saya punya kepedulian lebih terhadap hal-hal yang menyangkut penampilan dan kepercayaan diri, apalagi di masa perkembangan remaja. Kenapa? Soalnya masa remaja adalah masa yang rawan terhadap terbentuknya citra diri yang negatif. Siapa yang diuntungkan oleh masa ini? Jelas produsen produk kecantikan dong. Dengan iming-iming bahwa remaja akan diterima oleh teman sebaya dan dikagumi lawan jenis, ditawarkanlah segala macam produk..

..pemutih kulit.

Saya sama sekali nggak ingin nyinyir sama perempuan yang lahir dengan kulit putih. You are beautiful. Saya hanya mau memastikan bahwa Kartini muda Indonesia sadar bahwa mereka bisa tetap memukau dan percaya diri dengan warna kulit apa adanya. Kamu nggak perlu lebih putih untuk bisa cantik dan dikagumi banyak orang. Langkah pertama yang perlu kamu lakukan adalah merasa cantik dan baik-baik saja dengan kulit kamu.

Manusia memang diciptakan dengan beragam warna kulit, kok. Zat yang berperan di balik keragaman ini namanya melanin. Melanin merupakan pigmen warna yang merupakan turunan dari asam amino tirosin. Selain warna kulit, melanin juga membuat warna rambut dan mata kita berbeda-beda.

Ini artinya, tingkat terang/gelapnya kulit terjadi secara alamiah. Meskipun tetap saja ada pengaruh lingkungan seperti terik matahari atau nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Kamu yang berkulit gelap bukan merupakan kesalahan produksi atau cacat! Ini juga berarti kamu nggak perlu repot memutihkan kulit.

...

Q: Tapi perempuan yang cantik kan memang kebanyakan berkulit putih?

A: Eits, kata siapa? Kamu pernah nggak sih terpikir kalau digunakannya model kulit putih dalam iklan produk itu dalam rangka jualan? Brand jelas akan menggiring opini publik supaya kamu merasa insecure dan akhirnya jadi budak produk.

Q: Tapi gebetan aku sukanya yang kulitnya putih.

A: Then he doesn't deserve you, Darling. Masih akan ada banyak pria yang mengagumimu lebih dari sekedar apa warna kulit kamu. Dia akan setia mengobrol denganmu karena pemikiranmu menakjubkan untuknya. Dia akan rela menunggumu karena kepribadianmu membuatnya benar-benar jatuh hati. Buka buku, baca, belajar! You will thank me later.

Q: Udah nih? Aku nggak perlu ngapa-ngapain kulit aku?

A: Yaaaah, itu sih namanya males. Bawa sunscreen dalam tas, selalu pakai saat keluar siang hari. Sinar matahari berlebihan bisa membuat kulitmu kusam. Minum air putih, banyak. Kurangi soda dan gula. Kendalikan diri untuk tidak makan gorengan. Tambah porsi sayur dan buah. Kalau merasa perlu, konsumsi vitamin E.

Q: Kok ribet?

A: Bukan ribet. Itu namanya peduli sama perawatan kulit sendiri. Ada perbedaan antara kulit gelap yang sehat dan kulit kusam.

...

Selamat Hari Kartini! 
Celebrate your skin and just love the skin you’re in.
You never know who might love it too.

Kamis, 16 April 2015

Dia orangnya


Halo, kamu yang masih sendiri.
Aku menulis ini khusus untukmu yang menerka apa belahan jiwa adalah konsep nyata atau rasionalisasi yang diciptakan nenek moyang agar manusia tak putus asa.

Dulu kamu mungkin percaya bahwa tiap orang lahir dengan sebelah sayap, tiap orang baru akan terbang saat saling melengkapi, tak bisa sendiri. Namun setelah bertemu banyak orang yang salah, orang yang seenaknya membuat sayapmu patah, keyakinanmu nyaris habis.

Jiwa baik, patah hati berkali-kali tidak menyenangkan. Tapi dari tiap luka semestinya kita belajar, bahwa serigala bertaring harus dihindari, penipu busuk tak boleh dibiarkan masuk. Dari tiap luka, kamu semakin lihai menilai. Percayalah, pertemuan dengan orang yang salah membawa kita lebih dekat ke orang yang tepat.

Kamu akan menemukan orangnya.
Mungkin di setapak saat kamu meringis terseok akibat sayap yang patah. Mungkin di danau tempat kamu merutuki takdir karena lagi-lagi bertemu orang yang salah. Kamu akan menemukannya. Itu kabar baik.

Kabar buruknya, dia mungkin tak sempurna. Sayapnya bisa jadi luka akibat kepercayaan yang dititipkannya pada orang yang salah. Namun kalian bisa tumbuh bersama dan saling memperbaiki. Dengan lemah yang terlihat, kalian belajar saling melindungi. Dengan luka yang tampak, kalian belajar saling menyayangi. Bukankah itu inti kehidupan? Belajar.

Tau-tau kalian bersama, membagi pengalaman dan mimpi-mimpi besar. Tau-tau kamu merasa bahwa semestamu tersaji sempurna, tenang dan indah. Kamu mensyukuri luka-luka lama. Luka dan sakit yang membawamu pada dia.

Orangnya.

Kamis, 09 April 2015

Kamu temani

"Yang aku takutkan bukan ketika kau memilih pergi. Tapi ketika kamu masih di sini dan aku merasa kau telah pergi." -Ibe S Palogai (@jejaksajak)

Baiklah, ini mengerikan. Memikirkannya saja susah mengubah perasaanku menjadi tak aman. Bagaimana kalau itu terjadi pada kita? Bukankah lebih mengerikan bertemu denganmu secara fisik namun tak lagi menemukan pendar ketertarikan yang biasa menyala saat kamu menatapku?

Meskipun tidak akan membantu, aku mulai mengingat sifat-sifat burukku.

Aku sulit bangun pagi. Semua ideku masih liar sampai tengah malam. Sialnya, kamu bangun pagi buta saat aku bahkan belum sampai di tingkat tidur paling nyaman. Aku nyaris tak pernah mengecupmu sebelum kamu pergi mengawali hari.

Aku tak pandai menjaga suasana. Aku bisa tiba-tiba menanyakan kenapa Ratu Inggris mengadakan festival topi atau bagaimana siklus hidup bintang sampai menjadi bintang mati. Kalau sedang berbaik hati, kamu biasanya berhenti dan menjawab. Pada beberapa situasi, kamu akan terus mengecup sampai aku hilang kata-kata.

Aku pemalas. Akhir pekan akan kugunakan sebagai alasan memintamu tinggal di sisiku lebih lama. Aku bisa memelukmu seharian di atas tempat tidur, menyalakan televisi, dan menonton film bersamamu. Aku tak memberi kejutan berupa sarapan, apalagi mengajakmu olah raga pagi. Oh, aku juga jarang sekali tergerak untuk merapikan rumput liar di halaman kita.

Tapi anehnya, kamu bertahan.

Kamu tak bosan mengingatkan bahwa waktu istirahat sudah tiba dan aku harus berhenti membaca. Kamu memeluk aku erat agar aku tak diam-diam bangun dan meneruskan bab yang sedang kutulis jalan ceritanya.

Kamu suka bekerja. Kepalamu butuh tantangan. Kamu menikmati tiap tenggat waktu dan tugas yang terus mengembangkan dirimu. Tapi saat tamu bulananku datang sebelum senja kamu sudah ada di rumah. Membuat sup panas dan menanyakan kegiatanku seharian. Mengecup hidungku saat aku memelas akibat kram perut tak henti.

Kamu sering mendekap, katamu dekap lebih romantis dibanding bercinta semalaman. Tentu bukan karena kemampuan bercintamu payah, aku berani menjamin yang satu itu. Mendekap adalah tentang penerimaan, membiarkan aku menjadi dekat dengan segala kurang dan cacat, membiarkan kamu mengeyampingkan segala perhitungan dan mencintaiku apa adanya.

Sampai hari ini, aku terus merasa kamu temani. Bahkan saat kamu tak benar-benar di sisi.

Minggu, 05 April 2015

Al dan cermin


Al benci sekali cermin dan tak butuh waktu lama bagi Titan untuk mengetahuinya. Tiap kali berjalan di depan tembok dengan cermin besar, Al akan menoleh ke arah lain. Begitupun saat menyikat gigi, Al akan menyikat gigi membelakangi cermin kamar mandi flatnya. Di dalam lift yang seluruh sisinya dilapisi cermin sebagai ilusi ruang, Al akan menunduk.

Entah apa yang ditakutkan Al sampai menghindari cermin sebisa mungkin. Oh, kecuali pagi hari saat harus berdandan. Al akan menggeser kursi di depan meja rias dan berdandan sambil berdiri, seperti ingin secepatnya pergi.

Ini menggelitik rasa ingin tahu Titan. Suatu malam saat perempuannya itu melakukan ritual sebelum tidur, Titan menerobos ke kamar mandi. Di situlah dia, Al-nya yang tak ingin ditinggalkannya lama-lama. Dipegangnya kuat pundak Al, dengan sedikit daya diubahnya arah berdiri Al. Menghadap cermin.

Al menoleh ke arah lain begitu sadar ada pantulan dirinya di depan cermin.

"Kenapa sih, Al?" tanyanya dengan nada peduli. "You look fine, Al."

Al berbalik, merangkul leher Titan yang lebih tinggi. "Tidur yuk," ajaknya tanpa penjelasan yang memuaskan pertanyaan Titan. "Aku ngantuk,"

Bohong. Ini baru pukul 9 malam, Al tidak mungkin mengantuk sebelum tengah malam. "Al, you know you are beautiful right?"

Pegangan tangan Titan yang mengendur membuat Al mudah melepaskan diri. Ditinggalkannya Titan sendirian dengan rasa bersalah yang menggantung.

"Al, are you okay?" bisik Titan usai menyusup ke bawah selimut. Biasanya Al akan menyetel televisi atau membaca di bawah pencahayaan lampu tidur. Al tak mampu dibekap sunyi lama-lama saat sendirian, saat berdua dengan Titan maka ocehannya akan meluncur tanpa henti. Al yang diam begini malah membuat Titan was-was.

Al diam, Titan merasa suhu ruangan menjadi lebih rendah dari biasanya. Ditariknya selimut Al sampai menutup bahu. "Al, tolong jangan diam saja."

"I am fine, Tan." jawab Al datar.

Bohong lagi. Al tak pernah baik-baik saja saat diam begini.

...

Titan, you called me beautiful so many times, I'm almost convinced that I really am.

Kamis, 02 April 2015

Tips sakit hati


DISCLAIMER: Jangan baca kecuali siap sakit hati.
Membaca post ini nggak akan membuat kamu merasa lebih baik.

...

Kamu pernah nggak berpikir waktu sedang dipeluk, "Sebelum aku, ada berapa perempuan ya yang pernah pasrah di pelukannya?"

Udah mulai kerasa cekit-cekitnya? Belom? Oke!

Mama saya hidup di zaman dimana orang berpacaran cuma sedikit kali sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Mama saya malah menikah dengan pacar pertamanya, Papa saya. Menurut cerita Mama saya, dulu pacaran dilakukan dengan 'santun' alias nggak bisa diumbar sana-sini seperti sekarang. Alasannya? Takut terlanjur malu kalau putus.

Generasi saya punya gaya lain lagi soal pacaran. Sebagai millenials yang dikenal percaya diri, narsis, dan penuh toleransi, aktivitas yang dilakukan selama berpacaran bertebaran dimana-mana. Gandeng pacar ke undangan pernikahan, foto peluk dan cium, sampai ungkapan cinta dipandang sebagai sesuatu yang biasa saja. Well, istimewa cuma buat yang mengalami sih, kayaknya. Millenials juga punya toleransi yang besar untuk kejadian 'Oh si itu udah bukan pacarnya si anu, trus ternyata pacaran si ini.'

Oke, udahan sok tau soal millenials.

Seiring dengan berkembangnya zaman, sarana orang untuk menyakiti diri sendiri makin bertambah. Salah satunya, media sosial. Saya yang prefer untuk melakukan stalking reguler di twitter sering memanfaatkan bar pencarian yang menurut saya kece fungsinya.

Nggak percaya?
Coba ketik akun pacar kamu yang sekarang trus ketik akun mantannya

Jeng-jeeeeng! Segala masa lalu langsung muncul, siap discroll.

Buat kamu yang males scrolling karena kebanyakan, tulis aja hal yang lebih spesifik.
Misal: akun pacar kamu, aku mantannya, sayang (atau kata-kata sejenis)

Jeng-jeeeeng! Makin pedes deh hasil pencariannya.

Buat kamu yang melakukan ini, jangan dijadikan bahan untuk berantem sama pacar ya. Kamu nggak asik banget kalau sampai melakukan itu. Mempermasalahkan masa lalu adalah hal paling nggak asik yang bisa dilakuin pas pacaran

Trus ini lo lagi ngapain, Ul?
Lagi bagi-bagi cara sakit hati dalam waktu singkat. HEHEHE.

Buat kamu yang kepedesan, saya mau kasi tips deh.
Biasanya sih saya merasionalisasi dengan, "Dia yang saya sayangi sekarang adalah dia yang berkembang dan belajar dari masa lalunya." (termasuk buku-buku yang dia baca, tempat-tempat yang dia kunjungi, mantan-mantannya, tempat-tempat yang dia kunjungi bareng mantan, buku-buku yang dia baca bareng mantan.)

#ditimpuk

Udah ah, saya mau tidur.
 

Template by Best Web Hosting