Rabu, 10 Agustus 2016

Pergi Sekarang


Sepi terhidang di atas meja, melumuri dinding-dinding ruangan, menyala turut serta cahaya lampu gantung yang kekuningan. Malaka duduk menggenggam pisau dan garpu, di depan kekasihnya--Via.

Berbeda dengan suasana saat ini, masing-masing mereka ribut sendiri dengan degup jantung masing-masing. Baru beberapa menit lalu sunyi menang. Sebelumnya, seperti pasangan kebanyakan, mereka duduk dengan obrolan ringan yang hangat.

Sampai Via memulai sebuah percakapan.

...

"Mal, kalau suatu hari aku meninggalkanmu.." kalimatnya berjeda di situ, derit aduan pisau dan piring Malaka terhenti. "..tolong percayai aku bahwa aku melakukannya untuk kebaikanmu, ya?"

Malaka mengiris daging di depannya, berusaha agar tidak reaktif dengan pernyataan barusan. "Mengapa?"

Ditanya begitu, kedua tangan Via yang sudah tak lagi menyentuh alat makan saling meremas. Bingung. "Pokoknya percaya saja. Ini bukan suatu yang bisa kamu pertanyakan."

"Lantas, mengapa tidak pergi sekarang saja?" lanjut Malaka dengan ekspresi tenang yang palsu. Dikunyahnya daging perlahan meski perutnya sudah tak berselera makan. Kadang Via memang begini menyebalkan. Lihat sekarang, perempuan itu menggigit bibirnya sendiri, bola matanya lari sana-sini seperti jawaban pertanyaan baginya ada di suatu tempat di ruangan itu.

Sunyi mengetuk, menjalar pelan namun tak berhenti.

...

Kenapa aku tidak meninggalkan Malaka sekarang saja?
Pertanyaan brilian. Kenapa juga tak pernah kupikirkan meninggalkannya sekarang?

...

Nyeri.
Ada ngilu merayap di dada Via. Pita suaranya macet.
Banyak kalimat di kepalanya melebur jadi makna yang tak bisa lagi disusun sebagai kata-kata. Via hilang fungsi berpikir, hanya bisa merasa.

...

Kamu tidak bisa seenaknya datang dan pergi dalam hidup orang lain, Via. Aku tidak sembarang membuka hati. Kamu tidak kuizinkan mengobrak-abrik ruang hatiku lalu pergi begitu saja.

...

Malaka meneruskan makannya hanya supaya tak tergoda terus menanyai Via yang kini membisu di ujung meja. Tak ada gunanya juga, Via tak akan menjawab saat sedang begini. Diamnya membuat Malaka semakin frustasi.

...

..karena Malaka bukan sembarang orang. Tidak setiap hari aku jatuh cinta sampai tolol begini. Tidak selalu kutemukan orang yang ketidakhadirannya membuat hariku serasa kosong. Sial kamu, Malaka. Kamu pasti sudah tahu aku tak akan mampu meninggalkanmu sekarang. Tidak saat aku tengah cinta-cintanya.

...

"Vi?" Malaka angkat suara, makanannya habis sudah. Via boleh meneruskan diamnya di mobil sepanjang perjalanan pulang nanti. Sekarang Via harus pulang, angin malam bisa membuatnya tidak enak badan esok hari. "Kita pulang, yuk?"

Via mengangguk. Berdiri dan mengikuti langkah kaki Malaka. Tidak ada rangkul dan gandeng tangan seperti saat mereka datang.

...

Aku ingin menggenggam tanganmu, Vi. Namun aku mengerti jika kamu sedang ingin sendiri, menelaah pikiran-pikiran dalam kepala di dunia yang hanya kamu tahu letaknya dalam kepalamu.

...

Kenapa tidak menggandeng aku, Malaka? Sesiap itukah kamu kutinggalkan? Bahkan saat aku masih tak terbayang sakitnya padahal baru memikirkan kemungkinan.

Selasa, 09 Agustus 2016

Jelas


Drian membuka kunci flat kekasihnya dengan gusar. Di sofa sosok asing berdiri terkejut, lalu melemparkan senyum ramah. "Nina masih di kamar mandi."

Penjelasan singkat yang tak ditanggapi Drian. Secepatnya dia ingin bertemu Nina. Pintu kamar mandi terbuka, Nina keluar masih dengan baju yang menurut tebakan Drian adalah baju yang sama yang dipakainya semalam. "Kamu baik-baik saja?"

Nina diam, lalu menoleh pada sosok yang tadi menyambut kedatangan Drian. "Lex, I am fine. You can go now."

Beberapa menit kemudian, tersisa hanya Drian dan Nina. Juga sunyi yang nyalang menggema. Tak tahan, Nina angkat bicara. "Mau diam sampai kapan? Kamu datang untuk diam?"

Nafas Drian terhela satu-satu, gusar. "Kenapa tidak menghubungi aku?"

"Bukannya kita belum saling menghubungi sejak bertengkar tiga hari lalu?"

Drian menukas tak sabar dengan kekesalan yang kentara jelas, "Tapi kamu pulang dalam keadaan mabuk semalam."

"Lalu?"

"Dan aku tidak akan pernah tahu itu kalau bartender barnya tidak memberi tahu aku, Na!" nada Drian naik setengah oktaf. Terjawab kenapa berita ini sampai ke telinga Drian, Nina lupa kalau teman pacarnya itu bekerja di bar yang ia datangi  semalam. Terkejut sesaat namun Nina segera menguasai dirinya. "Kamu pikir, kalau ada yang terjadi padamu, apa yang akan aku lakukan?" lanjut Drian dengan sabar yang dikumpulkan perlahan.

Nina bersedekap, enggan bergerak. Ruangan terasa dingin sekali terbalut sikap Drian. "Kita sedang bertengkar waktu itu." ulang Nina.

"Kamu pikir aku berhenti menjaga dan memedulikanmu saat kita bertengkar, Na? Iya?" Drian menghela napas, tak habis pikir dengan pola pikir perempuan di depannya. "Aku sayang kamu, Na. Berapa pun pertengkaran denganmu, itu tidak berubah."

"Alex temanku. Kami tidak melakukan apapun semalam."

Mendengar respon barusan, Drian bertanya-tanya sebenarnya ada apa dengan logika Nina? Apa sulit sekali memahami kalau bukan itu poin kekesalannya saat ini. Tak ingin makin gusar, Drian menoleh ke arah lain, membuang pandang ke dinding kaca flat Nina yang mengarah ke hamparan gedung pencakar langit di sekitar apartemen. "Ini bukan soal kepercayaanku, ini soal keselamatanmu. Cukup jelas bedanya, Na?"

Nina memeluk kekasihnya, hangat. Ada yang jelas dan terang baginya sekarang. 
 

Template by Best Web Hosting