Selasa, 23 Juni 2015

Berani



Kamu tahu dengan apa aku mengasosiasikan suara petir. Aku bisa menangis gemetar di sudut ruangan kalau sendirian. Maka dari itu, tiap kali langit mendung dan petir nampaknya akan datang, kamu tak akan jauh-jauh dariku.

Semua pintu antar ruangan di rumah kita akan terbuka, supaya kamu bisa mendengar kalau-kalau aku memanggil. Saat suara petir sangat keras, kamu akan memeluk sambil berucap lagi dan lagi bahwa kamu ada di sampingku, tak akan pergi.

Katakan, Sayang, Bagaimana mungkin aku tak makin cinta?

Bertahun aku belajar bahwa gelegar artinya marah dan jahat. Bertahun aku sembunyi di bawah tempat tidur karena ayahku benci sekali melihat putrinya takut. Tiap kali aku ketakutan, ayahku bersuara lebih keras memaki. Mungkin agar aku sadar bahwa petir tak ada apa-apanya ketimbang kemarahan ayah. Mungkin agar aku tumbuh berani.

Kamu tak peduli. Perlahan dekapmu membuat aku berani.

Selasa, 09 Juni 2015

Petamu


Alih-alih menebar benih bunga di sepanjang jalan pulang, kamu memberikan solusi yang lebih cerdas dan nyata. Kamu mengirimkan tautan ke ponselku--terhubung ke peta digital. Kamu tak selalu bisa menjagaku, tapi aku tahu kamu tak pernah berhenti memastikan bahwa aku baik saja.

Untuk ungkapan cinta yang jarang kamu ucap, aku memaafkan.

Untuk peluk erat yang berakhir kamu tertidur karena kelelahan, aku bersyukur kamu ada di sampingku.

Untuk bercinta sepagian yang berdampak pada kantuk seharian, aku tak ingin kehilanganmu. Tidak pernah. Tidak akan.
 

Template by Best Web Hosting