Minggu, 12 Februari 2017

Menunggu(i)


Aku berlari-lari di sepanjang ruang tunggu. Ada secercah harapan bahwa masih akan ada kesempatan menemuimu meski tak banyak. Kamu akan menungguku kan? 

Kamu harus.

Di sana kamu, terlihat dari jarak cukup jauh karena lebih tinggi dari kerumunan orang.
Dengan messenger bag abu-abu dan kemeja putih polos. Aku tak ingin norak meneriakkan namamu dan mengundang perhatian orang banyak, tapi kaki-kakiku yang tak biasa berlari ini sudah mulai protes. Nyeri.

"ANAAAAN!" teriakku, menghabiskan energi tersisa memanggilmu. Berhasil, kamu menoleh. Tidak melambai seperti balasan adegan di film-film, kamu berjalan tenang ke arahku.

Aku masih mengatur napas saat kamu sudah di hadapan. Melemparkan pandang menyelidik, "Capek? Habis lari?"

"Sedikit." jawabku.
Bodoh. Tentu aku berlari demi menyusulmu. Pertanyaan macam apa itu?

"Kenapa?"

"Pesawatmu. Penerbangan internasional. Dua jam. Boarding." aku membalas terbata-bata dengan napas yang masih sesak.

"Bodoh." tanggapan singkat, membuat aku mendelik kesal. "Aku kan pasti menunggumu." lanjutmu dengan ekspresi datar, padahal paru-paruku barusan hampir meledak saat mendengarnya.

"Kalau begitu, kenapa pergi?" kulirik paspor dan tiket yang ada di genggaman tanganmu, cemburu.

"Aku bilang, aku akan menunggumu. Bukan menungguimu. Kalau kamu mau ikut, susul aku." balasmu kemudian, meninggalkan satu kecup di kening. "Aku menunggumu."

Tangisku pecah. Kurebahkan diri ke arahmu, menangis sekuatnya diredam bidang dada dan ditemani detakmu yang jelas bagiku. Satu persatu tanganmu terasa mendekap, tangisku belum mau berhenti. "Maafkan aku."

"Kenapa?" tanganmu kini mengusap-usap belakang kepalaku yang masih enggan melepaskan diri dari pelukan.

Di tengah sesenggukan, aku melanjutkan kalimat, "Aku.. tidak.. bilang.. aku.. tidak.. ingin.. kamu.. pergi.."

"Dan aku tidak ingin pergi. Tidak darimu."

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting