Kamis, 28 April 2016

Salam Putri Malam


Perkenalkan, Tuan, aku Putri Malam.
Hidupku berkutat pada gelap dan bayang. Terang duniaku hanya pinjaman surya.
Salam kenal.

Tubuhku penuh luka, semua orang di duniaku bertaring dan cakar. Kalau kau bertemu mereka, kuharap kau selamat. Perkaranya, taring dan cakar tak mereka perlihatkan segera. Pastikan untuk selalu membawa cermin agar kamu tahu apa yang ada di belakang.

Senyum manis hanya bualan belaka. Di duniaku, kebanyakan senyum adalah sinis. Sisanya miris sambil menelan lara. Maaf Tuan, jangan banyak tersenyum karena bagiku itu mengganggu.

Gelapku tak ramah, Tuan. Kalau kau tak siap lebih baik menghindar sigap. Nikmati cahayamu saja. Kudengar surya hangat dan bersahabat. Pakai mentelmu, dingin duniaku merasuk sampai sumsum tulang belakang.

Tuan, selamat datang. Mereka yang menyapa tak semua bisa dipercaya. Jika mereka bertanya nama, bilang saja kalau kau bukan siapa-siapa. Kalau kau berguna, bisa dihisapnya darahmu tak bersisa.

Bagaimana kabar Negeri Cahaya, Tuan?
Kudengar warganya masih sama, tak percaya bahwa kebaikan hanya buatan. Semoga naif mereka tak berbuah bisa. Bisa itu pahit, Tuan. Sedangkan warga Negeri Cahaya tak tahan sakit.

Selamat datang, Tuan. Jangan lupa jalan pulang. Aku tak akan menuntun langkahmu lagi. Kalau esok pagi kau masih hidup, kabarkan pada warga Negeri Cahaya soal kenyataan.

..bahwa gelap itu ada.

Rabu, 27 April 2016

Titik Dua


Titik dua membutuhkan jeda di antara mereka supaya dapat dilanjutkan oleh rentetan informasi sesudahnya. Jeda membuat titik dua lebih berarti. Jeda memberikan hal lain kesempatan untuk ada.

Dua titik jika terlalu egois menyatu menjadi akhir. Selesai.

Dua titik jika beriringan terlalu dekat akan menimbulkan tanya. Ketidakjelasan akan pemberhentian. Harap-harap akan berlanjutnya sesuatu namun tanpa petunjuk waktu dan keberadaan.

Katamu, ketiadaan jarak egois namanya. Katamu, jeda adalah cara kita mensyukuri pertemuan. Katamu, syukur artinya berbagi kesempatan. Aku mengiyakan dengan khidmat. Ada masanya di mana perkataanmu kuaminkan tanpa proses berpikir panjang.

Sayangnya, kamu hanya tak pernah menyebutkan bahwa syukur yang dimaksud adalah berbagi hadirmu.

..dengan perempuan sebelum aku, atau setelah-setelahnya.

Minggu, 17 April 2016

(bukan) Milikmu


"Bunga-bunga ini milikmu?!" tanyaku sambil terengah mengatur napas. Entahlah, padahal aku tidak berlari ke sini--mungkin marah. Di tanganku tergenggam seikat bunga.

Kamu mengangkat kepala, mengalihkan pandang dari layarmu. Suasana co-working space ini mendadak sunyi, dengan perhatian banyak orang memusat ke kita berdua. Kamu memberi sinyal agak kita membawa percakapan ini ke luar.

...

"Ada apa tiba-tiba datang?" tanyamu sambil mengusap bagian belakang kepala, salah tingkah tiba-tiba kutemui di tempat ramai.

Aku mendengus, "Bunga-bunga ini milikmu?!" tak merasa berkewajiban menjawab, kuulang pertanyaan. Kali ini lebih ketus.

"Kalau itu milikku, kenapa ada di tanganmu?" kamu menjawab tenang, dengan senyum di ujung bibir.

"Anggara, aku tidak punya waktu. Kamu tahu maksud pertanyaanku."

Kini tanganmu bersedekap di depan dada, gesturmu kalau sedang siap melontarkan kalimat-kalimat yang membuat kita berdebat panjang. "Aku tidak akan membuang waktu menebak, Seruni. Kita berdua tahu itu tidak akan berhasil padamu. Setahun menebakmu melelahkan bagiku. Kalau ada yang mau kamu katakan, katakan dengan jelas."

Baiklah, kalau kamu sudah mengungkit perkara setahun kita bersama--ini perang namanya. Kuhempaskan seikat bunga ke dadamu, mereka langsung jatuh berserakan. "Apa kamu yang mengirimkan bunga-bunga ini?"

"Tidak. Aku hanya memesannya. Kurir florist yang mengirimkan padamu." katamu setenang biasa, seolah tidak terkejut dengan reaksiku barusan. "Kamu boleh membuangnya sejak menerimanya pertama kali. Tidak perlu melakukannya di depanku."

..dan kehilangan kesempatan menyakitimu? Kamu mimpi saja, Anggara.

Anggara meneruskan kalimat, masih dengan ketenangan yang sulit sekali hilang dari nada suaranya. "Kamu tahu hal begini tidak akan menyakiti aku, kan? Ini malah, mungkin.. Menyakitimu."

Tawaku mengambang di udara, terpaksa. "Aku? Bukan bunga-bunga dariku yang terbuang sia-sia."

"Reaksimu sudah kuperhitungkan. Seruni, bunga-bunga itu membawamu datang padaku. Bunga-bunga itu membuatku melihatmu kembali."

..dan mereka membuatku menemui kamu sekali lagi.

"Jangan lagi mengirimi aku bunga." aku berucap lirih sembari menunduk, seperti kehabisan energi untuk terus marah di depan Anggara. Mataku mengembun. Brengsek, tidak akan aku biarkan Anggara melihatku menangis di sini.

"Tidak akan." balas Anggara pelan.

Aku melangkah pergi dengan hati remuk sekali lagi.
Pedih sekali bukan, saat kita mengira kita sudah terlepas dari bayang-bayang seseorang. Namun ternyata sekeping kehadirannya saja bisa melukai kita berkali-kali.

Selasa, 12 April 2016

Dua Puluh Tiga


Kamu mengucap selamat saat tengah malam tepat.
Diawali permintaan maaf bahwa kamu tak bisa menyusun kata seperti aku.

Seandainya kamu tahu, aku sungguh hilang percaya pada laki-laki yang mahir menulis cerita. Penyair terlalu berbahaya, di lidahnya bisa tergantung dusta. Pada tangan-tangannya banyak remah remuk hati perempuan.

Sayang, kamu tak perlu menyusun kata terlalu banyak. Kamu sudah dan akan selalu menghujani aku dengan cinta tiap kali kamu mendekap. Kamu sudah dan akan selalu jadi tempat pulang dan mengeluh pertama kali kalau aku dihantam ketidakadilan dunia.

Tahun ini, kuhilangkan ekspektasi memelukmu semalaman.

Memang benar adanya, menghilangkan ekspektasi adalah hal yang paling benar dilakukan demi memangkas sakit hati.



..juga melipatgandakan kebahagiaan :)

Kamis, 07 April 2016

Perjalanan

Kita tidak sedang memenuhi ekspektasi siapa-siapa. Baik milikmu terhadapku, atau pun sebaliknya. Perjalanan yang ini, kita memang belum menentukan tujuannya. Tapi kita berjanji akan menikmati tiap langkahnya.

..karena bagiku, ikatan menyesakkan.

..sedang bagimu, keikhlasan adalah yang paling utama.

Mari bergandeng tangan, akan kutunjukkan padamu jalannya.

Rabu, 06 April 2016

Usai makan malam


"Aku tidak suka diragukan." ujarmu sambil lalu, kala aku sedang membersihkan meja usai makan malam kita. Ini sudah jadi ciri khasmu, kalau membahas sesuatu yang tidak menyenangkan. Kamu akan pergi menjauh, tak pernah tepat membicarakannya di depan mataku.

Aku meneguk sisa wine di gelasmu, takut kalau gelasnya kubawa malah mengotori karpet rumah yang baru kemarin kuambil dari binatu.

Suara televisi mengisi ruangan, kamu duduk di sofa masih dengan muka tegang. "Ini bukan pertama kalinya kamu meragukanku, khususnya di topik ini." lanjutmu lagi sembari memandang lurus ke nyala televisi.

Sambil menyusun alat makan di dalam mesin pencuci piring, aku menghela napas. Baiklah, diskusi dengan cara aneh ini ternyata benar-benar kamu lanjutkan. Dengan maaf di ujung lidah, aku melangkahkan kaki ke ruang tengah. Tempat kamu berada.

"Aku minta maaf." ucapku. "Aku minta maaf sudah meragukanmu. Tapi untuk sampai ke sini, di titik ini, aku sudah banyak sekali belajar. Dan aku tidak berhenti. Percayalah, bukan mudah buatku belajar memercayai orang lain. Penjelasan barusan bukan pembelaan diri. Aku mengaku salah dan tetap meminta maaf."

Perlahan namun pasti, senyummu melengkung. "Dimaafkan. Jangan terlalu serius, nanti krim anti aging-mu menjadi sia-sia."

"Blah. Terserahmu." tukasku sambil berbalik, hendak menyiapkan sepiring pisang goreng untukmu. Malam ini ada pertandingan sepak bola, artinya kamu akan duduk manis sambil sesekali memaki. Sembari kamu menonton, aku bisa tenang menulis di ruang kerja.

Kita memang seunik itu.
Saling butuh untuk tidak bersama-sama, bahkan setelah memutuskan untuk bersama.
 

Template by Best Web Hosting