Jumat, 17 Februari 2017

Psychology of Popularity: Week 2

Pos ini merupakan lanjutan dari sini.

Setelah kelas minggu sebelumnya membahas tentang perkenalan apa itu popularitas, apa pentingnya, dan bagaimana popularitas bisa berpengaruh dalam hidup kita. Kelas minggu kedua membahas tentang bagaimana kita memelajari popularitas secara saintifik.

Sebenarnya ini isu yang cukup sering dibahas di dunia per-psikologi-an sih. Tiap kali mau membahas pembuatan alat ukur, mahasiswa psikologi pasti kenyang banget dengan pertanyaan, "Bagaimana kamu yakin kalau hal itu menggambarkan hal yang memang kamu mau ukur?"

Meskipun pertanyaannya tentang "yakin" tentu harus dijawab secara ilmiah, harus dapat dibuktikan, dan nggak boleh bawa-bawa ayat suci.


Selain membahas mengenai alternatif report method yang digunakan untuk mengumpulkan data, kelas juga mengenalkan lima kategori Sociometric Popularity. Lima kategori ini diambil berdasarkan area dalam diagram berdasarkan skor Social Impact dan Social Preference. Lima kategori tersebut adalah: Popular, Neglected, Rejected, Controversial, dan Average. 

Studi mengenai popularitas ternyata sudah dilakukan pukul 1983 oleh Coie & Kupersmidt. Mereka membentuk kelompok dari hasil permutasi anak sesuai kategori sociometric popularity dari sekolah yang berbeda-beda. Sehingga dalam tiap kelompok permainan terdapat anak-anak dengan sociometric popularity yang berbeda-beda namun tidak saling mengenal sebelumnya karena beda sekolah.

Setiap minggu, anak-anak ini diberikan waktu main selama satu jam. Setelah waktu main selesai, peneliti mengumpulkan data yang tujuannya melihat apakah kategori asal (di sekolah masing-masing) berkorelasi dengan kategori baru (di kelompok main eksperimen). Selama dua minggu penelitian dilakukan, peneliti tidak menemukan apapun. Ini artinya tidak ada korelasi yang jelas mengenai dua hal tersebut.

Tapi di minggu ketiga, peneliti menemukan bahwa ada kecenderungan anak kembali pada kategori asalnya. Anak yang populer di sekolah, juga menjadi anak yang populer di kelompok main eksperimen. Penelitian terus berjalan dan hal ini semakin kuat terlihat.

Dr. Mitch Prinstein menjelaskan ini sebagai jawaban dari kasus orang tua yang merasa anaknya mengalami kesulitan bergaul dan merasa perlu memindahkan anaknya ke sekolah baru. Menurut hasil penelitian Coie & Kupersmidt (1983), hal tersebut bukan penyelesaian yang efektif.


sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/young-woman-thinking-with-pen-while-working-studying-at-her-desk-6384/

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting