Selasa, 25 Agustus 2015

Most of the time


Di tengah pembicaraan denganmu, aku tertawa. Kamu menyenangkan seperti biasa. "Anggara, aku bersyukur akhirnya dipertemukan olehmu."

"Kalau aku bisa mengulang waktu, aku ingin bertemu denganmu lebih cepat." ujarmu pelan. Nada suaramu memang punya nada dasar yang jarang berubah, bahkan ketika kamu sedang marah.

Bahuku terangkat, "Entahlah. Aku tidak yakin kamu akan tertarik kalau kita bertemu lebih awal."

"Aku ingin lebih dulu memilikimu, mendahului banyak lelaki yang datang sebelum aku." Kamu menjelaskan lebih lanjut, dengan pandangan mata lurus ke arahku. Pandangan yang mengupas kulit rahasiaku satu-satu. Pandangan yang kadang mengganggu dan ingin aku enyahkan.

Aku membalik lembar menu, "Kamu mau pesan apa? Meatloaf?"

"Seruni, aku ingin kamu bahagia." Pernyataanmu tidak menjawab pertanyaan. Kamu tahu aku hanya mengalihkan pembicaraan. Saat ini, kamu menolak membicarakan hal lain dan aku mengerti.

"Siapa yang tidak ingin bahagia, memangnya?"

Kamu menarik ujung bibir kanan ke atas, seperti kalau kamu merasa lebih pintar dariku akan suatu hal. "Kamu, terkadang. Memikirkan hal-hal yang menyakitkan padahal tak bisa diubah. Menolak bantuan padahal kamu membutuhkannya. Tetap bersama dengan orang yang belum tentu bisa membahagiakanmu. Ralat, atau setidaknya belum tentu mau dan memikirkan kebahagiaanmu."

"Menarik. Bagaimana aku tahu kalau kamu mau dan memikirkan kebahagiaanku?"

Kini Anggara mendekat, aku bisa merasa meja di antara kami sempat terdorong beberapa senti karena terdorong oleh dada bidangnya. "Bahagiakah kamu saat bersamaku?"

"Most of the time." Jawabku singkat.

Senyum menang Anggara melengkung di bibirnya yang siap bicara lagi, "Lalu kamu pikir, kebahagiaanmu itu hasil dari kebetulan semesta? Seruni, kamu tidak senaif itu kan?"

...

Aku tidak, Anggara.
Aku hanya setakut itu untuk percaya bahwa bahagiamu akan bertahan selamanya.

Senin, 17 Agustus 2015

Pilihanmu, aku sisanya


"Sebanyak ini?" Aku mencari keseriusan di matamu. Aku memang tidak makan dalam porsi kecil, tapi makanan sebanyak ini jelas tidak untuk dimakan berdua.

Kamu yang baru menjatuhkan diri ke sofa di depan televisi mengangguk yakin. Wajahmu lelah, tapi senyum yang melengkung di situ bukan produk pura-pura. "Aku tidak yakin."

"Tahu dan tempe? Daging sapi dan ayam? Brokoli dan kembang kol? Susu dan yoghurt? Apa ini?" Lanjutku masih penuh pertanyaan dengan pilihan makanan yang kamu beli. Toh, kita sedang tidak piknik. Kalaupun iya, kita punya makanan wajib saat pergi piknik--roti gandum dengan olesan mayo yang sudah dicampur potongan telur rebus dan jamur. Milikku, isiannya lebih banyak darimu.

Kamu menyalakan televisi, "Aku tidak yakin mana yang lebih kamu suka. Kubeli semuanya, kamu pilih. Aku akan makan sisanya."

Kini giliran senyumku melengkung. Kamu pasti tidak sadar baru saja membuat gempa besar dalam dadaku. Kamu tak boleh tahu, bisa mati kutu aku.

...

Sayang, aku suka tahu karena teksturnya lembut, kalau ada yang putih--aku lebih suka. Aku lebih suka daging sapi, dimasak jangan sampai terlalu matang. Brokoli atau kembang kol tidak pernah jadi masalah asal dimasak tidak terlalu lama. Aku lebih suka yoghurt, selama masih dingin.

Namun kalau kamu lupa lagi, bahkan kalau kamu selalu lupa--aku tidak akan pernah mempermasalahkannya. Selama kaki-kakimu tak lupa kemana arah pulang. Selama kamu tak pernah bosan makan malam bersamaku.

Jumat, 14 Agustus 2015

Jarak rahasia


"Tidakkah kamu bisa melihat bahwa aku melakukan semuanya untukmu?"

Aku menoleh, menarik selimut yang turun karena pergerakan bebas kita di atas tempat tidur. "Bagian mana?"

Kamu mengerutkan kening, kalau aku tidak salah mengartikan ekspresimu--kamu bingung akan pertanyaan yang kuajukan sebagai respon pertanyaanmu. "Semuanya. Hampir semuanya."

"Kamu belum tahu banyak tentangku, Sayang. Jadi jangan berkata seolah-olah kamu tahu mana yang baik untukku. Terkadang--meski tak sering, kamu menyakiti." Telunjukku menelusuri garis rahangmu yang kokoh. Berhenti di dagu, mencubit lembut.

Sekarang kamu melipat tanganmu, menyangga kepala "Bukankah itu pilihanmu? Menutup diri dan--lebih dari yang bisa disebut beberapa kali--berbohong padaku." 

Aku tersenyum, "Tidakkah masing-masing kita tahu bahwa kepercayaan bukan sesuatu yang bisa diberikan cuma-cuma? Apalagi dipaksakan." Setelah aku mengucapnya, suasana kamar sunyi dan dingin sekali. Suara napasku yang masuk melalui tenggorokan terdengar perlahan sampai hilang saat mengumpul di dada, tempat yang untuk kupenuhi perasaanku padamu.

"Benar." Sebelah tanganmu merapikan anak-anak rambut yang tergerai halus di kepalaku. "Namun tetap saja, aku benci sekali saat kamu membohongiku."

"Aku pun. Aku benci saat kupikir kamu tak bisa menerima kenyataan tentangku."

Rabu, 12 Agustus 2015

Million Stars


Aku janji ini yang terakhir. Aku akan berusaha. Membiarkan pikiran-pikiran tentangmu berkeliaran hanya membuat segala yang kupunya seperti remuk. Duniaku kehilangan warna, semua senang yang kamu bagi menciut dan meledak--menghisap bahagia yang kupunya bahkan sebelum bertemu denganmu.

Aku pernah bertanya-tanya seperti apa rasanya bercinta di bawah jutaan bintang.

Kamu menggeleng, mengangkat bahu. "Entahlah, mau dicoba?"

Seperti biasanya saat kamu melucu, aku terkikik geli. Ada kupu-kupu mengepak pelan dalam perutku, ada sensasi hangat menyebar ke seluruh bagian tubuhku. Kamu memandang keheranan, memanjakan mataku yang suka ekspresi itu.

"Aku serius." ujarmu.

Tawaku tertahan. "Iya, kita akan mencobanya. Di bawah jutaan bintang."

...

Harusnya kita bercinta di bawah jutaan bintang, bukan? Kenapa langitku kelam, sekarang?

Cakap Senja


"Kenapa orang baik jarang menang?"

"Kenapa harus menang?"

"Karena hidup harusnya tentang mendapatkan semuanya atau kehilangan semuanya, bukan?"

"Mungkin bukan."

"Mungkin?"

"Iya. Selalu ada jalan tengah, setidaknya bagiku. Seperti tentangmu. Aku tidak sepenuhnya memilikimu. Namun, kamu ada di saat-saat tertentu. Itu cukup bagiku."

"Kembali lagi. Kenapa orang baik jarang menang di dunia ini?"

"Kesayangan. Dunia ini lebih luas dari medan perang."

"Tapi, banyak yang bilang kita harus berjuang?"

"Iya. Belum tentu untuk mengalahkan orang lain, kan?"

"Lalu untuk apa?"

"Membahagiakan diri sendiri. Kalau mampu, bahagiakan orang lain."

"Kamu?"

"Sedang berusaha bahagiakan kamu."

"Memang sudah cukup bahagia dengan diri sendiri?"

"Sudah. Kalau di sampingmu."

It hurts


"Astagaaaaa, Naaaaai.." Aster, sahabatku masuk dan menampilkan ekspresi seolah-olah aku sudah berubah jadi mahluk luar angkasa. Kantong kertas berwarna coklat berisi bahan makanan langsung diletakannya di meja dapur.

Aku diam. Menyipitkan mata karena Aster membuka semua tirai di kamarku. Matahari sudah dua minggu ini tak kubiarkan masuk. Kilaunya mengganggu, aku mau tidur seharian. "Ter, please just let me be alone for a while."

"It's been a month, Nai." suara Aster terdengar gelisah. "Lo nggak ngantor sebulan, inget?"

Aku meringis, "I have sent my resignment letter."

Aster sekarang menyingkirkan bekas bekas makanan di meja kecil sebelah tempat tidurku. Aku sendiri lupa sejak kapan sampah mulai menumpuk, "I told Dennis not to take it seriosly." kini Aster menyebut nama tunangannya yang juga bosku.

"Ter! Business is business. Gue nggak mau bikin tunangan lo rugi."

"Dia pasti lebih milih rugi daripada gue putusin." ujar Aster serius. Sekarang dirinya beranjak dan duduk di atas kasur, denganku. "What happened to you?"

Aku memeluk bantal, erat. Malamnya benda itu biasa merahasiakan isak yang sering membuatku sulit bernapas. "Nothing."

"I don't know. You kept a lot of things from me. Kalau mau cerita, gue disini ya Nai. Gue isi kulkas lo ya, jangan nggak makan. Lo bisa sakit, Nai."

Aku tersenyum, "I lost someone recently. So yes, it hurts."

"You lost him? Or he left you?"

"It was my loss." Dadaku sesak, seperti serombongan udara berebut masuk dan keluar di saat bersamaan. "I should've told him."

"If he matters to you?" Aster mengusap punggungku perlahan. Aku menarik napas, panjang. "Nai, a goodbye makes us learn. It hurts but you take something from it, at least."

Mataku panas, jadwal menangisku biasanya tak datang secepat ini. "It hurts, Ter."

"It does. What doesn't kill you make you stronger, eh?"

"But it is killing me. Every single breath."

Jumat, 07 Agustus 2015

Sahabatmu


"Sudah makan, Re?" tanya Anan yang sedang berdiri di dapur. Aku tak menjawab, mataku menyusuri baris-baris iklan tempat tinggal di layar komputer. Aku harus secepatnya menemukan flat yang bisa disewa supaya berhenti menyusahkan Anan.

Namaku Rea, aku baru patah hati. Tapi bukan itu yang menyusahkan, dua tahun ini aku tinggal dengan si brengsek itu. Begitu kami--ralat--aku memutuskan untuk menyudahi hubungan kami, aku harus mencari tempat tinggal baru. Kalau saja aku tahu Dio akan menjadikan kamar kami untuk bercinta dengan sekretarisnya, aku tentu sudah bersiap-siap lebih awal.

Anan menyodorkan sosis panggang dan telur mata sapi, hangat--baru dimasak. "Maaf cuma ada makanan seadanya. Aku jarang makan di rumah, kamu kan tahu pola kerjaku."

"Aku yang minta maaf. Secepatnya aku akan mencari tempat tinggal."

Sambil menyalakan televisi, Anan berujar, "Kamu boleh tinggal disini, Re. Ada satu kamar kosong yang biasanya hanya ditempati ibuku kalau beliau datang."

"Kalau nanti ibumu datang?" aku mengernyit heran, ibuku sendiri bisa sakit jantung kalau tahu anak perempuannya tinggal serumah dengan lelaki.

Tawa renyah Anan terdengar, "Ibuku kuliah di luar negeri, bertahun kerja dan tinggal di sana. Kalau beliau datang, paling mengira kamu adalah pasanganku dan aku tinggal menjelaskan padanya bahwa kamu sahabatku."

"Lalu pasanganmu?" aku memancing, siapa tahu Anan tergerak untuk bercerita. Soal yang satu ini dia tertutup sekali, bahkan setelah aku membagi banyak cerita hubunganku yang gagal sebelumnya.

Anan menoleh, "Belum berencana untuk punya. Kalau toh ada, dia tentu harus bisa menerimamu."

Sekarang giliran aku tertawa, Anan boleh berbangga dirinya jenius soal tata kota--tapi soal perempuan kemampuan kognisinya payah sekali. "Kamu berharap pasanganmu bisa menerima bahwa kamu tinggal serumah dengan perempuan? Apa kamu bisa menerima kalau dia tinggal serumah dengan laki-laki?"

"Tidak. Aku akan memintanya berakhir dengan laki-laki itu."

"Lalu aku?"

"Aku sudah pernah memintamu berakhir denganku, Re."

"Tapi, An.. Bukankah kita sahabat?"

"..."
 

Template by Best Web Hosting