Sabtu, 25 Februari 2017

"Happy?"

Baru saja melihat video di Instagram, seorang selebgram menghadiahi istrinya sebuah MacBook Pro yang baru. Itu lho, MacBook yang ada Touch Bar-nya. Bukan, pos ini bukan membahas spesifikasi MacBook yang baru. Saat video hampir berakhir, sebuah pertanyaan tertangkap telinga saya.

Pertanyaan yang ditanyakan oleh si pemberi hadiah ke istrinya, "Happy?"

Lalu istrinya menjawab dengan senyum sumringah, "Happy!"


Pertanyaan yang paling melekat di kepala saya sejak kecil seusai menerima hadiah adalah, "Bilang apa dong?" yang kemudian saya jawab dengan, "Terima kasih." sambil tersenyum manis. Mungkin didikan tersebut memang tepat, pada saatnya. Namanya juga anak kecil, harus berulang kali diingatkan agar bisa menginternalisasi perilaku jadi kebiasaan.

Lalu suatu hari eks-pasangan saya menghadiahi saya sesuatu. Meskipun lupa hadiahnya apa, saya seeeenang sekali. Saya buka bungkus plastiknya perlahan karena takut dusnya rusak. Lalu dia bertanya, "Senang?"

Saya menghentikan aktivitas, "Eh. Maaf aku lupa. Thank you." ujar saya malu, merasa ditegur karena lupa berterima kasih.

Laki-laki di depan saya ini dahinya lantas berkerut, bingung. Namun kemudian mengerti maksud saya. Kecerdasannya sering berguna untuk mendeduksi pola perilaku saya yang sepertinya tampil berulang kali. "Aku nggak menyindir. Aku bertanya. Kamu senang dengan hadiahnya?"

"Senang. Senaaaang sekali."

"Good. Soalnya kuberikan bukan supaya kamu berterima kasih padaku, Dear. Aku memberimu hadiah supaya kamu senang."

Lagi-lagi saya tersenyum. Dipikir-pikir benar juga ya, tujuan memberi hadiah kan supaya menyenangkan penerimanya. Maksudnya hadiah-hadiah yang tulus bagi orang terdekat, bukan hadiah normatif yang dipesan semata demi beramah-ramah dengan kolega. Kalau penerimanya sudah senang, tercapailah maksud kita memberikan hadiah.

Lain kali memberi hadiah, saya juga mau tanya hal yang sama, ah!

"Senang?"


Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/sunset-girl-women-photography-17694/

Psychology of Popularity: Week 4

Pos ini lanjutan dari sini

Akhirnya rasa malas melanda juga dalam menyelesaikan materi minggu ini :')

Masih dengan topik yang sama seperti minggu lalu, minggu ini Dr. Mitch Prinstein membahas tentang mengapa ada orang-orang yang lebih populer dibandingkan orang-orang pada umumnya.


Saya merasa harus memberikan disclaimer (lagi) nih soal definisi populer yang dimaksud. Sampai sekarang, definisi populer adalah social preference ya, BUKAN social impact. Buang jauh-jauh contoh kepopuleran selebgram yang panen haters :))


Materi minggu ini membahas facial attractiveness, body attractiveness, intelligence, dan parent-family factor dalam memprediksi popularitas individu. Di antara keempat prediktor itu, saya paling tertarik dengan parent-family factor. Tiga lainnya sudah pernah saya baca sebelumnya di kesempatan lain.

Pertanyaan paling dasar yang muncul selama kelas berlangsung adalah, "Apakah orang tua dengan kemampuan sosial (social skill) yang baik punya anak dengan kemampuan sosial yang baik juga?"

Menurut beberapa penelitian sih iya, nggak tau kalau menurut Mas Anang (krik).

Martha Putallaz (1987) yang melakukan penelitian tentang popularitas menggunakan anak-anak sebagai subjeknya menemukan hal menarik. Berbekal observasi pada interaksi para ibu di ruang tunggu, Martha bisa memprediksi popularitas anak yang terlibat dalam penelitian.

Ibu yang masuk dalam kategori populer cenderung memiliki anak dengan kategori yang sama. Hal ini terjadi karena kompetensi sosial orang tua memberikan pengaruh pada perilaku sosial anak. Orang tua dengan kemampuan sosial yang baik dapat memberikan wawasan tentang bagaimana anak sebaiknya menjalin pertemanan dengan sebayanya. Tidak hanya itu, orang tua dengan kemampuan sosial yang baik mampu untuk memberikan instruksi dan contoh yang mendukung proses pembelajaran anak.

Trus gimana dong nasib ibu yang nggak populer?

Dr. Mitch Prinstein menjelaskannya melalui penelitian dengan konsep social frame. Para ibu ditanya mengenai pengalamannya saat kanak-kanak, bagaimana mereka menilai diri mereka di antara sebayanya.

Jawaban yang didapatkan dikodekan menjadi tiga kategori: social frame positif, social frame negatif, dan anxious social frame. Ibu dengan social frame positif memang cenderung memiliki anak yang populer. 

Namun ternyata, ibu dengan social frame negatif dan anxious tidak selalu "ditakdirkan" memiliki anak yang "rejected" di pergaulan sebayanya. Pengalaman masa lalu yang tidak baik dapat menjadi motivasi para ibu agar anaknya tidak mengalami hal serupa. Akhirnya ibu-ibu yang termotivasi ini memberikan usaha ekstra untuk mendukung pergaulan anak-anaknya (misalnya dengan membantu anaknya meresolusi konflik yang terjadi dengan temannya).

Hasilnya, anak-anak ini bisa juga disukai teman-temannya meskipun dibesarkan oleh ibu yang dulu nggak populer amat. Keren ya?


Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/people-mother-daughter-silly-25410/

Minggu, 19 Februari 2017

Psychology of Popularity: Week 3

Pos ini lanjutan dari sini.

Berakhirnya penjelasan mengenai metoda saintifik dalam melakukan studi tentang popularitas membuat saya lega. I am not really good in formula and numbers and I really adore ones who do :*

Bahasan minggu ketiga adalaaaaaaah tentang kenapa ada orang-orang yang lebih populer dibandingkan orang-orang pada umumnya.


Sebelum memulai kelas, Dr. Mitch Prinstein menjelaskan dulu apa yang dimaksud "populer" dalam kelas kali ini. Minggu sebelumnya sudah dibahas beda antara social preference dan social impact. Nah, definisi populer yang digunakan adalah yang social preference alias seberapa orang disukai oleh lingkungannya. Itu artinya kita nggak (atau belum?) ngomongin jenis populer seperti Awkarin atau Donald Trump yang banyak hatersnya.

Penelitian tentang popularitas yang dibahas menggunakan anak-anak sebagai subjeknya. Masih ingat lima kategori sociometric popularity? Nah, di penelitian ini juga masih menggunakan pembeda sesuai lima kategori itu.

Dari keseluruhan indikator perilaku yang diukur, ada beberapa yang menarik perhatian saya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di antara lima kategori yang ada, rejected kids adalah anak yang paling banyak melakukan inisiasi permainan dalam kelompok. Bahasa gampangnya sih, mereka paling sering ngajak main temennya.

Tapi rejected kids juga yang pada akhirnya paling sedikit diajak main oleh anak lain dalam kelompok.

Hal ini berbeda dengan data yang didapatkan dari popular kids. Anak dengan kategori ini tidak banyak menginisiasi permainan dalam kelompok, namun berakhir diajak main paling sering.

Lalu Dr. Mitch Prinstein mengajukan pertanyaan: "What did rejected kids do wrong?" yang akhirnya dia jawab sendiri. Yaiyalah, emangnya nonton Dora pake teriakin jawaban segala. 🙄

Anak-anak yang ada di kategori rejected biasanya tidak bisa "read the room" dengan baik. Contohnya gini, kalau anak lain sukanya main Lego, nah si anak ini ngajakinnya mewarnai. Kan nggak nyambung. Inget pernah punya temen kayak gini nggak sih zaman TK dulu?

Selain itu, rejected kids biasanya agresif. Agresif di sini bukan berarti mereka cenderung menjambak atau memukul, ya. Tapi saat mengajak, mereka bisa jadi seperti memaksa. Pada akhirnya nggak ada (atau sedikit) yang mau main sama mereka.

Selain menjabarkan hasil penelitian Dodge (1983) pada anak-anak, Dr. Mitch Prinstein juga menambahkan kalau hal lain yang menentukan populer atau tidaknya seseorang adalah norma sosial yang berlaku.


Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/child-holding-unicorn-toy-6191/

Sabtu, 18 Februari 2017

Tepat Sebelum Es Serutku Habis


Aku menyendokkan es serut ke mulut cepat-cepat. Sesekali menuangkan cairan sirup yang diberikan terpisah, juga memilah beberapa potong buah manis yang ada di puncak gunungan esnya.

Kamu tersenyum, "Gini, dong."

Suaramu menginterupsi. Aku menghentikan kegiatan dan menatap lurus, tak mengerti. "Apa?"

"Jangan nangis."

Aku tersenyum kecut. Mengingat sekitar sejam lalu aku masuk ke mobilmu sesenggukan. Pertanyaan, "Kenapa, Sayang?" kujawab dengan tangis lebih keras dan penjelasan terbata-bata. Sebenarnya aku tak yakin kamu mendengar jelas permasalahan yang kuutarakan, tapi sesekali kamu mengangguk, menyetir mobil perlahan menyusuri jalan-jalan sepi di komplek perumahan.

Kita tak punya tujuan. Kita tidak sedang menuju kemana-mana.

Saat airmataku surut, baru kamu kembali bertanya, "Mau makan es krim?" yang dilanjutkan dengan, "Mau es krim apa? Ingat tempat es serut yang waktu itu kita makan? Mau makan di sana, nggak?"

Lalu aku mengangguk. Ini musim hujan, hampir tiap malam hujan turun deras, menyisakan jalanan basah pagi-pagi. Tapi, siapa juga di antara kita yang peduli, kan?

Makan es krim di musim hujan tak ada apa-apanya dibanding hal nyeleneh lain yang pernah kita lalui dan lakukan. Saat itu tentang aku dan kamu, segala aturan dan urusan menjadi tak signifikan.

"Hey, Cantik!" ucapmu sembari merapikan rambut ke belakang telingaku, khawatir jatuh ke mangkok yang isinya kini mulai mencair.

Aku menyudahi lamunan. "Aku juga nggak mau sering menangis."

"Bagus." Ada cubitan kecil di daguku. "Tapi kalau cuma keinginan saja, tidak cukup. Izinkan banyak hal masuk ke hidupmu. Kurangi kadar kepentingan orang-orang yang lebih sering menyakiti ketimbang membahagiakan."

Mendengar kalimatmu, aku mengangguk lekas. "Tentu."

"Dan yang paling penting..."

"Ya?" Aku menoleh, menunda penyelesaian es serut di mangkokku.

"Berikan kesempatan bagi yang sungguh-sungguh mau membahagiakanmu."


Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/dessert-234717/

Jumat, 17 Februari 2017

Psychology of Popularity: Week 2

Pos ini merupakan lanjutan dari sini.

Setelah kelas minggu sebelumnya membahas tentang perkenalan apa itu popularitas, apa pentingnya, dan bagaimana popularitas bisa berpengaruh dalam hidup kita. Kelas minggu kedua membahas tentang bagaimana kita memelajari popularitas secara saintifik.

Sebenarnya ini isu yang cukup sering dibahas di dunia per-psikologi-an sih. Tiap kali mau membahas pembuatan alat ukur, mahasiswa psikologi pasti kenyang banget dengan pertanyaan, "Bagaimana kamu yakin kalau hal itu menggambarkan hal yang memang kamu mau ukur?"

Meskipun pertanyaannya tentang "yakin" tentu harus dijawab secara ilmiah, harus dapat dibuktikan, dan nggak boleh bawa-bawa ayat suci.


Selain membahas mengenai alternatif report method yang digunakan untuk mengumpulkan data, kelas juga mengenalkan lima kategori Sociometric Popularity. Lima kategori ini diambil berdasarkan area dalam diagram berdasarkan skor Social Impact dan Social Preference. Lima kategori tersebut adalah: Popular, Neglected, Rejected, Controversial, dan Average. 

Studi mengenai popularitas ternyata sudah dilakukan pukul 1983 oleh Coie & Kupersmidt. Mereka membentuk kelompok dari hasil permutasi anak sesuai kategori sociometric popularity dari sekolah yang berbeda-beda. Sehingga dalam tiap kelompok permainan terdapat anak-anak dengan sociometric popularity yang berbeda-beda namun tidak saling mengenal sebelumnya karena beda sekolah.

Setiap minggu, anak-anak ini diberikan waktu main selama satu jam. Setelah waktu main selesai, peneliti mengumpulkan data yang tujuannya melihat apakah kategori asal (di sekolah masing-masing) berkorelasi dengan kategori baru (di kelompok main eksperimen). Selama dua minggu penelitian dilakukan, peneliti tidak menemukan apapun. Ini artinya tidak ada korelasi yang jelas mengenai dua hal tersebut.

Tapi di minggu ketiga, peneliti menemukan bahwa ada kecenderungan anak kembali pada kategori asalnya. Anak yang populer di sekolah, juga menjadi anak yang populer di kelompok main eksperimen. Penelitian terus berjalan dan hal ini semakin kuat terlihat.

Dr. Mitch Prinstein menjelaskan ini sebagai jawaban dari kasus orang tua yang merasa anaknya mengalami kesulitan bergaul dan merasa perlu memindahkan anaknya ke sekolah baru. Menurut hasil penelitian Coie & Kupersmidt (1983), hal tersebut bukan penyelesaian yang efektif.


sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/young-woman-thinking-with-pen-while-working-studying-at-her-desk-6384/

Kamis, 16 Februari 2017

Psychology of Popularity: Week 1

Di waktu yang lumayan banyak luangnya karena belum menemukan pekerjaan baru, saya mengikuti salah satu kelas di coursera mengenai Psychology of Popularity.

Kenapa memilih kelas itu? Soalnya silabusnya menarik dan saya sedang banyak bertanya-tanya soal fenomena dalam konteks popularitas. Mulai awkarin, anya geraldine, sampai pilkada DKI, semuanya nggak lepas dari popularitas.


Disclaimer: Tulisan ini dibuat sebagai class summary dari course yang saya ikuti. Fungsinya hanya sebagai pengingat karena saya memang pelupa. Isinya bisa jadi hal-hal yang menarik bagi saya dan tidak utuh. Kalau mau wacana yang lengkap, silakan ikuti kelasnya sendiri ya.. 😉
Konsep popularitas ternyata sudah kita kenal sejak kita masih kanak-kanak. Meskipun nyatanya, orang-orang lebih sering mengasosiasikan popularitas dengan remaja. Mungkin karena individu pada fase hidup tersebut kebanyakan mendewakan popularitas. Bagi remaja, penting untuk mendapatkan ketenaran dan pengakuan sosial. Ada pandangan yang mengatakan, kecenderungan remaja untuk bergaul dengan sebayanya merupakan tahap persiapan menjadi dewasa dan mandiri.

Kehidupan orang dewasa juga tidak terlepas dari pengaruh popularitas. Pada kelasnya, Dr. Mitch Prinstein bahkan menganalogikan selebriti sebagai popular kids in adult highschool. Fenomena ini yang menjadi asal muasal munculnya celebrity endorser, semata karena orang dewasa menganggap penting tampilan, kegiatan, dan opini selebriti.

Pada kelas juga dibahas mengenai pendekatan evolusi terhadap popularitas. Popularitas yang dimaksud tidak terbatas pada popularitas individu saja namun juga popularitas pandangan atau isu tertentu. Saya juga jadi terpikir banyaknya sebaran hoax belakangan. Kecenderungan kita untuk percaya terhadap sesuatu yang dibagikan banyak orang (terlepas dari benar atau tidaknya) ternyata dapat dijelaskan dalam premis bahwa saat kita melihat banyak orang concern terhadap sesuatu, kita akan cenderung berpikir bahwa hal itu menarik dan penting. Dari sudut pandang evolusi, ini bisa jadi berasal dari pola hidup manusia awal yang berkelompok.

Secara sederhana, Dr. Mitch Prinstein mengatakannya, "Pull on the idea that it's popular and therefore that means it's good."


sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/woman-in-black-shirt-and-black-sunglasses-carried-by-shoulder-among-crowd-during-daytime-42391/

Selasa, 14 Februari 2017

Si Cengeng Pertama Kali ke Puskemas


Linimasa saya pernah ramai perkara berita sidak Pak Zumi Zola ke Rumah Sakit Umum Raden Mattaher.
*Bagi yang tidak mengetahui beritanya boleh cek di sini atau sini
Mungkin karena cukup banyak berteman dengan tenaga kerja medis, jadi pos yang bertebaran adalah pos yang sifatnya kontra dengan Pak Zumi Zola. Mulai dari yang protes soal kompensasi tenaga kerja medis yang tak sesuai dengan tuntutan kerjanya, curhat bagaimana lelahnya bekerja di rumah sakit, sampai yang isinya nggak santai dan marah-marah.

Sebagai orang yang skeptis terhadap kerja pemerintah (yes, I admit that), saya juga sering sekali menganggap aksi pejabat di depan kamera adalah ganjen belaka (bentar, itu skeptis apa suudzon?). 😆

Lalu hari ini saya mendapatkan pengalaman yang memberikan sudut pandang lain soal ngamuknya Zumi Zola.

Sebelumnya saya harus memberikan keterangan bahwa tulisan ini akan cukup panjang.

Berawal dari kepentingan untuk menunda jadwal menstruasi dan kebutuhan resep pil kontrasepsi, saya berniat pergi ke puskesmas yang terletak di belakang kompleks perumahan tempat saya tinggal. Kenapa ke puskesmas? Soalnya cuma tinggal jalan kaki 500 meter aja dari rumah.

Berhubung seumur hidup belum pernah mengonsumsi pil kontrasepsi, saya pikir saya butuh konsultasi terlebih dahulu. Saya bingung juga menentukan apakah akan konsultasi ke dokter umum atau bidan, kebetulan keduanya ada di puskesmas itu. Oke lah, saya makin mantap pergi ke puskesmas.

Kira-kira pukul 12.30 saya sampai di puskesmas. Ini juga adalah pengalaman pergi ke puskesmas pertama saya. Seperti kebanyakan orang yang akan melakukan sesuatu pertama kali, tentu saya antusias! Saya bahkan udah siap pamer ke media sosial!

Nggak deng. Becanda.

Ruang tunggu cukup penuh. Saya berdiri di meja registrasi dan bertanya, "Permisi, Mbak, kalau mau konsultasi pil KB (Keluarga Berencana) saya harus ke mana ya?"

"Ke Bidan." jawab penjaga meja registrasi. Tanpa senyum. Tanpa membalas sapaan.

Saya mulai merasa nggak enak, "Ngg.. kalau saya mau daftar untuk bidannya. Gimana ya caranya?"

"Bidannya lagi istirahat, Mbak. Datang lagi aja setengah dua."

"Oh. Kalau dokternya ada?"

"Lagi istirahat. Datang lagi aja setengah dua." jawab si penjaga ketus.


"Oke. Terima kasih." saya membalas sambil tersenyum. Kadang kesal juga dengan diri sendiri yang sering otomatis senyum dan bilang terima kasih nggak peduli sepayah apapun pelayanan yang diterima. Baru keinget mau ketus setelah selesai bilang terima kasih. Payah. 😔

Setelah makan siang di rumah. Saya kembali lagi ke puskesmas itu. Oh, tentu saya sudah mengatur ulang ekspektasi saya terhadap pelayanannya. Selain itu, saya sebenarnya tertantang juga untuk menguji kesabaran sendiri menghadapi pelayanan puskemasnya.

Antrean makin banyak. Sekarang petugas meja registrasinya ada tiga. Kebetulan yang sedang melayani pasien bukan Mbak yang tadi. Saya berdiri di belakang dua pasien lainnya.

Ternyata, kebanyakan pasien yang berobat di sana menggunakan jasa BPJS Kesehatan. Jadi ada proses memasukkan data ke laptop (yang saya nggak tahu pasti) sebelum menyetujui/membolehkan pemegang kartu berobat di sana. Tiga petugas registrasi, satu yang menginput. Dua orang duduk di meja yang sama. Iya, mereka duduk doang nggak ngapa-ngapain.

Saat tiba giliran saya, hal pertama yang ditanyakan petugas registrasi adalah kartu BPJS. Kartu yang saya nggak pernah bawa di dalam dompet.

"Mbak, kartu BPJS-nya mana?"
"Saya nggak bawa, Mbak."
"Kalau nggak bawa nggak boleh berobat." ujar petugas registrasi sambil bersiap lanjut melayani orang di belakang saya.
Saya menukas, "Kalau bayar, nggak boleh juga berobat di sini, Mbak?"
"Oh, boleh."

Lalu saya ditanya mau konsultasi dengan siapa dan diminta menunggu bersama pasien lain di ruang tunggu. Tak sampai lima menit, saya diajak seorang perempuan muda ke ruangan konsultasi. Saya pikir perempuan muda tadi suster jaga (atau suster apa lah), ternyata dia bidannya :')

..dari penampilannya, umurnya bahkan kelihatan lebih muda dari saya.

Begitu masuk ke ruangan yang sepertinya jarang digunakan (karena ada rak rak yang tidak pada tempatnya dan pendingin ruangan baru dinyalakan saat kami masuk), beberapa menit pertama digunakan Mbak Bidannya membereskan ruangan dulu.

Lalu tiba saat saya berkonsultasi. Hasil konsultasinya adalah: "Wah kalau ngasi obat buat nunda haid saya nggak bisa, Mbak. Mendingan langsung ke dokter kandungan aja. Buat nentuin apa obatnya."

..baiklah. Saya nggak dongkol sama sekali sih, soalnya bidannya ramah (atau lugu, tepatnya). Kalau memang dia nggak bisa memberikan layanan yang saya butuhkan, ya sudah.

"Biaya konsultasinya saya harus selesaikan di mana ya, Mbak?" tanya saya mengeluarkan dompet dari tas usai konsultasi.

Mbak Bidan menggeleng, "Nggak Mbak, nggak usah. Nggak usah bayar."

Wah, konsul nggak usah bayar? Di rumah sakit langganan saya ngobrol sebentar begini sudah pasti kena charge sekitar 200 ribu untuk dokter umum. Di sini gratis.

Di hari yang sama, saya pergi ke dokter spesialis ginekologi di rumah sakit langganan saya. Saya bilang langganan karena sudah empat kali rawat inap, entah berapa kali menggunakan layanan rawat jalan serta UGDnya dan saya selalu puas dengan pelayanannya.

Di pintu rumah sakit, saya disapa oleh seorang pegawai rumah sakit yang tugasnya memang menyambut pengunjung. Saat saya datang, meja informasi memang kebetulan sedang kosong. Saya berdiri di depan meja, menunggu petugas.

Tak sampai satu menit. Serius, tak sampai satu menit, pegawai yang tadi menyambut saya di pintu datang menghampiri. "Selamat sore, Bu. Maaf apakah ada yang bisa saya bantu?" katanya ramah, tak lupa tersenyum.

Saya kemudian mengatakan apa urusan saya dan dokter mana yang saya tuju. Mas penyambut mengantar saya ke petugas pendaftaran. Soal daftar mendaftar ini selesai tak sampai lima menit.

Sebelum masuk ke ruang konsultasi, saya lebih dulu melapor pada suster jaga di poli yang saya tuju. Suster pula yang bertugas menanyakan urusan saya, mencatat berat badan dan tekanan darah. Hal ini dilakukan guna memberikan keterangan awal pada dokternya. Pertanyaan seperti: "Tadi hujan nggak, Bu, saat ke sini?" dan basa-basi, "Iya, akhir-akhir ini hujan terus ya, Bu." juga melengkapi sesi pra-konsultasi dengan dokter ini.

Biasanya saya tidak terlalu menganggap penting sapaan dan basa-basi suster. Tapi berhubung tadi siang baru merasakan pelayanan di puskesmas, saya jadi mensyukuri sekali kesempatan saya menerima basa-basi yang menyenangkan ini.

Lanjutan ceritanya juga sudah bisa ditebak lah ya. Dokter yang ramah dan menyenangkan, sesekali bercanda agar saya tak terlalu tegang ditanya-tanya mengenai hal-hal yang sifatnya pribadi di ruang periksa.

Saking membekasnya kejadian hari ini, saya sampai cerita panjang lebar ke salah satu teman saya. Lalu jawaban dia membuat saya diam dengan mata berkaca-kaca, "Ya, kamu kan punya pilihan. Mereka yang di puskesmas tadi mungkin nggak bisa bayar segitu cuma sekedar ngobrol sebentar sama dokter dan tebus obat. Jadi diperlakukan nyebelin begitu, diterima aja."

Bisa jadi saya cuma cengeng dan sensitif aja, dijawab ketus oleh petugas registrasi puskesmas tapi dongkolnya nggak ilang-ilang. Tapi coba bayangkan kalau kamu sedang sakit dan nggak punya pilihan tempat berobat. Lalu harus menghadapi petugas puskesmas/rumah sakit semacam itu.

..dan silakan liat berita yang masih terkait dengan Zumi Zola di sini.

Gimana?

Minggu, 12 Februari 2017

Menunggu(i)


Aku berlari-lari di sepanjang ruang tunggu. Ada secercah harapan bahwa masih akan ada kesempatan menemuimu meski tak banyak. Kamu akan menungguku kan? 

Kamu harus.

Di sana kamu, terlihat dari jarak cukup jauh karena lebih tinggi dari kerumunan orang.
Dengan messenger bag abu-abu dan kemeja putih polos. Aku tak ingin norak meneriakkan namamu dan mengundang perhatian orang banyak, tapi kaki-kakiku yang tak biasa berlari ini sudah mulai protes. Nyeri.

"ANAAAAN!" teriakku, menghabiskan energi tersisa memanggilmu. Berhasil, kamu menoleh. Tidak melambai seperti balasan adegan di film-film, kamu berjalan tenang ke arahku.

Aku masih mengatur napas saat kamu sudah di hadapan. Melemparkan pandang menyelidik, "Capek? Habis lari?"

"Sedikit." jawabku.
Bodoh. Tentu aku berlari demi menyusulmu. Pertanyaan macam apa itu?

"Kenapa?"

"Pesawatmu. Penerbangan internasional. Dua jam. Boarding." aku membalas terbata-bata dengan napas yang masih sesak.

"Bodoh." tanggapan singkat, membuat aku mendelik kesal. "Aku kan pasti menunggumu." lanjutmu dengan ekspresi datar, padahal paru-paruku barusan hampir meledak saat mendengarnya.

"Kalau begitu, kenapa pergi?" kulirik paspor dan tiket yang ada di genggaman tanganmu, cemburu.

"Aku bilang, aku akan menunggumu. Bukan menungguimu. Kalau kamu mau ikut, susul aku." balasmu kemudian, meninggalkan satu kecup di kening. "Aku menunggumu."

Tangisku pecah. Kurebahkan diri ke arahmu, menangis sekuatnya diredam bidang dada dan ditemani detakmu yang jelas bagiku. Satu persatu tanganmu terasa mendekap, tangisku belum mau berhenti. "Maafkan aku."

"Kenapa?" tanganmu kini mengusap-usap belakang kepalaku yang masih enggan melepaskan diri dari pelukan.

Di tengah sesenggukan, aku melanjutkan kalimat, "Aku.. tidak.. bilang.. aku.. tidak.. ingin.. kamu.. pergi.."

"Dan aku tidak ingin pergi. Tidak darimu."

Selasa, 07 Februari 2017

Sama Sekali Tidak

Kalau nanti-nanti, aku menjadi terbiasa tanpamu.
Kalau hariku dimulai begitu saja tanpa lebih dulu mengucapkan selamat pagi untukmu.
Kalau sepanjang hariku jadi baik-baik saja bahkan tanpa berucap cinta padamu.
Lalu aku bisa terlelap sebelum bertanya bagaimana harimu berjalan.

Kalau aku sampai di sana.
Aku tidak akan tahu apakah bisa mundur ke belakang.
Lalu menjadikan kehadiranmu penting kembali.
Lalu menganggap kamu adalah bagian yang signifikan.
Aku benar-benar tidak tahu.

Jadi sebaiknya, aku tidak pernah sampai di sana.
Kecuali kamu memang ingin.
Karena aku tidak. Sama sekali.
 

Template by Best Web Hosting