Selasa, 14 Februari 2017

Si Cengeng Pertama Kali ke Puskemas


Linimasa saya pernah ramai perkara berita sidak Pak Zumi Zola ke Rumah Sakit Umum Raden Mattaher.
*Bagi yang tidak mengetahui beritanya boleh cek di sini atau sini
Mungkin karena cukup banyak berteman dengan tenaga kerja medis, jadi pos yang bertebaran adalah pos yang sifatnya kontra dengan Pak Zumi Zola. Mulai dari yang protes soal kompensasi tenaga kerja medis yang tak sesuai dengan tuntutan kerjanya, curhat bagaimana lelahnya bekerja di rumah sakit, sampai yang isinya nggak santai dan marah-marah.

Sebagai orang yang skeptis terhadap kerja pemerintah (yes, I admit that), saya juga sering sekali menganggap aksi pejabat di depan kamera adalah ganjen belaka (bentar, itu skeptis apa suudzon?). 😆

Lalu hari ini saya mendapatkan pengalaman yang memberikan sudut pandang lain soal ngamuknya Zumi Zola.

Sebelumnya saya harus memberikan keterangan bahwa tulisan ini akan cukup panjang.

Berawal dari kepentingan untuk menunda jadwal menstruasi dan kebutuhan resep pil kontrasepsi, saya berniat pergi ke puskesmas yang terletak di belakang kompleks perumahan tempat saya tinggal. Kenapa ke puskesmas? Soalnya cuma tinggal jalan kaki 500 meter aja dari rumah.

Berhubung seumur hidup belum pernah mengonsumsi pil kontrasepsi, saya pikir saya butuh konsultasi terlebih dahulu. Saya bingung juga menentukan apakah akan konsultasi ke dokter umum atau bidan, kebetulan keduanya ada di puskesmas itu. Oke lah, saya makin mantap pergi ke puskesmas.

Kira-kira pukul 12.30 saya sampai di puskesmas. Ini juga adalah pengalaman pergi ke puskesmas pertama saya. Seperti kebanyakan orang yang akan melakukan sesuatu pertama kali, tentu saya antusias! Saya bahkan udah siap pamer ke media sosial!

Nggak deng. Becanda.

Ruang tunggu cukup penuh. Saya berdiri di meja registrasi dan bertanya, "Permisi, Mbak, kalau mau konsultasi pil KB (Keluarga Berencana) saya harus ke mana ya?"

"Ke Bidan." jawab penjaga meja registrasi. Tanpa senyum. Tanpa membalas sapaan.

Saya mulai merasa nggak enak, "Ngg.. kalau saya mau daftar untuk bidannya. Gimana ya caranya?"

"Bidannya lagi istirahat, Mbak. Datang lagi aja setengah dua."

"Oh. Kalau dokternya ada?"

"Lagi istirahat. Datang lagi aja setengah dua." jawab si penjaga ketus.


"Oke. Terima kasih." saya membalas sambil tersenyum. Kadang kesal juga dengan diri sendiri yang sering otomatis senyum dan bilang terima kasih nggak peduli sepayah apapun pelayanan yang diterima. Baru keinget mau ketus setelah selesai bilang terima kasih. Payah. 😔

Setelah makan siang di rumah. Saya kembali lagi ke puskesmas itu. Oh, tentu saya sudah mengatur ulang ekspektasi saya terhadap pelayanannya. Selain itu, saya sebenarnya tertantang juga untuk menguji kesabaran sendiri menghadapi pelayanan puskemasnya.

Antrean makin banyak. Sekarang petugas meja registrasinya ada tiga. Kebetulan yang sedang melayani pasien bukan Mbak yang tadi. Saya berdiri di belakang dua pasien lainnya.

Ternyata, kebanyakan pasien yang berobat di sana menggunakan jasa BPJS Kesehatan. Jadi ada proses memasukkan data ke laptop (yang saya nggak tahu pasti) sebelum menyetujui/membolehkan pemegang kartu berobat di sana. Tiga petugas registrasi, satu yang menginput. Dua orang duduk di meja yang sama. Iya, mereka duduk doang nggak ngapa-ngapain.

Saat tiba giliran saya, hal pertama yang ditanyakan petugas registrasi adalah kartu BPJS. Kartu yang saya nggak pernah bawa di dalam dompet.

"Mbak, kartu BPJS-nya mana?"
"Saya nggak bawa, Mbak."
"Kalau nggak bawa nggak boleh berobat." ujar petugas registrasi sambil bersiap lanjut melayani orang di belakang saya.
Saya menukas, "Kalau bayar, nggak boleh juga berobat di sini, Mbak?"
"Oh, boleh."

Lalu saya ditanya mau konsultasi dengan siapa dan diminta menunggu bersama pasien lain di ruang tunggu. Tak sampai lima menit, saya diajak seorang perempuan muda ke ruangan konsultasi. Saya pikir perempuan muda tadi suster jaga (atau suster apa lah), ternyata dia bidannya :')

..dari penampilannya, umurnya bahkan kelihatan lebih muda dari saya.

Begitu masuk ke ruangan yang sepertinya jarang digunakan (karena ada rak rak yang tidak pada tempatnya dan pendingin ruangan baru dinyalakan saat kami masuk), beberapa menit pertama digunakan Mbak Bidannya membereskan ruangan dulu.

Lalu tiba saat saya berkonsultasi. Hasil konsultasinya adalah: "Wah kalau ngasi obat buat nunda haid saya nggak bisa, Mbak. Mendingan langsung ke dokter kandungan aja. Buat nentuin apa obatnya."

..baiklah. Saya nggak dongkol sama sekali sih, soalnya bidannya ramah (atau lugu, tepatnya). Kalau memang dia nggak bisa memberikan layanan yang saya butuhkan, ya sudah.

"Biaya konsultasinya saya harus selesaikan di mana ya, Mbak?" tanya saya mengeluarkan dompet dari tas usai konsultasi.

Mbak Bidan menggeleng, "Nggak Mbak, nggak usah. Nggak usah bayar."

Wah, konsul nggak usah bayar? Di rumah sakit langganan saya ngobrol sebentar begini sudah pasti kena charge sekitar 200 ribu untuk dokter umum. Di sini gratis.

Di hari yang sama, saya pergi ke dokter spesialis ginekologi di rumah sakit langganan saya. Saya bilang langganan karena sudah empat kali rawat inap, entah berapa kali menggunakan layanan rawat jalan serta UGDnya dan saya selalu puas dengan pelayanannya.

Di pintu rumah sakit, saya disapa oleh seorang pegawai rumah sakit yang tugasnya memang menyambut pengunjung. Saat saya datang, meja informasi memang kebetulan sedang kosong. Saya berdiri di depan meja, menunggu petugas.

Tak sampai satu menit. Serius, tak sampai satu menit, pegawai yang tadi menyambut saya di pintu datang menghampiri. "Selamat sore, Bu. Maaf apakah ada yang bisa saya bantu?" katanya ramah, tak lupa tersenyum.

Saya kemudian mengatakan apa urusan saya dan dokter mana yang saya tuju. Mas penyambut mengantar saya ke petugas pendaftaran. Soal daftar mendaftar ini selesai tak sampai lima menit.

Sebelum masuk ke ruang konsultasi, saya lebih dulu melapor pada suster jaga di poli yang saya tuju. Suster pula yang bertugas menanyakan urusan saya, mencatat berat badan dan tekanan darah. Hal ini dilakukan guna memberikan keterangan awal pada dokternya. Pertanyaan seperti: "Tadi hujan nggak, Bu, saat ke sini?" dan basa-basi, "Iya, akhir-akhir ini hujan terus ya, Bu." juga melengkapi sesi pra-konsultasi dengan dokter ini.

Biasanya saya tidak terlalu menganggap penting sapaan dan basa-basi suster. Tapi berhubung tadi siang baru merasakan pelayanan di puskesmas, saya jadi mensyukuri sekali kesempatan saya menerima basa-basi yang menyenangkan ini.

Lanjutan ceritanya juga sudah bisa ditebak lah ya. Dokter yang ramah dan menyenangkan, sesekali bercanda agar saya tak terlalu tegang ditanya-tanya mengenai hal-hal yang sifatnya pribadi di ruang periksa.

Saking membekasnya kejadian hari ini, saya sampai cerita panjang lebar ke salah satu teman saya. Lalu jawaban dia membuat saya diam dengan mata berkaca-kaca, "Ya, kamu kan punya pilihan. Mereka yang di puskesmas tadi mungkin nggak bisa bayar segitu cuma sekedar ngobrol sebentar sama dokter dan tebus obat. Jadi diperlakukan nyebelin begitu, diterima aja."

Bisa jadi saya cuma cengeng dan sensitif aja, dijawab ketus oleh petugas registrasi puskesmas tapi dongkolnya nggak ilang-ilang. Tapi coba bayangkan kalau kamu sedang sakit dan nggak punya pilihan tempat berobat. Lalu harus menghadapi petugas puskesmas/rumah sakit semacam itu.

..dan silakan liat berita yang masih terkait dengan Zumi Zola di sini.

Gimana?

0 comments:

 

Template by Best Web Hosting